Tampilkan postingan dengan label Sekolah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sekolah. Tampilkan semua postingan

05 April, 2013

Mari Kita Bahas Intrapersonal Communication!

 Foto: The Ranchers Guide

Jadi malam ini *ini ngetiknya beneran malem loh ya sodara sodara*, saya mau bahakomunikasi intrapersonal. Ini adalah komunikasi yang paliiing akrab sama kita, karena membahas tentang pengaruh dan reaksi diri yang berdampak pada komunikasi kita dengan orang lain. berbekal buku Applying Communication Theory for Professional Life nya oma Marianne Dainton (2011), ayo kita jabarkan secara singkat, sederhana, apa adanya dan saling mengerti satu sama lain *eh ini apaan sih*.

Penting gak sih komunikasi ini? Ya eyalaaaaaahhh... Kalimat dan gesture yang kita lakukan tentu udah melewati tahapan ini. Ah udahlah ya, mari kita menceburkan diri ke dalam komunikasi intrapersonal ini.

----------------------------------------------------
1. Message Design Logics (MDL)

MDL adalah cara kita merespon sesuatu lewat penggunaan bahasa. Dibuat oleh O'Keefe dan Lambert (1997), Interpretasi dan kematangan pola pikir sangat terlihat di teori ini. Mari kita gambarkan situasi: ceritanya B merasa ditipu oleh tukang bawang merah. B beli bawang Rp. 42.500, eh taunya toko sebelah jual Rp. 35.500.

- Expressive MDL
"Abang tuh gimana sih! Jualan harganya nggak kira-kira! Emang duit bisa digambar sendiri, nggak pake kerja? Mikir dong bang, kalo jualan jangan ketinggian harganyaaaaa!" *abangnya cuek. Malah ngeloyor pergi ke warung mie ayam*

- Conventional MDL
"yah kurangin ngapa bang harganya, biasa juga dua puluh lima rebu sekilo." *abangnya selow aja, gak nanggepin*

- Rethorical MDL
"Bang, saya akui emang bawang merah Brebes yang abang jual emang kualitasnya bagus. Bebas kutu, anti rayap, water resistant. Tapi abang juga nggak boleh seenaknya naikin harga. Kalo abang masih jual harga segitu, dijamin pembeli kabur. Jelas, mereka milih yang lebih murah. Kalo bawangnya malah nggak laku, ujung-ujungnya rusak, malah jadi rugi! Abang harus pikirin itu baik-baik! Abang denger saya kan?" *zzzzz, abangnya malah ngorok*

-------------------------------------------------------------------------
2. Communication Accommodation Theory (CAT)

Dalam CAT, lingkungan dan penerimaan sangat berkaitan erat dengan bagaimana kita bersikap dan menyikapi perbedaan. Digagas oleh Giles&Coupland, 1991. Dalam CAT, kita kenal istilah in group dan out group. In group adalah kelompok di mana kita ada di dalamnya, dan kita sudah nyaman betul di dalamnya. Sebaliknya, out group merupakan hal-hal di luar lingkup in group. CAT mencermati bagaimana seseorang melakukan perubahan agar bisa lebih diterima oleh kelompok.

Dalam CAT, ada 2 sikap yang menjadi respon, yaitu konvergensi dan divergensi. Konvergensi bisa diartikan sebagai proses adaptasi, sementara divergensi justru tetap kekeuh mempertahankan jati diri, watak dan sifatnya.

Contoh: Lisa, cewek metropolis berhak tinggi dengan soft lense dan rok mini, ketemu sama ponakan pacarnya. Lisa nggak pernah deket sama anak kecil (diposisikan jadi out group Lisa).

- Konvergensi
"Halo tayaaaaang..... Udah ma'em beyooom? Yuuuk ma'em cama tanteeee, tante punya coklaaaat..... cini cini, tang ting tang ting tung...." <--- tampak dia mau menyesuaikan diri, menyamakan 'level ' nya dengan orang yang ditemuinya, 'keluar' dari perilaku aslinya, bertujuan untuk lebih bisa diterima.

- Divergensi
*enggak mau megang. Soalnya anaknya rewel. Lagian males juga ngomong ala ala anak kecil gitu. Terserah lah yaaa mamanya si pacar mau komen apa. Gue emang nggak suka anak kecil* <---- tidak mau keluar dari sifat aslinya, menunjukkan inilah dirinya yang sebenarnya, ingin dipandang sebagaimana dirinya sendiri biasa bersikap. Contoh lain: Orang berlogat Jawa medok yang tinggal di Jakarta, yang tetap tidak ingin meninggalkan ke-medokannya, dgn siapapun ia berbicara untuk menjaga identitas dirinya sbg orang Jawa.

