Tampilkan postingan dengan label sekedar opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sekedar opini. Tampilkan semua postingan

08 Desember, 2016

Nyicip Ramen Instan Halal Nissin Mikuya Ramen


 Nissin Mikuya Ramen iya-iya flavor

Udah nyobain Mikuya Ramen dari Nissin? Kemarin saya sempat nyoba, dan worth to try lhooo! Beli Mikuya Ramen rasa saus pedas kedelai hitam ini karena ada promo beli satu gratis satu dari LuLu Supermarket di Cakung, Jakarta Timur. Harganya sekitar Rp 6.000-an aja. Dan jugaaa, kabarnya ini mie buatan lokal (bukan impor) dan di kemasannya sudah berlabel Halal dari MUI.

18 April, 2016

Beberapa Hal Nyebelin di Akun Social Media Path (Plus Solusinya)

Foto: thesocialshop.co.uk

Punya akun sosial media? Pasti ada. Entah Facebook, Instagram, Twitter, Path, atau malah semuanya ada! Hari gini hidup rasanya udah nggak bisa lepas dari kebiasaan jempol yang lagi scroll down timeline. Dengan teman yang beragam, lama-lama secara otomatis kita mulai bisa memetakan siapa yang postingannya imformatif, menarik, lucu, sampai yang bikin sebel dan memicu pengen unfollow! Hahaha. Hayo ngakuuuu!

03 Maret, 2016

Perilaku Aneh dan Nyebelin di Commuter Line pada Jam Sibuk: Curhatan Pengguna KRL :D



Foto: papasemar.com

Tiap hari naik KRL Commuter Line tujuan Bekasi – Jakarta Kota – Bekasi bikin saya cukup familiar dengan beragam tingkah laku penumpangnya. Saat naik kereta, berbagai karakter dan penampilan kita saksikan. Ada yang rapi, wangi, kelimis, sampai yang bau ketek, doyan nyender ataupun suka nyikut. Gak Cuma itu, ada juga perilaku yang aneh dan mengarah ke bikin kesel dan pengen langsung keramas, hahaha. Karena naik kereta adalah perjuangan, diisi dengan orang-orang tangguh yang sigap melindungi dirinya dari hal-hal yang tidak diinginkan. Ihiy.

22 Januari, 2016

Tips Atasi Bosan Saat Menginap di Budget Hotel di Tengah Kota



foto: http://r-ec.bstatic.com

Dengan tarif relatif rendah, nggak heran kalau budget hotel punya fasilitas yang minimalis. Buat sebagian orang, menginap di kamar yang isinya tembok – kasur – tembok lagi dalam intensitas yang tinggi lama-lama bikin jenuh. Tapi ada sedikit tips yang mungkin bisa membantu meredam rasa bosan. Yaa dari yang bosen banget jadi bosen aja lah minimal… hehehe.

16 Desember, 2015

Pakaian Bagus VS Mukena Seadanya

  
Sebagai makhluk mainstream, beberapa bawaan yang haram untuk tidak dibawa antara lain dompet dan handphone. Nggak bawa salah satunya? Hidup langsung bingung. Beda dengan mukena yang tidak selalu dibawa. Prioritasnya seakan ada di bawah, nggak bawa mukena juga nggak apa-apa.

Mungkin alasannya, karena dompet dan handphone adalah benda yang begitu personal. Uang, berbagai kartu, nomor kontak, dan akun chatting yang selalu aktif. Hmm, jadi agak lupa kalau mukena sebetulnya punya sifat yang jauh lebih pribadi. Itu ibadahmu, kepada Tuhanmu, sumber kehidupanmu.

29 Juli, 2015

Ironi Masa Orientasi Siswa (MOS): Dari Orientasi Hingga Ajang Bully




Di awal tahun ajaran baru, rasanya sudah seperti pemandangan standar di jalanan pada pagi hari:
Ngeliat anak sekolah pake atribut nggak jelas. Rambut dikuncir-kuncir. Yang berkerudung pake pita-pita. Tas dari kardus atau karung, topi dari bola, kaos kaki bola warna warni. Belum lagi berbagai jenis makanan dan tentengan yang harus dibawa. Sekali lagi, HARUS.
.
Asli, gue, eh saya, malu banget nyeritainnya. Entah untuk yang terlibat di dalamnya juga malu, atau malah kocak sendiri inget jaman dulu.

10 Juli, 2015

Gokana Teppan: Ketika Service, Sopan dan Senyum Mutlak Perlu




Pulang kantor di suatu sore, saya semangat banget mau berbuka puasa bersama divisi kerja. Kami pilih lokasi dekat kantor, yaitu Gokana Teppan di Mall Atrium Senen. Bayang-bayang ramen berkuah gurih dan pedeshhh, juga nasi bento yang enyak dan ngenyangin, akh pasti enak. Padahal ini pertama kalinya saya ke Gokana Teppan.
 .

