Tampilkan postingan dengan label Thoughts. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Thoughts. Tampilkan semua postingan

19 November, 2014

Karena Curhatan Adalah Doa

.
Ada seorang teman, tidak terlalu akrab, tapi cukup sering berbagi pikiran. Suatu malam, saya duduk di sampingnya, dan menduduki status sebagai gadis yang sedang nebeng pulang karena arah rumah searah. Obrolan kita tak jauh dari rasa tidak aman mengenai Tesis. Kami khawatir akan Tesis yang tak kunjung selesai dan rasanya mampet. Kami takut kalau harus menghadapi kemungkinan terburuk, tidak bisa lulus di semester 4. Lebih lanjut lagi, kami tak bisa membayangkan kalau harus membayar semester 5 yang belasan juta itu, (hanya) karena ketidakmampuan kami menyelesaikan Tesis tepat waktu (sementara yang lain bisa).

Beberapa bulan kemudian, kami berdua lulus dan wisuda di hari yang sama.

Dengan lawan bicara yang sama, sempat juga kami berbagi soal proyeksi dan keinginan dalam sektor karir. Kami yang masih hijau dan belum banyak mengenyam pengalaman kerja ngiler dengan banyak teman lain yang tampak sudah lebih matang karirnya. Apalagi, dinas di luar kota bahkan luar negeri yang tampaknya begitu menggiurkan. Rasanya wow sekali bisa menjelajah suatu tempat tanpa keluar biaya, dan mengalokasikan 70% waktu untuk kerja dan sisanya untuk cari pengalaman baru di wilayah orang.

Beberapa bulan kemudian, saya bekerja di sebuah institusi yang punya ciri ‘kantoran banget’. Baju rapi, masuk setengah delapan pagi. Kantor ini mengharuskan saya terbang ke sebuah Kabupaten di Sumatera Selatan. Lebih lanjut lagi, kini saya intens melakukan perjalanan dinas dengan waktu dan jarak tempuh yang lumayan menyita waktu dan tenaga. Menghadapi orang-orang ‘lapangan’, bahkan ikut ‘main-main’ di lapangan. Akhirnya bisa tahu bagaimana ‘rasa’-nya. 

Well, karena kalimat adalah doa, bukan? 
.

20 Oktober, 2014

Pertemuan dan Anak Tangga

Ada terlalu banyak alasan mengapa kita wajib bersyukur pada Sang Pencipta.  Termasuk adalah pertemuan-pertemuan. Salah satu yang paling wow, ihiy dan joss adalah pertemuan dengan Af.
.
Kami diperkenalkan melalui ‘jasa’ seorang teman yang mengenal kami berdua. Dari awal perkenalan, yang saya tahu Af adalah orang yang paling antusias mendengar cerita-cerita saya, dan sampai saat inipun masih tetap begitu. Af adalah orang paling kepo sejagad Bekasi raya. Dan kepo itu akhirnya menular, hingga berubah menjadi kita yang sama-sama mencari tahu. Hmm, tempe juga sih. Enak pake sambel. *Ih ih jayus ihhh*
.
Saat itu, kami sedang berdiri di atas anak tangga yang sama. Sedang menyelesaikan tugas akhir kuliah Pasca. Lebih rinci lagi, kami adalah 2 mahasiswa yang sedang resah-resahnya karena kepingin cepet lulus dan Tesis kelar.

Pada saat itu, kami juga sama-sama terjangkit tongpis. Kantong tipis. Typical mahasiswa yang satu bergantung pada tabungan hasil 2 tahun bekerja, dan satu lagi dari upaya jual beli hal-hal berbau hardware untuk meminimalisir ketergantungan akan transferan orang tua.

Secara pribadi, saat itu kita tidak punya daya berlebihan untuk menyenangkan satu sama lain secara materi. Namun ada hal lain yang berperan sebagai perekat, yaitu: saling memberi semangat.

