28 Desember, 2014

Pengalaman Delay 24 Jam: Antara Nyesek dan Nyengir


Delay sejam dua jam rasanya sudah biasa. Tapi kalau sampe seharian? Aheum, dongkol juga ya sis. Oktober lalu, saat perjalanan pulang Palembang – Jakarta. Saya naik pesawat dengan keberangkatan (kalo nggak salah) jam 19.20. Berangkat dari Tanjung Enim jam 10.00, kemudian sampai Palembang jam 16.00. Sudah sempat mampir ke Pempek Beringin di Jl. Radial dulu, baru kemudian ke Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II.

Di daerah Prabumulih

Kondisi cuaca menuju Palembang sudah berasap tapi nggak pekat, kabarnya karena ada kebakaran lahan yang hebat dan asapnya nggak kabur-kabur. Bahkan sebetulnya asap sudah ‘sampai’ ke Tanjung Enim yang jaraknya lebih dari 200 km. Di pintu gerbang Bandara, jarak pandang cuma sekitar 20 meter-an men! Bener aja, ruang tunggu Bandara udah mirip acara kenduri, rame bener.

22 Desember, 2014

Piknik Sekitar Jakarta: Taman Wisata Alam Gunung Pancar



 Mana lagi destinasi piknik seru murah meriah di sekitaran Jakarta? Taman Wisata Alam Muara Angke udah, SalabintanaSukabumi udah, Kebun Raya Bogor udah, Monas apalagi. Wuokeh, mari kita ke Taman Wisata Alam Gunung Pancar!


DI MANA LOKASINYA?

Di Sentul, kakak. Hanya sekitar 15 menit dari destinasi jalan-jalan di Sentul macamnya Masjid Andalusia, Masjid Azzikra, ataupun restoran AhPoong dan Sentul EcoPark. Apalagi sama The Jungle Sentul Nirwana, itu sih tinggal melakukan lompat harimau kira-kira hmm, 700 kali lah *PR ya choy*

03 Desember, 2014

Bikin Usaha Online Shop, Ini Dia Beberapa yang Harus Dihindari

Sebagai orang yang sesekali belanja online, tentu saya punya opini dan kesan tersendiri. Apalagi zamannya kuliah pasca, saya juga sempat nyoba jualan binder online walopun sekarang lagi off dulu. Pendapatannya lumayan bangets dengan modal tenaga dan biaya 0 Rupiah! Nah dari situ, saya mulai belajar deh tuh mengenali siapa market saya, karakter umumnya gimana, serta Do and Dont’s yang harus diperhatiin. Tentunya ini postingan bukan hasil copas/repost, karena saya mikir sendiri sodara sodaraaa! Ini dia:


19 November, 2014

Karena Curhatan Adalah Doa

.
Ada seorang teman, tidak terlalu akrab, tapi cukup sering berbagi pikiran. Suatu malam, saya duduk di sampingnya, dan menduduki status sebagai gadis yang sedang nebeng pulang karena arah rumah searah. Obrolan kita tak jauh dari rasa tidak aman mengenai Tesis. Kami khawatir akan Tesis yang tak kunjung selesai dan rasanya mampet. Kami takut kalau harus menghadapi kemungkinan terburuk, tidak bisa lulus di semester 4. Lebih lanjut lagi, kami tak bisa membayangkan kalau harus membayar semester 5 yang belasan juta itu, (hanya) karena ketidakmampuan kami menyelesaikan Tesis tepat waktu (sementara yang lain bisa).

Beberapa bulan kemudian, kami berdua lulus dan wisuda di hari yang sama.

Dengan lawan bicara yang sama, sempat juga kami berbagi soal proyeksi dan keinginan dalam sektor karir. Kami yang masih hijau dan belum banyak mengenyam pengalaman kerja ngiler dengan banyak teman lain yang tampak sudah lebih matang karirnya. Apalagi, dinas di luar kota bahkan luar negeri yang tampaknya begitu menggiurkan. Rasanya wow sekali bisa menjelajah suatu tempat tanpa keluar biaya, dan mengalokasikan 70% waktu untuk kerja dan sisanya untuk cari pengalaman baru di wilayah orang.

Beberapa bulan kemudian, saya bekerja di sebuah institusi yang punya ciri ‘kantoran banget’. Baju rapi, masuk setengah delapan pagi. Kantor ini mengharuskan saya terbang ke sebuah Kabupaten di Sumatera Selatan. Lebih lanjut lagi, kini saya intens melakukan perjalanan dinas dengan waktu dan jarak tempuh yang lumayan menyita waktu dan tenaga. Menghadapi orang-orang ‘lapangan’, bahkan ikut ‘main-main’ di lapangan. Akhirnya bisa tahu bagaimana ‘rasa’-nya. 