Ternyata, (entah di bulan Ramadan pas jam buka puasa aja atau berlaku setiap hari), kursi akan diberikan HANYA KALAU orangnya sudah tiba di restoran. Dateng berdua untuk kemudian makan ber 8, ya dikasih 2 kursi dulu. Yang 6 baru dipastikan dapat duduk kalo orangnya udah sampai.  Jadi kami datang ber 7, dan akan ada 2 orang lagi yang bergabung tapi belum datang. Hmm, pelayannya tidak senyum dan menjelaskannya dengan jutek. Okelah, mungkin mbaknya capek karena lagi puasa.

17 Juni, 2015

Pakai Rok, Dari yang Sekali-sekali Sampai Jadi Tiap Hari


Saya berkuliah di mana skinny jeans dan kaos distro adalah syarat keren pada masanya. Saat itu badan saya (masih) kurus, pake skinny jeans dan kaos lengan pendek terasa bagus. Kemudian selera beralih menjadi kaos ukuran besar, tapi dengan bawahan tetap skinny jeans.  Saat memutuskan untuk berjilbab tahun 2010, jeans tetep jadi andalan. Iyalah, karena celana jeans menganut asas sarung cap gajah duduk, resmi bisa santai bisa. Saya miskin edukasi tentang bagaimana menutup aurat dengan cara yang lebih baik. Termasuk juga rok panjang, akh, apa itu rok panjang? Bikin ribet doang.

Suatu saat, saya merasa badan tampak lebih sehat. Errr, gemuk maksudnya. Pake jeans jelas bukan lagi opsi yang oke, berhubung badan kerasa eungap, sesek, sempit. Nyeplak badan banget deh. Akhirnya saya nemu solusi: pake rok! Jelas rok nggak mencetak tubuh. Yeay! Intensitasnya masih jarang sih. Waktu masih jadi anak Salemba dan Depok, mungkin 2 sampai 3 kali aja seminggu. Sisanya ya tetep jeans dong kakak.  

29 Maret, 2015

Ironi Car Free Day, Tumpah Ruah Kepentingan di Seruas Jalan


Car Free Day, atau populer disingkat CFD sudah jadi area massa yang kian digemari. CFD menjadi alasan mengapa akhir pekan tak sulit lagi untuk bangun pagi. Motivasinya bervariasi, ada yang mau lari, bulutangkis, quality time dengan keluarga dan teman, butuh area segar, mau bersepeda, nongkrong aja, ataupun dalam rangka cari tambahan uang, atau malah terhitung shift masuk kerja.

The Jakarta Post (09/2014) mencatat jika ada lebih dari 100.000 orang tumpah ruah di jalanan Sudirman Thamrin pada kegiatan CFD. Itu tahun 2014, angkanya bisa jauh lebih tinggi dari itu. Apalagi, di Indonesia, CFD ini hits sekali. Sejumlah kota besar menjadikan CFD jadi rutinitas. Coba ketik ‘Car Free Day’ di mesin pencari Google, artikel, foto maupun hashtag tentang Car Free Day di Indonesia tampak paling ramai. 

03 Desember, 2014

Bikin Usaha Online Shop, Ini Dia Beberapa yang Harus Dihindari

Sebagai orang yang sesekali belanja online, tentu saya punya opini dan kesan tersendiri. Apalagi zamannya kuliah pasca, saya juga sempat nyoba jualan binder online walopun sekarang lagi off dulu. Pendapatannya lumayan bangets dengan modal tenaga dan biaya 0 Rupiah! Nah dari situ, saya mulai belajar deh tuh mengenali siapa market saya, karakter umumnya gimana, serta Do and Dont’s yang harus diperhatiin. Tentunya ini postingan bukan hasil copas/repost, karena saya mikir sendiri sodara sodaraaa! Ini dia:


19 November, 2014

Karena Curhatan Adalah Doa

.
Ada seorang teman, tidak terlalu akrab, tapi cukup sering berbagi pikiran. Suatu malam, saya duduk di sampingnya, dan menduduki status sebagai gadis yang sedang nebeng pulang karena arah rumah searah. Obrolan kita tak jauh dari rasa tidak aman mengenai Tesis. Kami khawatir akan Tesis yang tak kunjung selesai dan rasanya mampet. Kami takut kalau harus menghadapi kemungkinan terburuk, tidak bisa lulus di semester 4. Lebih lanjut lagi, kami tak bisa membayangkan kalau harus membayar semester 5 yang belasan juta itu, (hanya) karena ketidakmampuan kami menyelesaikan Tesis tepat waktu (sementara yang lain bisa).

Beberapa bulan kemudian, kami berdua lulus dan wisuda di hari yang sama.