Hingga akhirnya….. saya lulus terlebih dulu dari Universitas Indonesia. Tentunya lega dan bahagia. Otak yang kusut, jam tidur yang berantakan, kekhawatiran ini itu, dan berbagai rintangan akhirnya terlewati. Af tahu betul bagaimana jatuh bangun eh jatuh lagi dan kemudian bangun kembali- saya untuk menyelesaikannya. Kami melewati fase ini bersama-sama. Kemudian 2 bulan berselang… kabar bahagia itu datang juga. Af akhirnya lulus dari Institut Teknologi Bandung.
.

Di hari wisudanya, untuk pertama kali saya melihat Af tampil sangat rapi. Kemeja, celana bahan, sepatu kulit, kemudian jas dan dasi. Senyumnya tak putus-putus. Di hari wisudanya, Af seakan bilang: We made it! We made it! Kita sudah lulus!
.
Kami, khususnya saya begitu percaya jika pertemuan dan anak tangga adalah sesuatu yang berkorelasi. Pertemuan mengantarkan kita pada pijakan ke depan. Apabila deretan anak tangganya masih berupa semen, akan ada pertemuan dengan pihak lain yang membawa kita menambahkan keramik, cat tembok, serta lukisan maupun pegangan tangga yang lebih kokoh. Bisa berupa job offer yang lebih menarik, beasiswa sekolah lagi, peluang usaha yang menjanjikan, dan lainnya. Yang jelas kami berharap ‘pertemuan’ ini dapat terus membawa kebaikan. Sampai ke depan. Aamiin.

17 September, 2014

……. Ternyata Kita Lebih Butuh Didengar


Bercerita adalah bagian dari penyampaian rasa. Kita mencari-cari untuk tahu, lalu butuh telinga orang lain untuk mau mendengar takjub, kesal, ataupun bunga bahagia. Pun dengan kalimat tanya di kepala. Selain untuk mencari jawaban, bercerita dan mengajukan tanya sebetulnya dilakukan sebagai aksi melarikan diri. Dari apa? Dari gelombang tanya dan emosi yang terus menggelembung di otak dan hati.

Terjawab? Belum tentu. Bertanya bukan semata untuk mencari jawaban dari paradigma orang. Pada akhirnya, Kenapa, Bagaimana, dan kok bisa sih? Akan terjawab dengan alamiah. Bukan dicetuskan dari kepala orang lain, melainkan kita sendiri yang punya jawaban. Oke, secara lebih rinci, bercerita membantu kita membuka dan mengurai benang di kepala. Benang itu awalnya terurai baik, namun akhirnya berputar kusut karena diprovokasi amarah, emosi dan prasangka buruk.
.
Begini mekanismenya. Saat bercerita, kita punya kewajiban untuk membuat lawan bicara mengerti dan mencerna kalimat kita dengan baik. Dengan begitu, kita akhirnya membuat pemetaan di kepala, agar cerita yang disampaikan bisa runut dan tersampaikan jelas. Seiring dengan lontaran kalimat, akhirnya yang kusutpun terurai, dan berujung pada apa yang kita cari. Korelasi masalah, sebab akibat, spekulasi yang lebih logis, dan akhirnya: solusi. Lawan bicarapun sifatnya hanya ‘memfasilitasi’.
.
Masalah lain adalah, bagaimana mencari, atau menjadi pendengar yang baik? Oke. Menurut saya, berhenti berusaha tampak pintar, ataupun member saran yang sebetulnya kita nggak paham-paham amat maksudnya bagaimana. Kadang, orang mumet hanya butuh pertanyaan sederhana yang ringan. Nah, yang ringan dan sederhana itu yang justru sering ‘membangunkan’ seseorang dari kalut dan bingung nya. Menjadi pendengar yang baik berarti bisa meresapi, juga memaknai cerita.

Konklusinya: sebetulnya kamu tahu jawaban masalahmu. Hanya nggak mau benar-benar mendengar.


17 September 2014, Tanjung Enim, Palembang, Sumatera Selatan. 
Ditulis oleh seorang perempuan muda, sebut saja ‘Bunga’

16 April, 2014

Pasangan Juga Bisa Jadi Sahabat, Beneran Nggak Sih?