---------------------------------------------------------
3. Uncertainty Reduction Theory (URT)

 URT didefinisikan Berger dan Calabrese (1975) sebagai langkah untuk mengurangi ketidakpastian. Bok, banyak banget ketidakpastian dalam kehidupan ini. Pake baju apa hari ini? Jalanan macet nggak? Doi sebenernya naksir kita nggak? Nah, daripada terus menerka, ya selesaikan sajalah teka tekinya! Baiklah, mari kita berikan contoh yang sesuai dengan kehidupan di dunia fana ini, dengan menjawab ketidakpastian di poin ketiga, soal naksir-naksiran.


                                                                                      Foto: Indigo Statics
- Passive strategy
Media sosial si doi kita ubek-ubek. Liat recent update BBM nya. Foto-foto masa alay-alay di Facebooknya. Tulisan-tulisan di Twitternya. Kalo perlu cari tahu tagihan listriknya, berapa kali dalam seminggu pergi ke Alfamart, dan apa sabun cucinya di rumah.

- Active strategy
Caranya adalah bertanya pada pihak ketiga, soal kebiasaan, status, tipe istri idaman, soal aktivitasnya, juga soal orientasi seksualnya *eh suwer deh ya, ini penting!*. Tapi tanyalah pada sumber yang kredibel, jangan tanya sama kasir Alfamart langganan dia, sama pemimpin sanggar senam di komplek, atau malah nanya operator 108.

- Interactive strategy
Kalo ribet kelamaan, yasutralah ya booookkk... tanya aja langsung sama orangnya. Resiko selalu ada, tapi strategi ini dijamin hemat waktu dan kadar perasaan *hazek*

---------------------------------------------------
4. Expectancy Violations Theory

Teori ini dikembangkan oleh oom Judee Burgoon. Sesuai namanya, expectancy, kita manusia emang harus mengantisipasi apa yang bakal kejadian di masa depan. Interpretasinya bisa didasarkan dari tingkat kedekatan antar manusia. Sebagai efeknya, kita bisa merasa reciprocate (merasakan hal yang sama dengan yang ditunjukkan orang lain) atau justru compensate, merasakan hal yang berbeda.

Contohnya begini. Di kantor ada cewek kece berat, namanya Ghea. Cakep, pinter, berprestasi, tinggi, langsing, modis dan ramah. Tiap kali meeting sama orang ini, para cowok-cowok cuma bisa menikmati senyumnya dari jauh, menyimak tutur kata nya, dan memberi support serta perbincangan formal *cakep ya bahasa gue*. Yah idaman pria-pria lah ya.

Suatu hari, cewek kece ini curhat kalo dia lagi punya buanyaaaaakkkk kerjaan dan project yang dia garap berantakan. Harus segera diselesaikan dan kalau tidak akan mengancam karirnya. Dia ngomongnya dengan muka sedih di kantin kantor. Si lawan bicara, sebut saja Ridho, udah kepengeeeeen banget menatap matanya dalam-dalam, menggenggam tangannya sambil bilang "everything will be okay, aku yakin kamu bisa, babe". Tapi ya enggak dilakuin, dirasa nggak pantes, dan apalah Ridho yang bermuka kusut dibanding Ghea yang kinclong. bisa digaplok depan umum dan jadi public enemy dia kalo tau-tau megang tangan Ghea. <---- contoh compensate.

Sebulan kemudian, kantor geger karena Ghea dipecat. Ghea yang punya pamor bagus di kantor dianggap tidak bisa melakukan tanggung jawabnya dengan baik. Doi dipecat di tahun ke 2 nya bekerja di perusahaan itu. Saat ngumpul dengan satu divisinya, Ghea menyalami mereka satu persatu sambil agak-agak menitikkan air mata. Ridho yang cukup dekat sama Ghea merasa harus memberi support lebih. Mereka salaman cukup lama, Ridho bilang "everything will be okay, aku yakin kamu bisa lebih sukses di depannya. Aku yakin kamu bisa lebih sukses dari ini, semangat terus ya!" *sambil ngomong eye to eye ke Ghea, terus nepuk-nepuk bahu Ghea. Kali ini nggak apa-apa, sikonnya pas dan tepat, orangpun nggak menganggap aneh. Padahal seneng juga bisa megang bahunya* <---- contoh reciprocate.

