20 Oktober, 2014

Pertemuan dan Anak Tangga

Ada terlalu banyak alasan mengapa kita wajib bersyukur pada Sang Pencipta.  Termasuk adalah pertemuan-pertemuan. Salah satu yang paling wow, ihiy dan joss adalah pertemuan dengan Af.
.
Kami diperkenalkan melalui ‘jasa’ seorang teman yang mengenal kami berdua. Dari awal perkenalan, yang saya tahu Af adalah orang yang paling antusias mendengar cerita-cerita saya, dan sampai saat inipun masih tetap begitu. Af adalah orang paling kepo sejagad Bekasi raya. Dan kepo itu akhirnya menular, hingga berubah menjadi kita yang sama-sama mencari tahu. Hmm, tempe juga sih. Enak pake sambel. *Ih ih jayus ihhh*
.
Saat itu, kami sedang berdiri di atas anak tangga yang sama. Sedang menyelesaikan tugas akhir kuliah Pasca. Lebih rinci lagi, kami adalah 2 mahasiswa yang sedang resah-resahnya karena kepingin cepet lulus dan Tesis kelar.

Pada saat itu, kami juga sama-sama terjangkit tongpis. Kantong tipis. Typical mahasiswa yang satu bergantung pada tabungan hasil 2 tahun bekerja, dan satu lagi dari upaya jual beli hal-hal berbau hardware untuk meminimalisir ketergantungan akan transferan orang tua.

Secara pribadi, saat itu kita tidak punya daya berlebihan untuk menyenangkan satu sama lain secara materi. Namun ada hal lain yang berperan sebagai perekat, yaitu: saling memberi semangat.

Hingga akhirnya….. saya lulus terlebih dulu dari Universitas Indonesia. Tentunya lega dan bahagia. Otak yang kusut, jam tidur yang berantakan, kekhawatiran ini itu, dan berbagai rintangan akhirnya terlewati. Af tahu betul bagaimana jatuh bangun eh jatuh lagi dan kemudian bangun kembali- saya untuk menyelesaikannya. Kami melewati fase ini bersama-sama. Kemudian 2 bulan berselang… kabar bahagia itu datang juga. Af akhirnya lulus dari Institut Teknologi Bandung.
.

Di hari wisudanya, untuk pertama kali saya melihat Af tampil sangat rapi. Kemeja, celana bahan, sepatu kulit, kemudian jas dan dasi. Senyumnya tak putus-putus. Di hari wisudanya, Af seakan bilang: We made it! We made it! Kita sudah lulus!
.
Kami, khususnya saya begitu percaya jika pertemuan dan anak tangga adalah sesuatu yang berkorelasi. Pertemuan mengantarkan kita pada pijakan ke depan. Apabila deretan anak tangganya masih berupa semen, akan ada pertemuan dengan pihak lain yang membawa kita menambahkan keramik, cat tembok, serta lukisan maupun pegangan tangga yang lebih kokoh. Bisa berupa job offer yang lebih menarik, beasiswa sekolah lagi, peluang usaha yang menjanjikan, dan lainnya. Yang jelas kami berharap ‘pertemuan’ ini dapat terus membawa kebaikan. Sampai ke depan. Aamiin.

12 Oktober, 2014

Minggu Pagi di Tanjung Enim, Belanja di Pasar dan Main Ke 'Kolam Ikan'

 bersama ikan nila merah yang merasa akan diberi makan dan mendekati akyu

Apa yang akan Agan lakukan saat sedang berada di kota orang dan memasuki waktu weekend sementara hanya seorang diri di mess? Alhamdulillah, akhir pekan ini banyak sekali orang baik yang menawarkan diri untuk menghalau potensi kebosanan eneng di akhir pekan. Ada yang bersedia pinjemin motor untuk jalan-jalan, ada yang ajak makan di Muara Enim, bahkan ada juga kenalan yang sms dan menawarkan diri untuk nganter dan nemenin jalan-jalan. Alhamdulillah baik-baik banget sama eneng... :')

Ternyata takdir berkata lain. Jam 7 pagi setelah selesai jalan pagi dan sarapan, saya berpapasan dengan seorang kenalan, Ibu Yeni. Ibu Yeni yang baik langsung 'culik' saya masuk mobil untuk ikut jalan-jalan Minggu pagi, dan pergi bersama teman beliau, Bunda Titiek. Dasar anak yang mudah terhasut, eneng langsung cengar-cengir bahagia karena ternyata Minggu pagi nggak dihabiskan nonton Doraemon sambil ongkang-ongkang kaki doang.

Setelah mampir ke rumah Bunda Titiek yang kewl banget karena banyak pohonnya, off we go to one of the coolest place in town: pasar! Kenapa? Kenapa? Seriously, eneng seneng banget ke pasar loh mak! Di pasar, terutama di kota lain, pasti ada hal baru yang akan kita lihat dan kita tahu. Ihiyy! Highlight hari ini adalah... di Pasar Tanjung Enim, jagungnya besar-besar, banyak yang jualan jengkol (entah apa jenisnya, jengkolnya cenderung berbentuk seperti lingkaran, bukan gepeng-gepeng), cabai merahnya lebih kecil dan keriput tapi katanya lebih pedasss, dan juga banyak tomat mini yang enak dimakan langsung!