Postingan ini sebenernya sekaligus jadi media saya untuk menjawab pertanyaan yang seliweran di otak dan datengnya tiba-tiba aja. Gara-garanya saya ngobrol-ngobrol sama salah satu sahabat. Durasinya nggak lama, kejadiannya jarang, tempatnyapun selalu alakadarnya. Tapi, obrolan kita selalu membekas. Ihiy!

Kemudian kita pisah, saya pulang, dan ngelakuin banyak hal termasuk whatsapp-an sama AF as usual. Kemudian tercetuslah satu pernyataan. “Asik banget yah kalo pasangan itu sekaligus bisa jadi sahabat”, kata saya. Kemudian dibalas kira-kira begini sama AF, “Lho, ya itu harus lah. Masa sampe enggak?”. Dan berlanjutlah kemudian.

Flo: Bagusnya tentu begitu, tapi nggak selalu bisa begitu tau
AF: Ya nggak boleh ada yang ditutup-tutupin dong
Flo: Iya, tapi realitanya, susah banget loh

Kadang percakapan berjalan begini:

Flo: Ih aku pengen deh bla bla bla bla bla bla bla bla bla kayaknya seru banget ya bisa bla bla bla bla bla bla bla bla bla nanti aku mau ah begitu bla bla bla bla bla bla
AF: Hmm, iya, bisa tuh

*lalu obrolan selesai *krik krik krik *bedakan pake sagu

Etapi nggak berhenti sampai di situ. Pertanyaan “gimana caranya ya, pasangan bisa jadi sahabat juga?” terus muter di kepala. Gimana bisa? Mari kita rinci alasannya *muka serius*


1. Sahabat bertugas untuk mendengar. Mayoritas aktivitasnya adalah menyiapkan telinga sebaik mungkin. Pasangan tidak mungkin bisa hanya mendengar, ia pasti lebih sigap berpendapat. Pasangan punya ekspektasi dan harapan tentang apa yang kita ceritakan, yang sedikit banyak juga mempengaruhi hubungan.

2. Minimnya ekspektasi dari sahabat bisa bikin kita ngomong lebih jujur, blak-blakan, apa adanya. Sebaliknya, sama pasangan, meski tetep bisa blak-blakan, tapi kita justru lebih kontrol intonasi dan pemilihan kalimat, bahkan detail cerita. Ada perasaan yang harus dijaga, bung! Bedanya juga, kita lebih memilih topik saat sama sahabat, apalagi yang ketemunya jarang-jarang. Kita cenderung hanya akan menceritakan sesuatu yang menarik, dan ‘wow’, menimbulkan antusiasme tersendiri. Dengan pasangan cenderung ngomongin apa aja, suka nggak suka, ngerti nggak ngerti, semua diomongin.

3. Ada label berbeda antara keduanya. Dengan pasangan, kita adalah individu sekaligus pasangan, calon isteri/suami, dan buat yang udah nikah, ia adalah suami/isteri, ia adalah ayah/ibu, ia adalah menantu, dsb. Ada pakem dan cap. Sementara di mata sahabat, elo dilihat sebagaimana individu. Sebagaimana elo aja.



Well, itu sih yang saya rasain. Buat saya, sahabat itu adalah ketika kita udah bener-bener nggak ragu bertanya, bercerita, berpendapat tentang apapun. APAPUN. Lebih jauh lagi, sahabat adalah orang yang membantu saya mengurai isi pikiran dan hati. Mungkin kalimat saya terdengar agak dangdut ya. Tapi, berapa banyak sih orang di sekeliling kita yang mengajak kita bicara tentang apa yang ada di ‘dalam’ dan melupakan sejenak hiruk pikuk di sekeliling?