08 Agustus, 2012

Mari Mengunyah Bangku Sekolahan



Hazek, sangar ya gambarnya?

Kalau posting sebelumnya soal ujian test masuk S2 UI, nah yang sekarang ini updateannya. Yea, Alhamdulillah wasyukurillah saya diterima. Iyeh, di-te-ri-ma! Sekarang saya sudah resmi jadi mahasiswi, di kampus yang saya idam-idamkan. Alhamduuuuu..lilah.

Jujur sebenernya kuliah lagi bukanlah main goal saya di usia segini. Tapi momentnya begitu berurutan sampai akhirnya saya mantap memutuskan untuk daftar kuliah. Dimulai dari obrolan saya sama temen dueket saya, Esti, yang kepengen kuliah S2 tapi harus menunggu adik-adiknya selesai kuliah dulu karena biayanya harus ia topang sendiri. Lanjut dengan orang tua yang selain hobi nanya “udah ada ‘teman dekat’ yg bisa dikenalin blom?”, juga rajin nanya “kapan daftar S2?”. Lanjut dengan Asmie yang cerita kalo UI lagi ada pembukaan S2. Cocok dah. Lalu, sayapun mikir. “Kenapa gue nggak manfaatin semua itu? Mengapa…?!” *lalu terdengar backsound JENG JENG JENG JENG disertai angin mamiri*

Karena ada beberapa insiden ngerjain soal yang saya certain di post sebelumnya, saya jadi nggak terlalu obsesi untuk dapet ‘kursi’ itu. Yaiyelah, udah yang daftar banyak, soal TPA hanya diisi 60%, soal Bahasa Inggris sisanya nembak plus terngantuk-ngantuk, mau berharap apalagi gue? Hehe. Diterima syukur Alhamdulillah, nggak diterima ya berarti test kali ini jadi pelajaran untuk yang selanjutnya.

Orang tua juga sebenernya ingin saya daftar juga di kampus tempat S1 dulu, buat back up kalo gagal di UI. Coba buka websitenya, nggak ada tanggal pasti atau penjelasan soal penerimaan mahasiswa. Owkai. Di e-mail+di twit, sekali, dua kali, tiga kali, nggak ada respon. Okeh. *sigh*. Lalu saya telfon, sekali..dua kali…tiga kali… empat kali… tetap nggak ada respon, officernya nggak ada di tempat terus dan saya yang sudah kasih no Hp pun nggak pernah dihubungi. Kampus Komunikasi yang gahol ini butuh mahasiswa nggak sih? Gileeee… ilfeel sudah. Nggak jadi daftar deh.

Di 29 Juli yang cerah ceria bertepatan dengan lagu Doraemon berkumandang, sayapun ngecek website penerimaan.ui.ac.id, yaa kali aja gituh ada sebait kalimat menyenangkan di sana. Dan ternyata… Alhamdulillah… tertulis “selamat, anda diterima menjadi calon mahasiswa Universitas Indonesia”. AAAAA! Seriusan ini?!!! Sesaat setelah ucap kalimat syukur, saya langsung teriak, “mamaaaa…. Diterima maaaa!!!”, dan sontak yang di bawah, mama, papa dan kakak saya bilang “Alhamdulillah…”.

Resmi sudah saya menanggalkan zona nyaman yang sudah dijalani. Sekarang ibarat saya pencet tombol ‘reset’ dan men-setting kembali kehidupan fana ini. Yea, mulai dari pekerjaan, tempat tinggal, waktu, keuangan, rutinitas harian sama orang tua, dan blah blah blah. Berita baik ini sekaligus jadi cambuk buat saya jadi gadis manis yang harus lebih serius dan fokus. Yah lebih matang gitulah, kayak manggis Pangandaran.

Dan hari ini, 8 Agustus saya sudah daftar ulang dan resmi jadi mahasiswi Pascasarjana Universitas Indonesia. Seperti yang saya pernah bilang, S1 keharusan dan S2 pilihan, ya inilah pilihan yang sudah saya ambil. Saya harus tanggung jawab sama pilihan ini. Tunjukkin kalo uang dan amanat dari orang tua saya bisa dipertanggungjawabkan secara dewasa.

