Tampilkan postingan dengan label Palembang/Tj.Enim. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Palembang/Tj.Enim. Tampilkan semua postingan

28 April, 2016

Tinggal di Base Camp, Perumahan Bukit Asam Tanjung Enim: Seru dan Bercerita




Terakhir kali agaknya sudah setahun lalu. Naik pesawat ke Palembang, lalu jalan darat sekian jam ke Tanjung Enim. Mulai tidur saat di Indralaya, lalu istirahat untuk makan dan cari toilet di Prabumulih, gak lupa mampir ke Rumah Makan Tahu Sumedang untuk beli gorengan. Kemudian jalan lagi menuju Muara Enim, melanjutkan tidur pulas sampai miring-miring. Kalau sudah lewat GOR dan kota Muara Enim, berarti tak sampai 15 menit lagi kita sampai ke area tambang dan perumahan Bukit Asam!

24 Juni, 2015

Kuliner Palembang: Nyobain Pempek Paling Enak di Palembang


Assalamualaikum para pecinta sinetron tanah air,

Kita tentu tahu betul apa makanan yang paling khas dari Palembang. Iyak betul, coto Makassar! Ya pempek dong ya Bang. Ada sekian banyak nama dan merk penjual pempek di tanah Wong Kito ini yang rasanya selalu memanggil-manggil untuk dibeli dan dibawa ke Jakarta. Harganya ada dari yang murah, sampe yang mihil. Tapi jangan selalu terkecoh dengan nama dan harga, karena gak semua pempek tenar rasanya juga heboh.

01 Maret, 2015

Jalan-jalan Palembang: Menyusuri Sungai Musi Menuju Pulau Kemaro




Kata orang Bekasi, ‘It’s not the destination, but the journey'.

Berbekal khayal-khayal babu setiap nonton film bertemakan laut dan air. Memori akan iklan ‘RCTI OKE’ dengan visual seorang ibu-ibu di sebuah kapal yang sedang terapung mengacungkan jempol. Serta efek film-film berlatar San Fransisco di atas Golden Gate. Jadi kebetulan pas di Palembang, maka ayo mari kita menyusuri Sungai Musi!

Kami, dua gadis yang sedang masuk angin baru saja tiba di Palembang setelah berjam-jam tidur sampe miring-miring di perjalanan dari Tanjung Enim. Fitri penasaran sama Pulau Kemaro. Dan saya terngidam-ngidam naik kapal dan menyusuri Sungai Musi. Klop lah kita, ke pulau Kemaro, naik kapal getek dengan menyusuri Sungai Musi!

07 Februari, 2015

Kuliner Tanjung Enim: RM Hasan dan RM Abeng, Enakan Mana?

Makan memang selalu menyenangkan. Tapi kalo di Tanjung Enim, makan adalah hiburan! Ya kan apalah yang bisa dilakukan di waktu luang di sebuah wilayah yang kiri kanan depan belakangnya area tambang, sis? Eh banyak ding, tapi tetep aja makan adalah rekreasi, mengingat kalo lagi dinas kan makannya nggak ditanggung pribadi *dibekep daun genjer*

Andalan kite-kite orang kalo lagi di Tanjung Enim adalah dua restoran bermenu Chinese food ini. Kalo nggak di Hasan, ya di Abeng. Kalo hari ini di Abeng, besok di Hasan. Gitu-gitu doang dan kurang variasi sebenernya. Tapi gimana lagi kisanak, sejauh ini dua tempat makan itulah yang asik buat makan rame-rame dengan menu variatip dan enak-enak. Tempatnya dekat dengan kompleks pertambangan PT Bukit Asam. Sekitar 2,5 km kalo dari mess tempat kita nginep, jadi 5 menit aja nyampe. Itu juga karena banyak polisi tidur, kalo ga ada maah dua menit juga bisa. Emang di Jakarteee?