Eits, ini maksudnya bukan mau mengecilkan peran pasangan ya. Tapi jelas, kan, kalo pasangan dan sahabat punya wilayah masing-masing di hati. Sama-sama penting, fungsinya mirip, tapi nggak identik. Tapi tentu saya juga nggak lantas pesimis kalo pasangan itu bisa jadi sahabat, bukan ‘sekedar’ teman hidup. Saya banyak belajar dari lingkungan, banyak orang yang nggak bisa tertawa dan bicara se-lepas ketika dia lagi sama sahabatnya. Iyess, saya emang belom nikah, tapi ya boleh kan ya siap-siap hihihi. *ceileh ploooo*

Jadi menurut pakar pernikahan berlisensi bernama tante Corey dalam artikelnya berjudul "should your spouse be your best friend", semakin kita berjalan di sebuah hubungan, semakin kita menjauh dari hal-hal yang sering kita lakukan sebelum kita ketemu si pasangan. Kemudian larut dalam ekspektasi tentang hidup dan masa depan yang akan dijalani bareng. Okei, mungkin nggak mudah, tapi bukan mustahil juga, kan :) 


As you began spending more time together and getting to know one another, you likely had less time to engage in the things you were doing before you met. Some couples go so far as to completely give up everything they previously found fulfilling and important in order to spend time together. The problem with this is, as you became fused you became more and more dependent on each other to meet your individual needs


12 Januari, 2014

Office Flirting dan Kecenderungan Untuk Ganjen


Tempo hari, saya ngobrol bareng beberapa teman perempuan. Topiknya nggak jauh-jauh dari soal asmara dan kerjaan, yang akhirnya bermuara pada cerita masing-masing tentang ‘asmara di kerjaan’. Benang merahnya adalah, pria yang punya jabatan yang sudah aman dan mapan, dengan usia sekitar late thirty, sudah punya anak usia sekolah, cenderung “suka tantangan”, lebih ganjen dan bermulut bahaya. Apa tuh maksudnya ‘bermulut bahaya’? Bisa diartikan sebagai celetukan-celetukan semacam kode, yang sebenernya dianggap lucu, seru, segar, tapi substansinya agak ngeri, yaitu perselingkuhan. Biasanya dilontarkan pada orang-orang deket, misalnya sama tim sendiri, teman satu lini, ataupun geng makan siang bareng.


“Ahh, itu sih obrolan standar. Kadang-kadang mulut orang di kantor itu kejam-kejam. Gara-gara stress di kantor kali ya,” kata si A. Bahkan B cerita, bos nya secara terang-terangan punya beberapa ‘cem-ceman’. Cewek-cewek 'terpilih' ini sering disamperin, digodain, dan diiming-imingi. Ada yang menanggapi dengan santai dan senyum-senyum aja tanpa menanggapi serius, ada juga yang ikut ketawa-ketawa ganjen digituin bosnya. “Sialan banget itu laki-laki. Kantor istrinya Cuma beda 2 lantai, lho!”, kata B berapi-api.



Hal ini (sayangnya sudah) dianggap biasa. Becandaan nakal soal orang ketiga udah kayak bumbu standar di lingkungan kantoran. Kalau dulu saya menangkap, biasanya model bercandaan begini ya di lingkungan satu gender yang seusia dan sangat akrab, nah kalau di kantor, lingkupnya jadi jauh lebih luas dan nggak segan dilontarkan di kelompok dengan usia bervariasi. Awal-awal, saya ngerasa terganggu banget. Sampai pada akhirnya saya menyimpulkan kalau sikap ganjen itu bukan lagi sesuatu yang ngagetin di kantor. *sigh







Hmm, sebuah penelitian di Inggris sih menyimpulkan, kalau ganjen-ganjenan di kantor itu nggak usah dianggap serius. Biasanya pria di kantor berperilaku begitu untuk meningkatkan kepercayaan diri, ataupun sebagai hiburan dan pelarian dari rasa stress. Ganjen juga seringkali jadi cara untuk mengakrabkan diri dan tidak serta-merta bisa dihubungkan dengan sesuatu yang lebih serius, misalnya perselingkuhan.  Tapi yaaa… sebagai cewek, sebel juga kali yahh kalau pasangannya ganjen di kantor :(




--

Selain ‘ganjen’, ada juga fenomena lain. Yaitu, naksir.