Laluh…? Yang saya rasakan sampai hari ini sih kayak yang hmmm… pasrahkan sama Allah aja. Setelah seminggu galau soal kuliah ini (yang akan dijalani sambil kerja), dll, saya jadi mikir “Allah pasti udah atur mana yang paling cihuy”. Hmm dan ohya! Saya bahkan udah muter-muter masuk gang keluar gang *layaknya dangdut dorong* untuk cari kamar kost. Sayangnya sih belum nemu. Hehe. Mungkin untuk sementara waktu, saya bisa numpang tidur di mesjid aja kalo emang nggak ada kamar berkasur yang bisa menampung *yakalih*.

Ahuhui, yang pasti saya nggak sabar untuk ngejalanin beberapa tahun ke depan menjadi mahasiswa lagi, dengan tugas, aktivitas dan ina inu nya. Di kampus negeri yang tentu suasana dan kondisinya jauh sama jaman kuliah S1 dulu. Bismillah, semoga semuanya dilancarkan, dimudahkan. Amiiiin… Doakan ya temans!

11 Juli, 2012

Ujian Sekolah (Lagi)….

Uhui, akhirnya terlaksana juga niatan untuk daftar kuliah lagi. Memantapkan hati dengan beberapa alasan: mumpung lagi buka, mumpung masih muda, dan mumpung orang tua (Alhamdulillah) ada. Kalau insya Allah saya berhasil, berarti saya dan si Iko Uwais wannabe a.k.a adik saya si OomToni bakal sama-sama jadi mahasiswa.

S1 itu keharusan, S2 itu pilihan. Itu kalimat yang selalu saya pegang. Itulah kenapa saya jauh lebih deg-degan menanti hasil ujian tes masuk kuliah adik saya si jawara silat itu *ecie*. Dari segi keuangan, keinginan saya sekolah lagi tentunya nggak se-urgent keharusan adik saya untuk melanjutkan pendidikan.


Daftar kuliah lagi, ujian lagi. Gimanapun hasilnya, tapi ini langkah awal yang jika berjalan lancar, ada beberapa hal di hidup saya yang akan berubah. Jadi anak kost karena kerja sambil kuliah, mengatur keuangan menjadi lebih ‘padat’, dan mungkin soal pekerjaan yang musti dikompromikan lagi. Yasecara waktu untuk pekerjaan dan tetek-bengeknya sudah hampir memenuhi 65% dari 24 jam. *hazek* *berasa sibuk*



Okeh, off we go to the main topic.

Dalam Seleksi Masuk Universitas Indonesia (SIMAK UI) jenjang S2, yang harus bapak dan ibu rahimakumullah kunyah adalah soal TPA dan bahasa Inggris. Ujian dimulai tepat pukul 7 pagi, dan seperti ujian-ujian pada umumnya, mental, perut dan otak harus udah diisi. Diisi angin deh minimal. Saya tiba jam 6.15, dan langsung disambut oleh beberapa pria ramah yang ternyata… penjual papan alas ujian dan pensil. Tapi dalam ujian ini, sebenernya penggunaan papan juga nggak boleh, jadi percuma juga bawa/beli. 

Untungnya dateng kepagian adalah saya bisa ke kamar mandi dulu *ngertilah ya*, trus bisa jalan pelan-pelan, nggak pake keringetan karena terburu-buru, plus berdoa dengan leluasa. Jadi luar dalem udah dimantep-mantepin sebisanya. Ohya, tips dari saya adalah ujian pakai pensil mekanik, jangan pensil kayu. Kenapah? Mau tau? Soalnya setiap 20 soal, pensil bakal kehilangan keruncingan dan anda mesti bolak-balik ngeraut. Itu makan waktu dan memecah konsentrasi, men!

Waktu untuk tes TPA adalah 3x 50menit. Soal-soalnya terbagi dalam beberapa kategori, dan ada nilai minus jika jawaban salah. Soalnya berputar di analisa logika, dan bikin orang yang belom sarapan dan kurang tidur pasti otaknya bleberan. Di bagian ini, ada waktu yang ditentukan kapan harus berhenti dan melanjutkan membaca soal. Oh ya, soalnya tidak boleh dibawa pulang.

Sebagai wanita yang sudah sarapan, sudah minum akua dan lumayan cukup tidur, soal-soal TPA nya cukup bikin sel-sel di otak saya saling membelit satu sama lain saking musinginnya. Tapi mungkin buat anda diluar sana yang emang logikanya jawara dan jagoan matematika se-kelurahanan, mungkin ini soal istilahnya piece of cake alias gampil lah.