Dengan lawan bicara yang sama, sempat juga kami berbagi soal proyeksi dan keinginan dalam sektor karir. Kami yang masih hijau dan belum banyak mengenyam pengalaman kerja ngiler dengan banyak teman lain yang tampak sudah lebih matang karirnya. Apalagi, dinas di luar kota bahkan luar negeri yang tampaknya begitu menggiurkan. Rasanya wow sekali bisa menjelajah suatu tempat tanpa keluar biaya, dan mengalokasikan 70% waktu untuk kerja dan sisanya untuk cari pengalaman baru di wilayah orang.

Beberapa bulan kemudian, saya bekerja di sebuah institusi yang punya ciri ‘kantoran banget’. Baju rapi, masuk setengah delapan pagi. Kantor ini mengharuskan saya terbang ke sebuah Kabupaten di Sumatera Selatan. Lebih lanjut lagi, kini saya intens melakukan perjalanan dinas dengan waktu dan jarak tempuh yang lumayan menyita waktu dan tenaga. Menghadapi orang-orang ‘lapangan’, bahkan ikut ‘main-main’ di lapangan. Akhirnya bisa tahu bagaimana ‘rasa’-nya. 

Well, karena kalimat adalah doa, bukan? 
.

17 September, 2014

……. Ternyata Kita Lebih Butuh Didengar


Bercerita adalah bagian dari penyampaian rasa. Kita mencari-cari untuk tahu, lalu butuh telinga orang lain untuk mau mendengar takjub, kesal, ataupun bunga bahagia. Pun dengan kalimat tanya di kepala. Selain untuk mencari jawaban, bercerita dan mengajukan tanya sebetulnya dilakukan sebagai aksi melarikan diri. Dari apa? Dari gelombang tanya dan emosi yang terus menggelembung di otak dan hati.

Terjawab? Belum tentu. Bertanya bukan semata untuk mencari jawaban dari paradigma orang. Pada akhirnya, Kenapa, Bagaimana, dan kok bisa sih? Akan terjawab dengan alamiah. Bukan dicetuskan dari kepala orang lain, melainkan kita sendiri yang punya jawaban. Oke, secara lebih rinci, bercerita membantu kita membuka dan mengurai benang di kepala. Benang itu awalnya terurai baik, namun akhirnya berputar kusut karena diprovokasi amarah, emosi dan prasangka buruk.
.
Begini mekanismenya. Saat bercerita, kita punya kewajiban untuk membuat lawan bicara mengerti dan mencerna kalimat kita dengan baik. Dengan begitu, kita akhirnya membuat pemetaan di kepala, agar cerita yang disampaikan bisa runut dan tersampaikan jelas. Seiring dengan lontaran kalimat, akhirnya yang kusutpun terurai, dan berujung pada apa yang kita cari. Korelasi masalah, sebab akibat, spekulasi yang lebih logis, dan akhirnya: solusi. Lawan bicarapun sifatnya hanya ‘memfasilitasi’.
.
Masalah lain adalah, bagaimana mencari, atau menjadi pendengar yang baik? Oke. Menurut saya, berhenti berusaha tampak pintar, ataupun member saran yang sebetulnya kita nggak paham-paham amat maksudnya bagaimana. Kadang, orang mumet hanya butuh pertanyaan sederhana yang ringan. Nah, yang ringan dan sederhana itu yang justru sering ‘membangunkan’ seseorang dari kalut dan bingung nya. Menjadi pendengar yang baik berarti bisa meresapi, juga memaknai cerita.

Konklusinya: sebetulnya kamu tahu jawaban masalahmu. Hanya nggak mau benar-benar mendengar.


17 September 2014, Tanjung Enim, Palembang, Sumatera Selatan. 
Ditulis oleh seorang perempuan muda, sebut saja ‘Bunga’

14 Juli, 2014

Ngubek UI: Fakta Seru Tentang Perpustakaan Pusat Universitas Indonesia

Hola universe! Ceritanya postingan ini dibuat untuk mengabadikan salah satu tempat di Universitas Indonesia Depok yang paling sering saya datengin 6 bulan belakangan. Semenjak ngerjain tesis dan resign dari kerjaan, perpus UI emang jadi spot andalan buat mengurai kegalauan *tsah. Sampe akhirnya, Juni 2014 dinyatakan lulus, Alhamdulillah.

Walopun judulnya perpus UI, tapi nggak semua mahasiswa UI pernah atau kenal perpus ini lho. Beberapa teman bahkan ada yang belum pernah nginjek perpus UI, dan baru tahu di akhir-akhir perkuliahan karena ada surat yang harus diurus. Maklum, kampus kita di Salemba, dan perpus pusatnya ada di Depok.