Bedanya ‘ditaksir’, adalah biasanya caranya lebih smooth. Kalau ‘ganjen’ diasosiasikan dengan cara-cara mendekati dengan cara kotor dan frontal, naksir justru lebih halus dan pakai hati. Enggak pakai rayuan basi, tapi lebih ke perhatian-perhatian dan ngasih hal kecil yang kadang-kadang nggak kepikiran, ataupun mengatasnamakan pekerjaan.



“Padahal dia itu punya sekretaris. Tapi kemana-mana, gue yang disuruh ngedampingin. Gue bahkan pernah dimarahin gara-gara gak bawa handphone ke ruangan sebelah dan enggak ada kabar. Gila yah, ini bos posesifnya ngelebihin pacar!” curhat A. 


C pun cerita pengalaman di kantornya.

“Sering tuh, tiba-tiba OB nganterin makanan ke meja gue dan nggak mau ngasih tau siapa yang bawain. Tapi tiba-tiba ada Yahoo Messenger, isinya ‘soto nya enak, kan?’. Atau tiba-tiba udah nungguin gue di parkiran mal tempat gue meeting. Alasannya sih dia juga ada urusan di mal yang sama. Waktu dia abis liburan ke Thailand, dia nitipin oleh-oleh satu tas di resepsionis. Atau pernah juga, tau-tau dia nelfon udah deket rumah gue dan minta ditemenin ngopi”, jelas C.


“Eh gila yah, kalo yang begitu cowok single, gue udah klepek-klepek kali. Tapi kalo kasusnya begini, yang ada gue malah jantungan, merinding, ngebayangin muka anak istrinya. Sikap gue padahal udah se-wajar mungkin, tapi kadang kerjaan memang bikin kita jadi sering bareng. Duh, tipis ya bedanya akrab sama ngasih kesempatan,” tambah B.



Hmm, saya jadi inget sebuah film, judulnya Talhotblond. Gak persis sih, tapi lumayan bisa menjelaskan. Diangkat dari kisah nyata, menceritakan tentang Thomas Montgomery, family man usia 47 tahun yang punya dua anak perempuan usia remaja dan seorang istri. Di tahun ke 17 pernikahannya, hidupnya terasa flat, kurang greget, nggak ada lagi perasaan yang meletup-letup. Semuanya terasa datar. Ia mulai bosan.


 

Sampai suatu hari, Thomas chatting dengan seorang cewek yang tinggal di kota berbeda. Usia si cewek (Jessi) 18 tahun, dan saat chatting, Thomas mengaku usianya 21 tahun dan seorang tentara di kawasan perang. Obrolan mereka di dunia maya berlangsung intens sampai 1 tahun, dan Thomas betul-betul pakai hati dan begitu menganggap Jessi bagian dari hidupnya. 


Thomas merasa hidupnya kembali bergairah, merasa kembali ada percikan cinta, hati yang bergejolak, rasa kangen yang amat sangat setiap kali kontak dengan Jessi. Thomas merasa jadi ‘cowok banget’, kembali berdebar-debar, begitu dihargai, cinta keduanya (terasa) begitu kuat. Ada adrenalin rush, meski semuanya sebatas asmara di telepon dan chatting di internet.



Mungkin itu bisa menggambarkan, kenapa pria di usia matang dan mapan sering diistilahkan punya fase ‘puber kedua’. Ada sesuatu yang hilang, hidup terasa datar dengan rutinitas, kurang greget. Dan selain rumah, kantor adalah tempat ke dua di mana kita menghabiskan sebagian waktu dan hidup.


--

“Naudzubillahimindzalik deh kalau suami gue nantinya bakal kayak gitu. Semoga gue dapet jodoh yang omongan dan hati nya terjaga ya….”, kata C. 