Kelar ujian, saya langsung janjian sama temen saya, Asmie yang juga kebagian tes di gedung yang sama (keperawatan) tapi beda ruangan. Gosip-gosip dikit sambil makan sari roti sebungkus berdua dan akua sebotol berdua, sambil baca soal-soal bahasa inggris yang akan diujikan selanjutnya. 

Di ujian bahasa Inggris ini, soalnya mirip ujian TOEFL, bedanya nggak ada listening. Bagian 1 isinya macem fill in the blank dengan pilihan jawaban A sampai D, bagian 2 soal structure alias grammar, dan bagian 3 yaitu bacaan (super) panjang. Totalnya ada 100 soal dengan waktu 90 menit. Oh crap! 

 Gara-gara manajemen waktu yang kurang tepat, tentu waktu yang sedikit bikin saya sedikit panik. Dalam 1 jam, saya baru mengerjakan sekitar 55 soal. Lalu apa kabar dengan 45 soal lain? Sayang sekali nasib mereka, karena akhirnya saya mengerjakannya dengan terburu-buru, dan 20 soal terakhir (dengan sangat terpaksa) harus mengisi jawaban A semua. Kepepet waktu, dan mumpung nggak ada pengurangan nilai kalau salah. Tapi… gue, eh saya, agak menyesali hal ini. Why oh why…

Nah, ini dia pelajarannya, seharusnya kalau ada soal dirasa susah, di skip aja daripada makan waktu. Dan satu lagi, ketahui dulu berapa jumlah soal sebelum benar-benar mengerjakannya. (yea, saya malah baru ngeh kalo ada 100 soal pas udah di menit ke 50). Beberapa ‘kebodohan’ itu hmm yaa nggak untuk disesali sih ya, karena bisa jadi pelajaran dan toh kalo memang jalannya sekolah lagi, pasti ada aja jalannya :) 

Untuk soal bahasa Inggris, soalnya bisa dibawa pulang. Kalo bapak, ibu, saudara dan bapak camat beserta ibu sekalian mau liat soalnya, bisa didownload di laman penerimaan.ui.ac.id (harus log in dulu), soalnya kayak gitulah. Semoga sukses…… lancar….. dan tokcer ujiannya! Kalaupun belum berhasil, coba lagi! :)

15 Februari, 2012

23rd :)


Happy 23rd! Yea, 13 februari umur saya nambah. Jadi tambah tua. Menua. Makin matang. Mengkel. *apasih?*. Hari itu, seperti biasa saya ke kantor naik kereta lanjut Transjakarta. Di halte busway depan kantor, saya ketemu Ema yang keliatan kayak orang ribet dan buru-buru. Diajak ngomong eh doi malah sibuk what's app-an di henpon barunya. Dia bukan seorang caleg, bukan juga wanita berpacar, kok tumben sibuk banget ya?

Pas saya sampai di meja... eng ing eng, udah ada satu kotak besar hadiah dari Ema dan Dyah di atas meja. Rupanya Ema keliatan 'sibuk' karena dia panik, kita datengnya barengan. Padahal rencananya mereka mau bikin surprise *totuit!* *a la Cherrybelle* namun agak gagal. hehehe. Bahkan kartu ucapan baru dikeluarin dari kantong Gramedia dan baru dia tulis depan saya. "Pura-puranya elu nggak tau ya!", kata Ema.

Lanjut kerja... dan saya ngeliat satu kertas ucapan di bawah monitor. saya nanya Dyah,

Flo: Dyah, romantis banget sih pake tulisan ginian segala... cieee....
Dyah: Apaan ceu?
Flo: ini, kertas ucapan (sambil nunjukkin kertas kuning bertuliskan "happy bday Flo...")
Dyah: hah? bukan gue ceuuu!!! Gue ga segitunya kaliii... Dari gue sampe pagi-pagi tadi juga nggak ada
          yang kesini...
Flo: Ah becandaaa!!! trus siapa dong yang ngasih? Kapan naronya?

Dan hingga saat ini, belum jelas-jelas banget siapa yang nulis ucapan itu.

Anyway... i was so happy that day.... Nggak nyangka ternyata ada hadiah, ada (niatan untuk ngasih) surprise.... hadiahnya adalah sesuatu yang setiap harinya saya renggut dari mereka. Yea, cemilan. Mulai dari aneka ciki, keripik Padang, cokelat, sampai kopi jahe anget sari. catet tuh. hahaha.