28 Desember, 2014

Pengalaman Delay 24 Jam: Antara Nyesek dan Nyengir


Delay sejam dua jam rasanya sudah biasa. Tapi kalau sampe seharian? Aheum, dongkol juga ya sis. Oktober lalu, saat perjalanan pulang Palembang – Jakarta. Saya naik pesawat dengan keberangkatan (kalo nggak salah) jam 19.20. Berangkat dari Tanjung Enim jam 10.00, kemudian sampai Palembang jam 16.00. Sudah sempat mampir ke Pempek Beringin di Jl. Radial dulu, baru kemudian ke Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II.

Di daerah Prabumulih

Kondisi cuaca menuju Palembang sudah berasap tapi nggak pekat, kabarnya karena ada kebakaran lahan yang hebat dan asapnya nggak kabur-kabur. Bahkan sebetulnya asap sudah ‘sampai’ ke Tanjung Enim yang jaraknya lebih dari 200 km. Di pintu gerbang Bandara, jarak pandang cuma sekitar 20 meter-an men! Bener aja, ruang tunggu Bandara udah mirip acara kenduri, rame bener.

12 Oktober, 2014

Minggu Pagi di Tanjung Enim, Belanja di Pasar dan Main Ke 'Kolam Ikan'

 bersama ikan nila merah yang merasa akan diberi makan dan mendekati akyu

Apa yang akan Agan lakukan saat sedang berada di kota orang dan memasuki waktu weekend sementara hanya seorang diri di mess? Alhamdulillah, akhir pekan ini banyak sekali orang baik yang menawarkan diri untuk menghalau potensi kebosanan eneng di akhir pekan. Ada yang bersedia pinjemin motor untuk jalan-jalan, ada yang ajak makan di Muara Enim, bahkan ada juga kenalan yang sms dan menawarkan diri untuk nganter dan nemenin jalan-jalan. Alhamdulillah baik-baik banget sama eneng... :')

Ternyata takdir berkata lain. Jam 7 pagi setelah selesai jalan pagi dan sarapan, saya berpapasan dengan seorang kenalan, Ibu Yeni. Ibu Yeni yang baik langsung 'culik' saya masuk mobil untuk ikut jalan-jalan Minggu pagi, dan pergi bersama teman beliau, Bunda Titiek. Dasar anak yang mudah terhasut, eneng langsung cengar-cengir bahagia karena ternyata Minggu pagi nggak dihabiskan nonton Doraemon sambil ongkang-ongkang kaki doang.

Setelah mampir ke rumah Bunda Titiek yang kewl banget karena banyak pohonnya, off we go to one of the coolest place in town: pasar! Kenapa? Kenapa? Seriously, eneng seneng banget ke pasar loh mak! Di pasar, terutama di kota lain, pasti ada hal baru yang akan kita lihat dan kita tahu. Ihiyy! Highlight hari ini adalah... di Pasar Tanjung Enim, jagungnya besar-besar, banyak yang jualan jengkol (entah apa jenisnya, jengkolnya cenderung berbentuk seperti lingkaran, bukan gepeng-gepeng), cabai merahnya lebih kecil dan keriput tapi katanya lebih pedasss, dan juga banyak tomat mini yang enak dimakan langsung!

 Destinasi kesekian, Bu Yeni dan Bunda Titiek ajak saya ke 'kolam ikan', sambil bercerita tentang masa lalu kawasan PT Bukit Asam. Melewati kawasan Karang Tinah yang merupakan kawasan pemukiman padat semi permanen, dan dulunya adalah tempat pemukiman karyawan PTBA.

Perkiraan saya adalah kolam ikan sebagaimana umumnya, cuma satu cerukan yang nggak terlalu besar. Tapi ternyata tempatnya menarik banget, yaitu budidaya ikan! Ada ikan lele, nila, patin... Tempatnyapun asik, tenang, damai, dan seru.

Seumur-umur, baru ini ngeliat pohon alpukat. Buahnya besar-besar dan banyak!