 Destinasi kesekian, Bu Yeni dan Bunda Titiek ajak saya ke 'kolam ikan', sambil bercerita tentang masa lalu kawasan PT Bukit Asam. Melewati kawasan Karang Tinah yang merupakan kawasan pemukiman padat semi permanen, dan dulunya adalah tempat pemukiman karyawan PTBA.

Perkiraan saya adalah kolam ikan sebagaimana umumnya, cuma satu cerukan yang nggak terlalu besar. Tapi ternyata tempatnya menarik banget, yaitu budidaya ikan! Ada ikan lele, nila, patin... Tempatnyapun asik, tenang, damai, dan seru.

Seumur-umur, baru ini ngeliat pohon alpukat. Buahnya besar-besar dan banyak!

Kolam ini adalah bagian dari Corporate Social Responsibility dari PT Bukit Asam. Hasil dari ikan-ikan ini juga pada akhirnya bisa dinikmati warga PT Bukit Asam, termasuk tamu kayak saya lewat masakan yang disajikan sehari-hari. Saat pulang, sayapun diajak berputar-putar kawasan PT Bukit Asam yang  luaaaaasss dan fasilitasnya lengkap. Akh, asyiknya jalan-jalan singkat di kota orang pagi ini!

07 Oktober, 2014

(Cuma) 2 Jam di Palembang: Dari Jembatan Ampera Ke Pempek Beringin

.
Assalamualaikum universe!

Awal Oktober ini, saya kembali dapat tugas Dinas di Sumatera Selatan. Dimana neng, dimana? Di Tanjung Enim, kakaks! Waktu tempuhnya sekitar 5 jam dari Bandara Palembang. Keberangkatan kali ini, eneng memundurkan jadwal penjemputan oleh pihak klien *ejiyeee plora punya klien*, mau jalan-jalan di Palembang dulu kan ya sis bro rahimakumullah.
.

Kemana aja?

Sebagai anak muda, bahagia dan banyak maunya, eneng tentu mau ke kota Palembang. Kalo kata tante Fergie, lokasi ini namanya Ampera Bridge itu London Bridge kali Plo alias jembatan Ampera. Jarak tempuhnya sekitar 20 menit dari Bandara. Rona bahagiapun langsung merekah di gigi saat mobil bergerak mendekati sungai Musi. Awww, aku di Palembang! Dan jembatan ikon Palembang sepanjang 1.200 meter ini hits sekali! Setelah parkir di depan Benteng Kulo Besak, eneng langsung kegirangan nyebrang dan jalan menuju bibir sungai Musi.
 
.

Karena masih jam 2 siang, panasnya cukup memberikan efek jemuran kering, serta angin yang membawa rok gebyar-gebyar. Sayangnya karena bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha,resto-resto di pinggir sungai Musi nya tutup. Padahal kan kece banget ya makan di sana.

.

Mulanya, jembatan ini dinamakan Jembatan Bung Karno, sebagai bentuk penghormatan pada sosok Presiden RI pertama yang serius mengakomodir keinginan warga untuk memiliki jembatan di atas sungai Musi. Tapi akhirnya sebutannya bergeser menjadi ‘Jembatan Ampera’. Yang canggih, sampai tahun 1970, jembatan ini bisa di naik dan turunkan lho kalau ada kapal besar lewat!

.

Karena waktu sempit, mari lanjots makan pempek! Saya segera meluncur ke Pempek Beringin di Jalan…. Hmm…. Jalan apa ya?! Entahlah *maap lupa*. Bahagia memang kalau melihat jejeran pempek dengan sistem touchscreen (tinggal tunjuk, terus digorengin). Dekorasi ruangannya juga lebih hits dari resto-resto pempek yang pernah saya datangi. Pada dinding tertulis sejarah pempek, yang konon pertama kali diperkenalkan oleh seorang perantau Cina di awal tahun 1600-an. Gak cuma itu, dindingnya juga dihias dengan kain songket Palembang yang kewl banget!

 *plo plo, plis kontrol muka plo*



Bisa dibilang, di sinilah saya menemukan sensasi ‘foodgasm’ dalam kategori pempek. Cuka nya enak banget, debesss! Cuka nya kental, mantap, dan pedesss, kayak omongannya Leily Sagita di sinetron Tersanjung. Tentu nggak akan seenak itu kalau nggak didukung oleh lenggang, lenjer, pempek telor dan adaan yang rasanya gurih enak. Rasa pedas di lidah pun diberantas dengan treat yang sungguh menyenangkan: es kacang merah. Slurrrp! 
.

Kenyang pol makan pempek, kemudian eneng lanjut lagi ke pick up point untuk janjian dengan bapak pengemudi menuju Tanjung Enim. Perjalanan 4,5 jam itupun dilalui dengan perut kenyang bahagia dan tidur pulas karena kekenyangan. Ihiy, jadi penasaran nyobain Martabak Har (di tempatnya yang asli), mie celor dan pindang di tempat-tempat kuliner hits Palembang!