Bahkan sepupu saya di UK sana sempat telfon dan ngucapin selamat ulang tahun. ternyata dia ingat :) Juga seorang teman baik yang kuliah di Semarang, telepon saya untuk bilang "DI HARI ULANG TAHUN LO INI GUE AKHIRNYA LULUS FLOOOOORRR!!!!". Dan ucapan dari temen-temen deket. uhui, seneng banget Alhamdulillah, banyak yang ngedoain... Hampir semuanya ngedoain agar cepet bertemu jodoh. amin YRA... :)

(bersama temen-temen Tefa... sayangnya 13 Februari tahun ini kita nggak bisa jalan bareng)

Am very grateful and blessed... untuk keluarga, teman, pekerjaan, dan semua yang saya punya. Alhamdulillah.... Kayaknya udah saatnya jadi lebih dewasa, jadi lebih meningkat ibadahnya, lebih wise tanpa (terlalu banyak) mengeluh, dan udah saatnya membuka hati. Ciyeeee.... hihihi :)


13 Desember, 2010

officially graduated!

Alhamdulillahirobbilalamin, akhirnya saya bener-bener lulus S1 Komunikasi Massa, setelah 4 tahun (pas!) kuliah, di usia 21 tahun. Rasanya seperti kentut yang akhirnya bisa berhembus sempurna, juga seperti ketika akhirnya bisa pipis setelah ber jam-jam ditahan. Oke, jelek banget emang perumpamaannya, tapi, kira-kira begitu deh lega nya. Kayak ada suara “AKHHH… Akhirnya keluar jugaaaa” (iye kan, pasti gitu kan kalo udah ditahan-tahan). Hehehehe. Keluar disini bukan karna saya gak suka sama masa-masa kuliahan, malah masa kuliah adalah masa menyenangkan karna kedewasaan dan mindset sedikit-sedikit tercetak, dimana ada ilmu pengetahuan yang dicampur pergaulan Jakarta plus bumbu percintaan luarbiasa (halah). Tapi akan jadi beban yang sangat beraaaat kalo aja saya nggak lulus tepat waktu, gw sih bisa aja santai, tapi gimane perasaan orang tua?! Gimanaaaa?! Udah kuliah ga perlu mikir biaya, eh kuliahnya ugal-ugalan macem angkot, berasa anak yang nggak berbakti :( tapi Alhamdulillah kelar juga. Terima kasih ya Allah.
 

Persiapan buat hari H wisuda, di Hotel Mulia hari kamis tanggal 9 Desember 2010, agak-agak minim dan sradak sruduk baik dari baju sampe mental. Baju, karna walaupun baju wisuda udah disiapin dari jauh-jauh hari, tapi bodohnya saya lupa nyobain itu baju, sampe akhirnya dua hari sebelum hari H baru dicoba dan eng ing eng kekecilan. Plus kain yang dijahit, saya serahin modelnya ke si mama, dan dia memutuskan untuk jahit kayak model yang dia liat di majalah kebaya-kebayaan itu. Tapi ternyata pas jadi, saya nggak nyaman. Huhuhu… Hari rabu masuk kerja, saya kepikiraaaan terus, gimana ya itu rok, kalo saya pake rok yang lain, itu kan menyinggung nyokap pastinya, tapi kalo tetep saya pake, sayanya nggak nyaman. Akhirnya pulang kerja sampe rumah, saya rombak diem-diem. Hehehe. Dengan bakat minim jahit tangan, akhirnya itu rok nggak kegedean lagi. Pheww :D

Saya yang nggak biasa dandan tebel macem artis-artis inpotemen menyerahkan wajah dan kerudungan ke ibu-ibu rias. Terserah deh bu, mau di dandanin gimana, dikerudungin gimana, pokoknya saya harus mirip Syahrini! *ealah*. Jam setengah 1 saya udah resah banget karna orang tua belom sampe juga di salon rias. Perginya molor sampe jam setengah 2, padahal kan acara jam 3 dan satu jam sebelumnya harus udah sampe di lokasi. Jalanan machettttt, saya udah ga tenang, duduk udah pindah berbagai posisi, dan bokap yang suka nggak sabaran karena abis macet, masuk ke hotel nya antri panjang, jadi nggak sabarannya kumat. Saya agak males nih kalo udah begini. Dari yang deg-degan, jadi ditambah sedikit bete juga…

 Sampe di Lobby, saya dibantu nyokap langsung pake toga. Saya jadi mikir, ngapain juga sibuk-sibuk ngurusin pake kebaya apa, toh selama acara kan pake toga dan cuma bawah kainnya yang keliatan dikit. Hahaha. Mau atasannya pake kaos kek, pake taplak meja kek, lap dapur kek, gak bakal ada yang notice karna kita semua sama-sama pake toga. Punya saya ukuran Xtra Small, tapi tetep guedeeee benerrr. Kakak saya yang hamil tua pasti masih kelonggaran deh pake tuh baju.