“Jangan lupa, jaga badan, jaga otak juga. Jangan sampe kita sibuk ngurus anak jadi kurang pergaulan, penampilan gak menarik, gak update, gak bisa diajak diskusi dan malah jadi cewek yang membosankan. Ini PR banget nih buat kita-kita perempuan,” jelas B. 


Lalu A nyeletuk. “Terus, kalo kita udah kece luar dalem, eh suami nya tetep gatel, mulut sama kelakuannya nggak dijaga di luaran, gimana?”


“Aaaahhh lo gitu aaaah!!! Jangan sampeeee……!”


Sumber foto: foto 1, foto 2, foto 3 

25 April, 2013

Peluk



Menahun ku tunggu kata-kata/yang merangkul semua/dan kini ku harap ku dimengerti/walau sekali saja pelukku//tiada yang tersembunyi/tak perlu mengingkari/rasa sakitmu, rasa sakitku//tiada lagi alasan/inilah kejujuran/pedih adanya/namun ini jawabnya

Lepaskanku segenap jiwamu/tanpa harus ku berdusta/karna kaulah satu yang ku sayang/dan tak layak kau didera

sadari diriku pun kan sendiri/di dini hari yang sepi/tetapi apalah arti bersama, berdua/namun semua semata

tiada yang terobati/di dalam peluk ini/tapi rasakan semua/sebelum kau ku lepas slamanya//tak juga ku paksakan/setitik pengertian/bahwa ini adanya/cinta yang tak lagi sama

16 Maret, 2013

Anak kecil dan ibu bapaknya

Saya belum jadi ibu. Belum punya anak. Belum pernah tahu rasanya turun naik hidup saat berproses mengantar titipan Tuhan hadir di dunia. 

Tapi bukan berarti saya bisa biasa saja. Saat saksikan seorang balita lugu dipaksa tumbuh dengan paparan tekanan negatif orang tuanya. 

Buat saya, urusan mendidik bukan cuma tentang membuatnya tumbuh gemuk dan jarang menangis. Gak sebatas mengantarkannya sekolah dan berharap pulang-pulang ia sudah jago baca hitung.

Mendidik anak baru bisa maksimal jika orang tuanya juga mau dididik. Mau belajar. Sama-sama mengembangkan diri. 

Anak bukan cuma sekedar pemenuh ekspektasi. Tapi juga sekolah tak berkesudahan untuk ibu bapaknya. 

Jadi ketika ada orang tua memakai emosinya sebagai kendaraan untuk berkomunikasi. Berharap jika dengan omelan dan bentakan tiba-tiba balitanya akan langsung tumbuh sempurna tanpa lewat proses jatuh dan salah. Saat itulah menurut saya titik gagal orang tua.

Balita dijejali perilaku ayah ibunya. Mereka begitu, anakpun akan mencontoh begitu. Ayah berkelakuan, ibu mencontohkan, itulah yang diserap. Jadi pantaskah anak disudutkan saat salah? Perlukah anak dicela saat ia sedang belajar dari kesalahan dan proses jatuhnya? 

Padahal, bahkan usia balita belum ada sepertiga umur orang tuanya. Mengapa ia dipaksa untuk jadi serba bisa dan dibiasakan serba salah dalam waktu terlalu dini? Lalu kalau bukan ke orang tuanya, zona nyamannya harus diarahkan pada siapa?

Ngeri membayangkan, kalau nantinya, belum-belum anak jadi tak hobi berpendapat. Nggak suka jujur.  Malas sharing. Atau justru jadi sulit mengontrol emosi saat di luar rumah. Melampiaskan frustasinya dengan cara salah.

Iya. Saya memang sok tahu. Saya nggak belum tau susahnya jadi orang tua. Namun pemandangan orang tua yang membentak anak lugu nya begitu bikin hati sakit. Dan hati saya selalu teriris saat lihat tatapan seorang anak yang harus dipaksa mengerti, dengan cara yang salah. 

Tidak pernah ada alasan kuat kenapa orang tua perlu memarahi bocahnya. Balitanya. Semuanya hanya jadi hasil akhir dari kekecewaan orang tua terhadap....
 diri mereka sendiri. 
Yuk perbaiki diri. Belum telat. 