Foto: http://kajianeropa.pps.ui.ac.id/

Ohya, tulisan ini berasal dari sudut pandang eike loh ya. Beklaahhh, mari kita mulai fakta-faktanya:

1. Perpus pusat UI masuk ke dalam salah satu gedung perpustakaan di dunia! Luasnya 2,5 hektar dan punya total 7 lantai. Buku nya mencapai 5 juta buku, dan jumlah ini masih akan terus nambah. Daya tampungnya sekitar 20.000 pengunjung/hari

2. Perpustakaan ini mengusung filosofi Crystal of Knowledge, dan dibangun dengan konsep green campus. Bentuk bangunannya berorientasi pada pemanfatan lahan hijau sebagai penopang kokoh di sekeliling gedung. Sistem pendinginnya menggunakan water cooled chiller yang ramah lingkungan dan anti ozone

3. Fasilitasnya lumayan lengkap. Indomaret, Starbucks, bank BNI, toko buku, tour&travel, kantor pos, aneka restoran, semua ada. Toilet juga tersedia di tiap-tiap lantainya (berdasarkan pengalaman, cuma beberapa aja yang ada sabun nya dan nggak ada tisu). Minusnya: fasilitas Mushola nya memble abis. Gedung sebesar dan se-megah itu cuma punya 1 ruangan sholat sekitar 7x7 meter  yang pengap dan lembab, dan khusus perempuan aja!

4. Perpustakaan terbuka buat mahasiswa dan pengunjung non UI. Buat pengunjung diluar lingkungan UI, bisa daftar di loket khusus dan bayar Rp 5.000. Hanya bisa baca/fotokopi di tempat, nggak bisa pinjam dan dibawa pulang. Analisa lapangan: asal pede dan nggak terlihat sebagai nubie, sebenernya masuk ya masuk aja, nggak usah daftar juga nggak keliatan. Hehehe. *tips tidak patut diikuti*

pintu masuk perpustakan

5. Kalo berniat masuk ke ruang baca/koleksi buku, pengunjung nggak boleh bawa tas dan harus menitipkannya di locker. Nahh, petugas lockernya ini kalo diperhatiin mirip banget sama Mongol, Stand Up Comedian asal Manado itu! Bapaknya ramah dan baiiik….

6. Sinyal hempon di sini kurang joss. Apalagi WiFi nya yang tipis dan nggak bisa diandelin.

7. Pastikan batre gadget aman dan penuh sebelum ke sini. Kenapa? Karena sinyal yang kurang baik akan memakan daya baterai. Selain itu, di ruang koleksi buku/karya ilmiah/jurnal, SUSAH BANGET NEMU COLOKAN LISTRIK! Jadi tips saya, kalo mau stay di ruang koleksi buku dan batre laptop nggak penuh, carilah colokan listrik dulu sebelum nyari buku! Biasanya ada di beberapa tembok dan tiang. Ada juga di belakang-belakang sofa. Ahahahha, apal yaaa.

8. Pilihan area duduknya banyak. Ada ruang baca yang tenang dan dilengkapi colokan listrik di seberang ruang koleksi buku. Jadi bisa buku-bukunya dipinjam dulu, kemudian dibawa ke ruang baca. Ada juga ruang diskusi yang lebih terbuka. Lokasinya ada di ujung tengah, antara ruang baca dan ruang koleksi. Colokan tersedia banyak, duduknya bisa rame-rame dan boleh berisik. Jangan kaget kalo tiba-tiba sederetan meja udah dibooking sama sekelompok mahasiswa yang maen Country Strike ataupun gerombolan cewek-cewek gosip haha hihi dengan hamparan makanan di meja.

Tampilan ruang belajar. Tersedia di lantai 2,3 dan 4

Perpustakaan lantai 2 



9. Koleksi bukunya cihuy-cihuy banget! Buku yang baru dirilis, sampe buku yang udah sepuh, kertasnya lembab dan bentuknya unik juga ada! Hampir semua tema tersedia.

10. Hemat waktu dengan mencari tahu lebih dulu buku-buku yang pengen dipinjem. Tinggal buka www.lib.ui.ac.id, semua buku yang dicari bisa dilihat ketersediaannya, dan bisa langsung dicatat nomor panggilnya. Jadi begitu sampe perpus udah tahu, buku nomer berapa aja yang dicari.

11. Harus teliti saat nyari buku. Pengunjung perpus seringkali naro koleksi buku secara asal, nggak berdasarkan nomer urut. Nah, akibatnya, letak buku jadi nggak urut dan jadi sulit dicari. Ini karena pengunjung diminta untuk kembaliin buku-buku yang diambil sendiri. Misalnya satu mahasiswa ambil 6 buku dari rak berbeda. Apa iya dia bener-bener mau kembaliin buku di tempat persisnya? Nah, gimana kalo hal yang sama juga dilakukan oleh, hmm, taruhlah 30% dari total pengunjung?

12. Ada tukang fotokopi di lantai 2 dan 3. Saya pernah mau fotokopi tesis di lantai 3 karna baterai gadget abis (biasanya sih difoto). Per lembarnya berapa, sodara? Rp 1000 aja gituh. *bangkrut

13. Lagu-lagu daerah diputer di sini. Sekitar 30 menit menjelang waktu tutup, lagu-lagu tradisional bakal mengalun merdu. Ini keren, lho!