Well, karena kalimat adalah doa, bukan? 
.

20 Oktober, 2014

Pertemuan dan Anak Tangga

Ada terlalu banyak alasan mengapa kita wajib bersyukur pada Sang Pencipta.  Termasuk adalah pertemuan-pertemuan. Salah satu yang paling wow, ihiy dan joss adalah pertemuan dengan Af.
.
Kami diperkenalkan melalui ‘jasa’ seorang teman yang mengenal kami berdua. Dari awal perkenalan, yang saya tahu Af adalah orang yang paling antusias mendengar cerita-cerita saya, dan sampai saat inipun masih tetap begitu. Af adalah orang paling kepo sejagad Bekasi raya. Dan kepo itu akhirnya menular, hingga berubah menjadi kita yang sama-sama mencari tahu. Hmm, tempe juga sih. Enak pake sambel. *Ih ih jayus ihhh*
.
Saat itu, kami sedang berdiri di atas anak tangga yang sama. Sedang menyelesaikan tugas akhir kuliah Pasca. Lebih rinci lagi, kami adalah 2 mahasiswa yang sedang resah-resahnya karena kepingin cepet lulus dan Tesis kelar.

Pada saat itu, kami juga sama-sama terjangkit tongpis. Kantong tipis. Typical mahasiswa yang satu bergantung pada tabungan hasil 2 tahun bekerja, dan satu lagi dari upaya jual beli hal-hal berbau hardware untuk meminimalisir ketergantungan akan transferan orang tua.

Secara pribadi, saat itu kita tidak punya daya berlebihan untuk menyenangkan satu sama lain secara materi. Namun ada hal lain yang berperan sebagai perekat, yaitu: saling memberi semangat.

Hingga akhirnya….. saya lulus terlebih dulu dari Universitas Indonesia. Tentunya lega dan bahagia. Otak yang kusut, jam tidur yang berantakan, kekhawatiran ini itu, dan berbagai rintangan akhirnya terlewati. Af tahu betul bagaimana jatuh bangun eh jatuh lagi dan kemudian bangun kembali- saya untuk menyelesaikannya. Kami melewati fase ini bersama-sama. Kemudian 2 bulan berselang… kabar bahagia itu datang juga. Af akhirnya lulus dari Institut Teknologi Bandung.
.

Di hari wisudanya, untuk pertama kali saya melihat Af tampil sangat rapi. Kemeja, celana bahan, sepatu kulit, kemudian jas dan dasi. Senyumnya tak putus-putus. Di hari wisudanya, Af seakan bilang: We made it! We made it! Kita sudah lulus!
.
Kami, khususnya saya begitu percaya jika pertemuan dan anak tangga adalah sesuatu yang berkorelasi. Pertemuan mengantarkan kita pada pijakan ke depan. Apabila deretan anak tangganya masih berupa semen, akan ada pertemuan dengan pihak lain yang membawa kita menambahkan keramik, cat tembok, serta lukisan maupun pegangan tangga yang lebih kokoh. Bisa berupa job offer yang lebih menarik, beasiswa sekolah lagi, peluang usaha yang menjanjikan, dan lainnya. Yang jelas kami berharap ‘pertemuan’ ini dapat terus membawa kebaikan. Sampai ke depan. Aamiin.

12 Oktober, 2014

Minggu Pagi di Tanjung Enim, Belanja di Pasar dan Main Ke 'Kolam Ikan'

 bersama ikan nila merah yang merasa akan diberi makan dan mendekati akyu

Apa yang akan Agan lakukan saat sedang berada di kota orang dan memasuki waktu weekend sementara hanya seorang diri di mess? Alhamdulillah, akhir pekan ini banyak sekali orang baik yang menawarkan diri untuk menghalau potensi kebosanan eneng di akhir pekan. Ada yang bersedia pinjemin motor untuk jalan-jalan, ada yang ajak makan di Muara Enim, bahkan ada juga kenalan yang sms dan menawarkan diri untuk nganter dan nemenin jalan-jalan. Alhamdulillah baik-baik banget sama eneng... :')

Ternyata takdir berkata lain. Jam 7 pagi setelah selesai jalan pagi dan sarapan, saya berpapasan dengan seorang kenalan, Ibu Yeni. Ibu Yeni yang baik langsung 'culik' saya masuk mobil untuk ikut jalan-jalan Minggu pagi, dan pergi bersama teman beliau, Bunda Titiek. Dasar anak yang mudah terhasut, eneng langsung cengar-cengir bahagia karena ternyata Minggu pagi nggak dihabiskan nonton Doraemon sambil ongkang-ongkang kaki doang.