*ditulis setelah menyaksikan seorang ibu memarahi bocahnya di muka umum. Tangis anaknya tak mau berhenti. Ibunya makin emosi. Anaknya frustasi. Keduanya jelas malu jadi tontonan umum. Tapi terlanjur emosi. dan nggak bisa ngendaliin diri

01 Januari, 2013

Halo 2013!



Tenang, ini bukan perjodohan antara buku resep dan kalimat Mario Teguh. Itu foto saya, dan kalimatnya juga mengalir sendiri di jam 00.50 di tanggal 1 Januari 2013. Bagaimana kamu habiskan pergantian tahun? Kalau saya, entah ditanya atau nggak ya, hehe, saya dirumah, jadi pemirsa film box office di TV sambil juga makan ikan bakar yang dibuat keluarga di teras.

Unik, saya yang biasanya doyan selebrasi, ulang tahun, tahun baru, malam takbiran, dan lainnya, justru melewatkan malam ini tanpa harus A harus B. Selain karena 3 hari amandel tiba-tiba membuat gerak dan bahasa saya jadi terbatas –dalam arti harafiah. Susah ngomong saking sakitnya-, bahkan mau nelen ludah aja harus mikir dulu. Justru saya masih takjub dengan tumpahnya air mata saat di atas sajadah 50 menit yang lalu, tepat di pergantian hari. Saya merasa banyak banget, ba-nget, hal yang perlu disampaikan padaNya. Dan mungkin dilakukan dengan sangat emosional. 3 hari sakit juga rupanya bikin otak saya istirahat. UAS di kampus, dateline pekerjaan yang nggak ada ujungnya, dan hal-hal lain bikin otak luar biasa capek. Rupanya ini saatnya benar-benar ‘bernapas’.

"Saya merasa banyak banget, ba-nget, 
hal yang perlu disampaikan padaNya"

Tahun ini jadi begitu berisi karena saya menjalankan 4 bulan terakhir dengan status baru, mahasiswa. Sedikit banyak ini ngerubah hidup saya. Oh, banyak ding. Nggak pernah saya sebelumnya kepikiran akan kerja dan kuliah di satu hari. Aktivitas berlanjut hingga hampir tengah malam, ketemu temen dan orang baru yang luar biasa –bahkan punya ‘bapak’ dan ‘uncle’ di kelas-. Jadi anak kost dengan segala ke-heboh-an, ke-akward-an, dan seabreg hal baru. Jadi tukang nyolong waktu di jam kerja untuk ulik materi kampus, tapi tentu nggak pernah mau nyuri waktu kuliah buat urusan kantor. Hehehe. Jadi pembeli sarapan kawasan Salemba-Matraman-Sudirman-Buncit, tergantung mood. Juga tentu jadi pelahap makanan prasmanan di kampus FISIP, yang bahkan seringkali makanannya dibungkusin pegawai kampus khusus buat saya di kostan. Uhui!

Tahun ini juga, saya ‘memaksa’ diri untuk punya sikap yang jauh lebih baik ke orang tua. Bukan berarti sebelumnya gak oke lho, tapi dengan status saya yang sudah makin bertumbuh, saya harus lebih punya peran ke orang tua, bukan hanya anak yang hanya nuntut hak. Apalagi.... saya berkaca pada beberapa teman dekat yang, tentu, secara tiba-tiba orang tuanya kembali ke hadapanNya. tentu saya yang masih punya lengkap jadi merasa sia-sia jika saya justru nggak mengambil hikmah apapun. Dan setelah sebelum-sebelumnya nggak pernah ada kado, maka di tanggal 18 November di ulang tahun mama, akhirnya terbeli sebuah ponsel pintar yang sangat diinginkan –yang sebenernya sampe hari ini tetap difungsikan untuk sms-telfon aja-. Itu rasanya, hmmm, seneng banget.