14. Mayoritas pengunjung perpus pusat UI bakal mampir dulu buat duduk-duduk di pinggir danau di depannya. Tentu sambil foto-foto. Fotonya foto selfie. IHIY!

........dan seabreg foto-foto eike di depan perpus lainnya :))

15. To be continued…. *pasti bakal nambah seus. Yang mau nambahin, sok! :)))

16 April, 2014

Pasangan Juga Bisa Jadi Sahabat, Beneran Nggak Sih?


Postingan ini sebenernya sekaligus jadi media saya untuk menjawab pertanyaan yang seliweran di otak dan datengnya tiba-tiba aja. Gara-garanya saya ngobrol-ngobrol sama salah satu sahabat. Durasinya nggak lama, kejadiannya jarang, tempatnyapun selalu alakadarnya. Tapi, obrolan kita selalu membekas. Ihiy!

Kemudian kita pisah, saya pulang, dan ngelakuin banyak hal termasuk whatsapp-an sama AF as usual. Kemudian tercetuslah satu pernyataan. “Asik banget yah kalo pasangan itu sekaligus bisa jadi sahabat”, kata saya. Kemudian dibalas kira-kira begini sama AF, “Lho, ya itu harus lah. Masa sampe enggak?”. Dan berlanjutlah kemudian.

Flo: Bagusnya tentu begitu, tapi nggak selalu bisa begitu tau
AF: Ya nggak boleh ada yang ditutup-tutupin dong
Flo: Iya, tapi realitanya, susah banget loh

Kadang percakapan berjalan begini:

Flo: Ih aku pengen deh bla bla bla bla bla bla bla bla bla kayaknya seru banget ya bisa bla bla bla bla bla bla bla bla bla nanti aku mau ah begitu bla bla bla bla bla bla
AF: Hmm, iya, bisa tuh

*lalu obrolan selesai *krik krik krik *bedakan pake sagu

Etapi nggak berhenti sampai di situ. Pertanyaan “gimana caranya ya, pasangan bisa jadi sahabat juga?” terus muter di kepala. Gimana bisa? Mari kita rinci alasannya *muka serius*


1. Sahabat bertugas untuk mendengar. Mayoritas aktivitasnya adalah menyiapkan telinga sebaik mungkin. Pasangan tidak mungkin bisa hanya mendengar, ia pasti lebih sigap berpendapat. Pasangan punya ekspektasi dan harapan tentang apa yang kita ceritakan, yang sedikit banyak juga mempengaruhi hubungan.

2. Minimnya ekspektasi dari sahabat bisa bikin kita ngomong lebih jujur, blak-blakan, apa adanya. Sebaliknya, sama pasangan, meski tetep bisa blak-blakan, tapi kita justru lebih kontrol intonasi dan pemilihan kalimat, bahkan detail cerita. Ada perasaan yang harus dijaga, bung! Bedanya juga, kita lebih memilih topik saat sama sahabat, apalagi yang ketemunya jarang-jarang. Kita cenderung hanya akan menceritakan sesuatu yang menarik, dan ‘wow’, menimbulkan antusiasme tersendiri. Dengan pasangan cenderung ngomongin apa aja, suka nggak suka, ngerti nggak ngerti, semua diomongin.

3. Ada label berbeda antara keduanya. Dengan pasangan, kita adalah individu sekaligus pasangan, calon isteri/suami, dan buat yang udah nikah, ia adalah suami/isteri, ia adalah ayah/ibu, ia adalah menantu, dsb. Ada pakem dan cap. Sementara di mata sahabat, elo dilihat sebagaimana individu. Sebagaimana elo aja.



Well, itu sih yang saya rasain. Buat saya, sahabat itu adalah ketika kita udah bener-bener nggak ragu bertanya, bercerita, berpendapat tentang apapun. APAPUN. Lebih jauh lagi, sahabat adalah orang yang membantu saya mengurai isi pikiran dan hati. Mungkin kalimat saya terdengar agak dangdut ya. Tapi, berapa banyak sih orang di sekeliling kita yang mengajak kita bicara tentang apa yang ada di ‘dalam’ dan melupakan sejenak hiruk pikuk di sekeliling?