Selama acara, satu moment yang bikin persediaan air mata saya dengan borosnya keluar. Waktu ibu Prita speech, dan bilang begini, “untuk menyekolahkan kalian, orang tua kalian berusaha dengan giat mencari nafkah agar kalian bisa kuliah dengan nyaman. Mereka berangkat lebih pagi, dan pulang lebih malam, demi meraih rezeki lebih banyak untuk menyekolahkan kalian, agar memiliki masa depan yang lebih cerah. Tekadnya memberikan yang terbaik bagi kalian, telah kalian jawab hari ini dengan kata kelulusan. Sekarang, berdirilah, lambaikanlah tangan pada orang tua kalian dan katakana bahwa kalian mencintai mereka”. Yea. Nangis dah saya. Padahal kiri kanan saya gak nangis. Kalo orang boros duit, saya mah boros air mata. Kelilipan sabun cuci muka aja bikin saya nangis ga berenti (iyelah). Tapi emang sih, omongan tentang keluarga, khususnya orang tua, yang selalu aja bikin saya gak kuat nahan nangis. Saya ngerasa banyak dosa dan salah, sementara saya gak bisa tebus kesalahan itu semuanya. Gak akan sanggup malah. Kayak berasa “Ya Allah terima kasih engkau titipkan aku pada kedua orang tuaku ini. Mereka dapat membesarkan, menyayangi, menafkahi, dan melindungi saya sekaligus, sampai saya sebesar ini. Saya merasa sangat beruntung, ketika saya lihat kebawah dan melihat banyak orang yang tidak seberuntung saya”.

Emang ya, satu malam wisuda itu rasanya tumpah gitu, kayak kuah baso. Ke orang tua yang bangga karena lulus, tapi kepikiran juga “gileeee, gue bener-bener harus mandiri sekarang”. Apalagi nyokap yang mulai nyindir-nyindir kalo dia pengen punya mantu lagi. “kerja udah, lulus udah, kapan nih mama mantu lagi?”. Haiyah si mama, sama-sama berdoa ajah dah kita yahh. Saya ketemu lagi sama temen-temen yang udah lama gak ketemu. Ngakak lagi sama si Jong, temen tebengan selama 2 tahun kuliah. Susah sedih kesel sama-sama, dari ujan-ujanan, ga punya duit sampe hampir mati kecelakaan di fly over saharjo juga udah pernah dirasain bareng. Ketemu lagi sama geng bimbingan skripsi, Julie, Fany, Ajeng. Kayaknya baru kemaren kita mumet sama-sama karena adaaaa aja halangan pas bikin skripsi.
  
Pas di parkiran lagi-lagi bokap nggak sabaran, bawaannya sradak sruduk aja. Saya dan nyokap yang nggak asing lagi dengan sifat itu jadi ngobrol berduaan deh. Sampe akhirnya saya ceramahin papa saya. “coba bayangin, ada lebih dari 700 orang yang diwisuda. Satu orang minimal bawa dua orang. Kebayang kan gimana crowded nya parkiran dan ruangan? Jadi santai laaaah…”. Kadang saya jadi kurang santai kalo pergi sama bokap. Hehe. Map ya kap!.

Legaaaaaa rasanya udah lulus S1, dan berharap keinginan dan impian lainnya bisa terwujud. Karir oke+barokah+nyaman, lanjut sekolah lagi kalo ada umur+kesempatan+biaya, keluarga bahagia dan sehat selalu, nikah dan jadi keluarga yang harmonis+barokah+bahagia+keturunan yang baik-baik. Amiiin. Terima kasih ya Allah, dan berikanlah hamba kesempatan untuk membahagiakan dan setidaknya membalas sepersekian persen kebaikan orang tua, karna tak akan sanggup membalas semuanya. Amiiin :)