Setelah mampir ke rumah Bunda Titiek yang kewl banget karena banyak pohonnya, off we go to one of the coolest place in town: pasar! Kenapa? Kenapa? Seriously, eneng seneng banget ke pasar loh mak! Di pasar, terutama di kota lain, pasti ada hal baru yang akan kita lihat dan kita tahu. Ihiyy! Highlight hari ini adalah... di Pasar Tanjung Enim, jagungnya besar-besar, banyak yang jualan jengkol (entah apa jenisnya, jengkolnya cenderung berbentuk seperti lingkaran, bukan gepeng-gepeng), cabai merahnya lebih kecil dan keriput tapi katanya lebih pedasss, dan juga banyak tomat mini yang enak dimakan langsung!

 Destinasi kesekian, Bu Yeni dan Bunda Titiek ajak saya ke 'kolam ikan', sambil bercerita tentang masa lalu kawasan PT Bukit Asam. Melewati kawasan Karang Tinah yang merupakan kawasan pemukiman padat semi permanen, dan dulunya adalah tempat pemukiman karyawan PTBA.

Perkiraan saya adalah kolam ikan sebagaimana umumnya, cuma satu cerukan yang nggak terlalu besar. Tapi ternyata tempatnya menarik banget, yaitu budidaya ikan! Ada ikan lele, nila, patin... Tempatnyapun asik, tenang, damai, dan seru.

Seumur-umur, baru ini ngeliat pohon alpukat. Buahnya besar-besar dan banyak!

Kolam ini adalah bagian dari Corporate Social Responsibility dari PT Bukit Asam. Hasil dari ikan-ikan ini juga pada akhirnya bisa dinikmati warga PT Bukit Asam, termasuk tamu kayak saya lewat masakan yang disajikan sehari-hari. Saat pulang, sayapun diajak berputar-putar kawasan PT Bukit Asam yang  luaaaaasss dan fasilitasnya lengkap. Akh, asyiknya jalan-jalan singkat di kota orang pagi ini!

07 Oktober, 2014

(Cuma) 2 Jam di Palembang: Dari Jembatan Ampera Ke Pempek Beringin

.
Assalamualaikum universe!

Awal Oktober ini, saya kembali dapat tugas Dinas di Sumatera Selatan. Dimana neng, dimana? Di Tanjung Enim, kakaks! Waktu tempuhnya sekitar 5 jam dari Bandara Palembang. Keberangkatan kali ini, eneng memundurkan jadwal penjemputan oleh pihak klien *ejiyeee plora punya klien*, mau jalan-jalan di Palembang dulu kan ya sis bro rahimakumullah.
.

Kemana aja?

Sebagai anak muda, bahagia dan banyak maunya, eneng tentu mau ke kota Palembang. Kalo kata tante Fergie, lokasi ini namanya Ampera Bridge itu London Bridge kali Plo alias jembatan Ampera. Jarak tempuhnya sekitar 20 menit dari Bandara. Rona bahagiapun langsung merekah di gigi saat mobil bergerak mendekati sungai Musi. Awww, aku di Palembang! Dan jembatan ikon Palembang sepanjang 1.200 meter ini hits sekali! Setelah parkir di depan Benteng Kulo Besak, eneng langsung kegirangan nyebrang dan jalan menuju bibir sungai Musi.
 
.

Karena masih jam 2 siang, panasnya cukup memberikan efek jemuran kering, serta angin yang membawa rok gebyar-gebyar. Sayangnya karena bertepatan dengan Hari Raya Idul Adha,resto-resto di pinggir sungai Musi nya tutup. Padahal kan kece banget ya makan di sana.

.

Mulanya, jembatan ini dinamakan Jembatan Bung Karno, sebagai bentuk penghormatan pada sosok Presiden RI pertama yang serius mengakomodir keinginan warga untuk memiliki jembatan di atas sungai Musi. Tapi akhirnya sebutannya bergeser menjadi ‘Jembatan Ampera’. Yang canggih, sampai tahun 1970, jembatan ini bisa di naik dan turunkan lho kalau ada kapal besar lewat!

.