Eits, ini maksudnya bukan mau mengecilkan peran pasangan ya. Tapi jelas, kan, kalo pasangan dan sahabat punya wilayah masing-masing di hati. Sama-sama penting, fungsinya mirip, tapi nggak identik. Tapi tentu saya juga nggak lantas pesimis kalo pasangan itu bisa jadi sahabat, bukan ‘sekedar’ teman hidup. Saya banyak belajar dari lingkungan, banyak orang yang nggak bisa tertawa dan bicara se-lepas ketika dia lagi sama sahabatnya. Iyess, saya emang belom nikah, tapi ya boleh kan ya siap-siap hihihi. *ceileh ploooo*

Jadi menurut pakar pernikahan berlisensi bernama tante Corey dalam artikelnya berjudul "should your spouse be your best friend", semakin kita berjalan di sebuah hubungan, semakin kita menjauh dari hal-hal yang sering kita lakukan sebelum kita ketemu si pasangan. Kemudian larut dalam ekspektasi tentang hidup dan masa depan yang akan dijalani bareng. Okei, mungkin nggak mudah, tapi bukan mustahil juga, kan :) 


As you began spending more time together and getting to know one another, you likely had less time to engage in the things you were doing before you met. Some couples go so far as to completely give up everything they previously found fulfilling and important in order to spend time together. The problem with this is, as you became fused you became more and more dependent on each other to meet your individual needs


07 April, 2014

Tips Aman & Asik Naik KRL Commuter Line Untuk Perempuan



Muak sama macetnya Jakarta? Iyes, saya juga! Sebagai wanita yang pro angkutan umum (walopun gak nolak juga naik kendaraan pribadi yess.hihi), saya akrab dengan aneka jenis angkutan umum ibukota. Dari bus kota, kopaja, metro mini, ojeg, angkot, dan kereta api! Yang terakhir ini yang paling sering saya naikin. Yang kini paling masuk akal untuk menembus jalanan ibukota, atau kemanapun! Ke Tangerang, ke Bogor, ke Serpong, gak masalah deh asal ada jalur kereta api nya! Bahkan seringkali saat naik kendaraan pribadi dan kena macet, saya sering mikir… “wah, ini kalo naik KRL udah nyampe nih…”

Sebagai cewek yang udah sekitar 5 tahun belakangan naik kereta api Jabodetabek, saya punya beberapa tips nih. Mudah-mudahan tipsnya diluar mainstream ya. Saya nggak akan menyarankan para mbak-mbak untuk naik gerbong khusus perempuan. Saran itu terlalu biasa *hazeg. Ada lho beberapa hal yang perlu diperhatiin supaya bisa naik kereta api dengan asik dan nyusahin diri sendiri. Mari disimaaak!



Naik kereta yang padatnya ampun-ampunan:

-        Berdiri di deket ibu-ibu atau mbak-mbak. Gak usah kekeuh masuk dan berhimpitan sama mas-mas, apalagi bapak-bapak. Apalagi lawan jenisnya keringetan dan gak rapi. Sebaiknya dijauhi. Kebayang nggak sih puluhan menit ke depan kita harus nempel sama lawan jenis, penampilannya (baca: aromanya) gak asik pula?

-          Kalau ada celah ke tengah, mendingan geser! Saat kereta penuh padat dan ngepres, tempat yang masih lumayan enak untuk berdiri adalah di depan penumpang duduk. Setidaknya kita masih bisa lihat pemandangan, baca buku, main Plant VS Zombie, ngeliatin orang tidur sambil mangap, ataupun dadah-dadah sama penumpang yang nggak bisa masuk. Itu jauh lebih asik dibanding berdiri berhadap-hadapan mas-mas berbulu hidung panjang, atau malah diketekin ama orang. *nasip jadi orang pendek ya*

-          Gak usah maksa masuk, deh. Di saat jam sibuk seperti pagi atau sore, jadwal kereta umumnya lebih sering. Misalnya ada pengumuman di Stasiun kalau kereta ke tujuan kita, misalnya Bogor, sudah hampir tiba. Tapi pasang kuping lagi, biasanya disebutkan juga kereta selanjutnya dengan tujuan Bogor sudah berada di mana. Misalnya posisi kita di Stasiun Cikini dan kondisi KA arah Bogor udah penuh banget, sementara announcer bilang kalau kereta selanjutnya udah di Juanda dan Mangga Besar. Udah, gak usah maksain. Tunggu aja bentar. Percayalah, maksa naik kereta yang penuhnya ampun-ampunan itu menyiksa diri sendiri. Badan sakit sis! *pengalaman




Nah, gimana kalau naik kereta yang belum/gak begitu rame?

-          Tentu ini yang selalu diharepin para penumpang, ya. Siapa juga sih kecuali copet yang mau naik kereta yang penuhnya nauzubillah? Nah, usahakan untuk berdiri di bagian tengah. Apalagi kalau Anda di jam pulang kantor dan masih di stasiun-stasiun awal, misalnya Jakarta Kota di mana penumpang belum terlalu sesak. Berdiri di tengah! Jangan kaget kalau tahu-tahu di Manggarai dan Jatinegara tiba-tiba penumpang yang masuk langsung sekaligus banyak, sementara Anda justru berdiri dekat pintu!

-          Berdiri di area tengah juga ada keuntungannya, lho. Kalau ada yang berdiri, kita-lah yang punya kemungkinan besar untuk dapet duduk! Iyes, karena hidup adalah kompetisi, begitu juga dengan duduk di KRL. Elo cepet, elo dapet! Eh tapi usahakan untuk nengok kiri-kanan dulu yah sebelum duduk. Kan kasihan kalau ternyata ada orang tua, lansia, atau orang bawa anak yang masih berdiri.