Kolam ini adalah bagian dari Corporate Social Responsibility dari PT Bukit Asam. Hasil dari ikan-ikan ini juga pada akhirnya bisa dinikmati warga PT Bukit Asam, termasuk tamu kayak saya lewat masakan yang disajikan sehari-hari. Saat pulang, sayapun diajak berputar-putar kawasan PT Bukit Asam yang  luaaaaasss dan fasilitasnya lengkap. Akh, asyiknya jalan-jalan singkat di kota orang pagi ini!

07 Oktober, 2014

(Cuma) 2 Jam di Palembang: Dari Jembatan Ampera Ke Pempek Beringin

.
Assalamualaikum universe!

Awal Oktober ini, saya kembali dapat tugas Dinas di Sumatera Selatan. Dimana neng, dimana? Di Tanjung Enim, kakaks! Waktu tempuhnya sekitar 5 jam dari Bandara Palembang. Keberangkatan kali ini, eneng memundurkan jadwal penjemputan oleh pihak klien *ejiyeee plora punya klien*, mau jalan-jalan di Palembang dulu kan ya sis bro rahimakumullah.
.

Kemana aja?

Sebagai anak muda, bahagia dan banyak maunya, eneng tentu mau ke kota Palembang. Kalo kata tante Fergie, lokasi ini namanya Ampera Bridge itu London Bridge kali Plo alias jembatan Ampera. Jarak tempuhnya sekitar 20 menit dari Bandara. Rona bahagiapun langsung merekah di gigi saat mobil bergerak mendekati sungai Musi. Awww, aku di Palembang! Dan jembatan ikon Palembang sepanjang 1.200 meter ini hits sekali! Setelah parkir di depan Benteng Kulo Besak, eneng langsung kegirangan nyebrang dan jalan menuju bibir sungai Musi.
 
.

Karena masih jam 2 siang, panasnya cukup memberikan efek jemuran kering, serta angin yang membawa rok gebyar-gebyar. Sayangnya karena bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha,resto-resto di pinggir sungai Musi nya tutup. Padahal kan kece banget ya makan di sana.

.

Mulanya, jembatan ini dinamakan Jembatan Bung Karno, sebagai bentuk penghormatan pada sosok Presiden RI pertama yang serius mengakomodir keinginan warga untuk memiliki jembatan di atas sungai Musi. Tapi akhirnya sebutannya bergeser menjadi ‘Jembatan Ampera’. Yang canggih, sampai tahun 1970, jembatan ini bisa di naik dan turunkan lho kalau ada kapal besar lewat!

.

Karena waktu sempit, mari lanjots makan pempek! Saya segera meluncur ke Pempek Beringin di Jalan…. Hmm…. Jalan apa ya?! Entahlah *maap lupa*. Bahagia memang kalau melihat jejeran pempek dengan sistem touchscreen (tinggal tunjuk, terus digorengin). Dekorasi ruangannya juga lebih hits dari resto-resto pempek yang pernah saya datangi. Pada dinding tertulis sejarah pempek, yang konon pertama kali diperkenalkan oleh seorang perantau Cina di awal tahun 1600-an. Gak cuma itu, dindingnya juga dihias dengan kain songket Palembang yang kewl banget!

 *plo plo, plis kontrol muka plo*



Bisa dibilang, di sinilah saya menemukan sensasi ‘foodgasm’ dalam kategori pempek. Cuka nya enak banget, debesss! Cuka nya kental, mantap, dan pedesss, kayak omongannya Leily Sagita di sinetron Tersanjung. Tentu nggak akan seenak itu kalau nggak didukung oleh lenggang, lenjer, pempek telor dan adaan yang rasanya gurih enak. Rasa pedas di lidah pun diberantas dengan treat yang sungguh menyenangkan: es kacang merah. Slurrrp! 
.

Kenyang pol makan pempek, kemudian eneng lanjut lagi ke pick up point untuk janjian dengan bapak pengemudi menuju Tanjung Enim. Perjalanan 4,5 jam itupun dilalui dengan perut kenyang bahagia dan tidur pulas karena kekenyangan. Ihiy, jadi penasaran nyobain Martabak Har (di tempatnya yang asli), mie celor dan pindang di tempat-tempat kuliner hits Palembang!