Karena waktu sempit, mari lanjots makan pempek! Saya segera meluncur ke Pempek Beringin di Jalan…. Hmm…. Jalan apa ya?! Entahlah *maap lupa*. Bahagia memang kalau melihat jejeran pempek dengan sistem touchscreen (tinggal tunjuk, terus digorengin). Dekorasi ruangannya juga lebih hits dari resto-resto pempek yang pernah saya datangi. Pada dinding tertulis sejarah pempek, yang konon pertama kali diperkenalkan oleh seorang perantau Cina di awal tahun 1600-an. Gak cuma itu, dindingnya juga dihias dengan kain songket Palembang yang kewl banget!

 *plo plo, plis kontrol muka plo*



Bisa dibilang, di sinilah saya menemukan sensasi ‘foodgasm’ dalam kategori pempek. Cuka nya enak banget, debesss! Cuka nya kental, mantap, dan pedesss, kayak omongannya Leily Sagita di sinetron Tersanjung. Tentu nggak akan seenak itu kalau nggak didukung oleh lenggang, lenjer, pempek telor dan adaan yang rasanya gurih enak. Rasa pedas di lidah pun diberantas dengan treat yang sungguh menyenangkan: es kacang merah. Slurrrp! 
.

Kenyang pol makan pempek, kemudian eneng lanjut lagi ke pick up point untuk janjian dengan bapak pengemudi menuju Tanjung Enim. Perjalanan 4,5 jam itupun dilalui dengan perut kenyang bahagia dan tidur pulas karena kekenyangan. Ihiy, jadi penasaran nyobain Martabak Har (di tempatnya yang asli), mie celor dan pindang di tempat-tempat kuliner hits Palembang!

17 September, 2014

……. Ternyata Kita Lebih Butuh Didengar


Bercerita adalah bagian dari penyampaian rasa. Kita mencari-cari untuk tahu, lalu butuh telinga orang lain untuk mau mendengar takjub, kesal, ataupun bunga bahagia. Pun dengan kalimat tanya di kepala. Selain untuk mencari jawaban, bercerita dan mengajukan tanya sebetulnya dilakukan sebagai aksi melarikan diri. Dari apa? Dari gelombang tanya dan emosi yang terus menggelembung di otak dan hati.

Terjawab? Belum tentu. Bertanya bukan semata untuk mencari jawaban dari paradigma orang. Pada akhirnya, Kenapa, Bagaimana, dan kok bisa sih? Akan terjawab dengan alamiah. Bukan dicetuskan dari kepala orang lain, melainkan kita sendiri yang punya jawaban. Oke, secara lebih rinci, bercerita membantu kita membuka dan mengurai benang di kepala. Benang itu awalnya terurai baik, namun akhirnya berputar kusut karena diprovokasi amarah, emosi dan prasangka buruk.
.
Begini mekanismenya. Saat bercerita, kita punya kewajiban untuk membuat lawan bicara mengerti dan mencerna kalimat kita dengan baik. Dengan begitu, kita akhirnya membuat pemetaan di kepala, agar cerita yang disampaikan bisa runut dan tersampaikan jelas. Seiring dengan lontaran kalimat, akhirnya yang kusutpun terurai, dan berujung pada apa yang kita cari. Korelasi masalah, sebab akibat, spekulasi yang lebih logis, dan akhirnya: solusi. Lawan bicarapun sifatnya hanya ‘memfasilitasi’.
.
Masalah lain adalah, bagaimana mencari, atau menjadi pendengar yang baik? Oke. Menurut saya, berhenti berusaha tampak pintar, ataupun member saran yang sebetulnya kita nggak paham-paham amat maksudnya bagaimana. Kadang, orang mumet hanya butuh pertanyaan sederhana yang ringan. Nah, yang ringan dan sederhana itu yang justru sering ‘membangunkan’ seseorang dari kalut dan bingung nya. Menjadi pendengar yang baik berarti bisa meresapi, juga memaknai cerita.

Konklusinya: sebetulnya kamu tahu jawaban masalahmu. Hanya nggak mau benar-benar mendengar.


17 September 2014, Tanjung Enim, Palembang, Sumatera Selatan. 
Ditulis oleh seorang perempuan muda, sebut saja ‘Bunga’

05 Agustus, 2014

Liburan Ekonomis di Mandalawangi Camping Ground, Cibodas, Puncak


Nyari destinasi liburan buat keluarga dengan budget mini tapi seru nya maksi? Lagi liburan di Puncak dan bingung mau kemana? Mandalawangi yang terletak di area Kebun Raya Cibodas bisa jadi salah satu tujuannya. Nggak repot bawa anak kecil, jalan nya nggak terlalu jauh, tapi tetep seru dan bisa piknik. Ada sungai, ada danau, ada pohon-pohon, dan ada rerumputan buat lari-lari anak kecil. Biaya masuknya juga terjangkau, Rp 6.000 aja per orang. Cocok lah ya di kantong. Eike dan keluarga pun iseng jalan-jalan ke sini, mumpung lagi ada di Puncak. 