-          Tempat duduk masih tersedia banyak? Duduklah di bagian tengah! Yaks, lagi-lagi bagian tengah! Ide ini sih dicetuskan seorang teman: “kalau kondisi ngantuk banget, capek bgt, pasti pengennya dapet duduk. Nah, pilih duduk di bagian tengah biar gak diminta berdiri, jangan pinggir. Karena biasanya di stasiun-stasiun selanjutnya kereta makin penuh. Orang cenderung langsung ngedeketin bangku pinggir untuk minta duduk”.

-          Kalau biasanya pas weekdays kereta dipenuhi orang berangkat dan pulang kerja, beda lagi kalo weekend. Banyak ABG, ibu-ibu yang ke tanah abang, juga ibu-ibu yang bawa anak balita yang nakalnya kadang-kadang gak masuk akal. Biasanya, mereka cenderung bergerombol di dekat pintu masuk/gerbong-gerbong awal kereta. Nahh, kalau nggak pengen pusing, naiklah di gerbong-gerbong selanjutnya. Eh tapi ini gak sahih ya. Siapa yang tahu kalau di stasiun selanjutnya ada segerombolan cabe-cabean naik dan jadi berisik banget. Itu lagi nggak hoki berarti. Hihihihi.


Tips lanjutan:
-          Kalau berencana naik KRL dengan baju lengan buntung, plis, bulu keteknya dicukur dulu, plis. Kita nggak tahu kan kalo ternyata kereta rame banget dan harus pegangan ke handle di atas? Mbaknya, itu adalah bentuk pencemaran, lho….
-          Hindari pakai baju merecet, rok mini ataupun baju dengan belahan dada rendah, apalagi kalo kita gampang risih dan nggak seneng diliatin orang dengan pandangan aneh.
-          Kalau masih ada space, taruh tas di bagian atas. Berat sis kalo ditenteng terus. Apalagi kalau kondisi kereta ramai. Etapi harus tetep waspada ya, tasnya diawasi terus.


Gimana? Cukup berguna? Mari sama-sama berdoa supaya perkeretaapian Indonesia, khususnya di Jabodetabek bisa lebih baik lagi. AC nya nyala beneran, bukan angin tanpa harapan, armadanya diperbanyak dan dipersering, dan aneka gangguan bisa diminimalisir. Aaaaminnn. *Salim sama pak Jonan*

12 Januari, 2014

Office Flirting dan Kecenderungan Untuk Ganjen


Tempo hari, saya ngobrol bareng beberapa teman perempuan. Topiknya nggak jauh-jauh dari soal asmara dan kerjaan, yang akhirnya bermuara pada cerita masing-masing tentang ‘asmara di kerjaan’. Benang merahnya adalah, pria yang punya jabatan yang sudah aman dan mapan, dengan usia sekitar late thirty, sudah punya anak usia sekolah, cenderung “suka tantangan”, lebih ganjen dan bermulut bahaya. Apa tuh maksudnya ‘bermulut bahaya’? Bisa diartikan sebagai celetukan-celetukan semacam kode, yang sebenernya dianggap lucu, seru, segar, tapi substansinya agak ngeri, yaitu perselingkuhan. Biasanya dilontarkan pada orang-orang deket, misalnya sama tim sendiri, teman satu lini, ataupun geng makan siang bareng.


“Ahh, itu sih obrolan standar. Kadang-kadang mulut orang di kantor itu kejam-kejam. Gara-gara stress di kantor kali ya,” kata si A. Bahkan B cerita, bos nya secara terang-terangan punya beberapa ‘cem-ceman’. Cewek-cewek 'terpilih' ini sering disamperin, digodain, dan diiming-imingi. Ada yang menanggapi dengan santai dan senyum-senyum aja tanpa menanggapi serius, ada juga yang ikut ketawa-ketawa ganjen digituin bosnya. “Sialan banget itu laki-laki. Kantor istrinya Cuma beda 2 lantai, lho!”, kata B berapi-api.



Hal ini (sayangnya sudah) dianggap biasa. Becandaan nakal soal orang ketiga udah kayak bumbu standar di lingkungan kantoran. Kalau dulu saya menangkap, biasanya model bercandaan begini ya di lingkungan satu gender yang seusia dan sangat akrab, nah kalau di kantor, lingkupnya jadi jauh lebih luas dan nggak segan dilontarkan di kelompok dengan usia bervariasi. Awal-awal, saya ngerasa terganggu banget. Sampai pada akhirnya saya menyimpulkan kalau sikap ganjen itu bukan lagi sesuatu yang ngagetin di kantor. *sigh







Hmm, sebuah penelitian di Inggris sih menyimpulkan, kalau ganjen-ganjenan di kantor itu nggak usah dianggap serius. Biasanya pria di kantor berperilaku begitu untuk meningkatkan kepercayaan diri, ataupun sebagai hiburan dan pelarian dari rasa stress. Ganjen juga seringkali jadi cara untuk mengakrabkan diri dan tidak serta-merta bisa dihubungkan dengan sesuatu yang lebih serius, misalnya perselingkuhan.  Tapi yaaa… sebagai cewek, sebel juga kali yahh kalau pasangannya ganjen di kantor :(




--

Selain ‘ganjen’, ada juga fenomena lain. Yaitu, naksir.