"saya harus lebih punya peran ke orang tua,
bukan hanya anak yang hanya nuntut hak"

Rekor lain yang saya lakukan tahun ini adalah memberi ucapan selamat hari ibu. Itu nulisnya pakai mellow dulu lho, karena saya, dan kami, tak terbiasa untuk bergitu ekspresif berbahasa, tapi lebih ke tindakan aja. Meski ‘cuma’ disampaikan lewat sms, tapi itu tetap prestasi. Nggak dibalas smsnya. Sampe rumah, saya baru tahu, kalau “mama mau bales tapi tadi bingung gimana cara pencet smsnya” hehehe.

Di sisi pekerjaan, salah satu hal yang selalu saya ingat di tahun ini adalah ketika saya naik panggung di sebuah acara gala-dinner berskala internasional. Saya (mewakili media) mendapat penghargaan sebagai media Online yang konsisten menyuarakan ‘suatu tema’. Sejak April, rubrik tersebut memang saya yang jadi satu-satunya pengisi konten dengan tema spesifik tersebut. Tentu saya bangga luar biasa. Namun sepengetahuan saya, pernghargaan yang saya pernah pegang itu ‘cuma’ disimpan di dalam lemari oleh yang berjabatan. Sesingkat itu siklusnya.

Soal cinta? *EHEM!!* Yang ini, bisa saya definisikan jika.... jalan dariNya belum di tahun 2012. Kami masih berseberangan, bisa kamu artikan dan interpretasikan dari segi manapun, terserah. Mungkin bukan di 2012. Apa yang mana, saya nggak pernah tau. I’m totally clueless. Idamkan satu sosok tentu belum pasti ialah yang menurutNya juga pantas jadi sang pengucap ijab qabul di depan Tuhan, wali saya dan petugas KUA suatu hari nanti, kan?

"kami masih 'berseberangan', mungkin bukan di 2012"

4 bulan terakhir di 2012 juga serasa ada di roller-coaster kehidupan yang lumayan menikung membelok. Dengan taraf sabar yang masih kurang membanjiri hati, saya seringkali misuh, ngeluh, dan masih rapuh untuk bisa tetap kuat berdiri di birokrasi, kultur dan iklim salah satu kamar hidup yang sebenarnya seringkali membuat saya gamang. Namun hal itu jadi ilmu luar biasa untuk saya. Uhm, saya memang seharusnya bisa lebih memanage kesabaran dan kemampuan untuk memberi ‘judul’, mana yang membuat saya diinjak dan mana yang hanya jadi bukti kalau saya ini anak manja.

"Mana yang membuat saya diinjak,
mana yang hanya jadi bukti kalau saya ini anak manja" 

4 bulan belakangan, saya jadi lebih memaknai arti rumah yang lebih dari sekedar tempat melepas sepatu, makan, mandi, tidur dan ditinggal lagi. Maknanya lebih, jauh lebih vertikal dari pada itu. Begitu juga dengan keluarga dan teman. Saya makin mengenal banyak orang, namun jumlah teman terbaik makin susut seiring umur, dan hanya tersisa mereka yang terbaik dan benar tulus.

"Maknanya lebih,
jauh lebih vertikal dari pada itu"


Hmm, sudah lewat jam 2 dinihari. Jujur saya sudah lama nggak nulis blog, atau lebih pasnya, lama nggak membahasakan pikiran saya yang –menurut beberapa orang begitu berbelit- jadi tulisan. Jadi kalo kurang berkorelasi atau kamu anggap kurang menunjukkan kesempurnaan pakem penulisan, atau justru bukan seleramu, ya nggak apa. Ini kan blog, pribadi pula, bukan dotcom yang banyak aturan. Hehe. Saya memaknai 2012 dengan sangat dalam, dan begitu berharap 2013 saya bisa lebih baik, mutu, dan punya manfaat. Saya rugi umur kalau ternyata saya hanya gitu-gitu doang. Saya harus usaha, jalan cepat, dan semangat untuk jadi lebih baik dan maju. Dari banyak sisi. Amin.