Bedanya ‘ditaksir’, adalah biasanya caranya lebih smooth. Kalau ‘ganjen’ diasosiasikan dengan cara-cara mendekati dengan cara kotor dan frontal, naksir justru lebih halus dan pakai hati. Enggak pakai rayuan basi, tapi lebih ke perhatian-perhatian dan ngasih hal kecil yang kadang-kadang nggak kepikiran, ataupun mengatasnamakan pekerjaan.



“Padahal dia itu punya sekretaris. Tapi kemana-mana, gue yang disuruh ngedampingin. Gue bahkan pernah dimarahin gara-gara gak bawa handphone ke ruangan sebelah dan enggak ada kabar. Gila yah, ini bos posesifnya ngelebihin pacar!” curhat A. 


C pun cerita pengalaman di kantornya.

“Sering tuh, tiba-tiba OB nganterin makanan ke meja gue dan nggak mau ngasih tau siapa yang bawain. Tapi tiba-tiba ada Yahoo Messenger, isinya ‘soto nya enak, kan?’. Atau tiba-tiba udah nungguin gue di parkiran mal tempat gue meeting. Alasannya sih dia juga ada urusan di mal yang sama. Waktu dia abis liburan ke Thailand, dia nitipin oleh-oleh satu tas di resepsionis. Atau pernah juga, tau-tau dia nelfon udah deket rumah gue dan minta ditemenin ngopi”, jelas C.


“Eh gila yah, kalo yang begitu cowok single, gue udah klepek-klepek kali. Tapi kalo kasusnya begini, yang ada gue malah jantungan, merinding, ngebayangin muka anak istrinya. Sikap gue padahal udah se-wajar mungkin, tapi kadang kerjaan memang bikin kita jadi sering bareng. Duh, tipis ya bedanya akrab sama ngasih kesempatan,” tambah B.



Hmm, saya jadi inget sebuah film, judulnya Talhotblond. Gak persis sih, tapi lumayan bisa menjelaskan. Diangkat dari kisah nyata, menceritakan tentang Thomas Montgomery, family man usia 47 tahun yang punya dua anak perempuan usia remaja dan seorang istri. Di tahun ke 17 pernikahannya, hidupnya terasa flat, kurang greget, nggak ada lagi perasaan yang meletup-letup. Semuanya terasa datar. Ia mulai bosan.


 

Sampai suatu hari, Thomas chatting dengan seorang cewek yang tinggal di kota berbeda. Usia si cewek (Jessi) 18 tahun, dan saat chatting, Thomas mengaku usianya 21 tahun dan seorang tentara di kawasan perang. Obrolan mereka di dunia maya berlangsung intens sampai 1 tahun, dan Thomas betul-betul pakai hati dan begitu menganggap Jessi bagian dari hidupnya. 


Thomas merasa hidupnya kembali bergairah, merasa kembali ada percikan cinta, hati yang bergejolak, rasa kangen yang amat sangat setiap kali kontak dengan Jessi. Thomas merasa jadi ‘cowok banget’, kembali berdebar-debar, begitu dihargai, cinta keduanya (terasa) begitu kuat. Ada adrenalin rush, meski semuanya sebatas asmara di telepon dan chatting di internet.



Mungkin itu bisa menggambarkan, kenapa pria di usia matang dan mapan sering diistilahkan punya fase ‘puber kedua’. Ada sesuatu yang hilang, hidup terasa datar dengan rutinitas, kurang greget. Dan selain rumah, kantor adalah tempat ke dua di mana kita menghabiskan sebagian waktu dan hidup.


--

“Naudzubillahimindzalik deh kalau suami gue nantinya bakal kayak gitu. Semoga gue dapet jodoh yang omongan dan hati nya terjaga ya….”, kata C. 


“Jangan lupa, jaga badan, jaga otak juga. Jangan sampe kita sibuk ngurus anak jadi kurang pergaulan, penampilan gak menarik, gak update, gak bisa diajak diskusi dan malah jadi cewek yang membosankan. Ini PR banget nih buat kita-kita perempuan,” jelas B. 


Lalu A nyeletuk. “Terus, kalo kita udah kece luar dalem, eh suami nya tetep gatel, mulut sama kelakuannya nggak dijaga di luaran, gimana?”


“Aaaahhh lo gitu aaaah!!! Jangan sampeeee……!”


Sumber foto: foto 1, foto 2, foto 3