Mandalawangi merupakan camping ground yang terletak di dalam kompleks Kebun Raya Cibodas. Jadi Mandalawangi utamanya dimanfaatkan buat camping, tapi area nya luas dan bisa sekaligus buat jalan-jalan. Begitu beli tiket dan masuk, langsung keliatan batang pohon besar sebagai 'pintu masuk' sekitar 20 meter di depan. Setelah naik tangga beberapa meter, langsung deh ketemu jembatan komodo! Si komodo ini juga berfungsi sebagai jembatan ke dataran seberangnya membelah sungai. Asik juga ngademin kaki di sungai kecil di sebelahnya. Ada titian tali di atasnya buat kamuh kamuh yang pengen main beginian. Hrateys!

Di sini, udah langsung keliatan tenda-tenda yang dipake buat nginep. Tempatnya kalo dijelajahi luaaass, tinggal pilih mau deket pintu masuk, deket warung/MCK, atau agak jauhan supaya lebih tenang dan nggak ganggu tenda sebelah karna rame sama temen-temen. Di sini, rata-rata yang kemping keluarga kecil dengan anak-anak balita, tapi banyak juga yang nginep bareng-bareng temen. Ih seru yah. Boleh lah nanti kalo udah punya anak. Eciye, ihiy. 

Ada beberapa pertimbangan yang bikin kemping di sini asik:

- Deket ke pintu keluar dan parkiran mobil
- Deket kantor pengelola, jadi kalo ada apa-apa nggak susye
- Walopun ada di bagian depan, tapi dinginnya puncak dan segernya udara tetep berasa banget
- Penyewaan, konsumsi dll tersedia semua. Kalo nggak mau repot dan budgetnya masuk, semuanya bisa aja disediain pihak Mandalawangi
- Kids-friendly, cocok banget buat ngenalin anak ke alam bebas


Segitu doang? Enggak doooong... Lihat aja keterangan lokasi yang mengarah ke danau atau rumah Korea. Nggak nyampe 100 meter, ada danau yang tenang, bersih dan ademmm. Di sini ada penyewaan perahu dengan tarif Rp 100.000/jam atau Rp 20.000 buat satu putaran. Satu perahu bisa diisi 4-5 orang. Sewa satu putaran juga udah lumayan seru kok. Di atasnya juga ada titian tali, yang juga gratis dan asik buat dicoba. Fasilitas toilet dan warung juga ada. Oh ya, Musholla nya juga adem bangets dan letaknya ke tengah danau.

Nah, soal kemping, eneng udah nanya-nanya sama ibu-ibu pemilik warung yang kemudian ngasih brosur. Ini dia rincian biaya penyewaannya:
Tenda pleton Rp 1.000.000/malam, kapasitas 50 orang
Tenda citarum Rp 150.000/malam, kapasitas 8 orang
Tenda dom Rp 50.000/malam, kapasitas 4 orang
Jenset Rp 500.000/malam
Matras spon kecil Rp 10.000/malam
Sleeping bag Rp 10.000/malam

Kalo nggak mau repot bin ribet, ada juga paketannya, mulai dari Rp 145.000 sampai Rp 175.000/orang per malam, termasuk makan 3x sehari, api unggun, sleeping bag, komplit semuanya deh. Tersedia juga paket makanan boks dan juga snack. Hmm, pas dicek ke blog nya Mandalawangi, harga yang tertera agak beda. Jadi monggo di re-check lagi :)


FYI, Mandalawangi, dan Kebun Raya Cibodas secara keseluruhan gampang banget dijangkau buat yang naik kendaraan umum. Berdasarkan pengalaman pribadi, banyak pilihan buat ke sini. Kalo dari Jakarta, tinggal naik bus arah Tasik ataupun Garut via Puncak. Naik bus 3/4 bernama Parung Indah (Kp. Rambutan - Cianjur) juga bisa jadi pilihan dengan tarif sekitar Rp 15.000/orang. Nanti minta turun di pertigaan Cibodas, langsung dilanjut angkot menuju Cibodas @Rp 3.000 deh. Turunnya persis di depan Mandalawangi, karena tempat ini lokasinya agak di depan dan nggak perlu jalan kaki jauh. Asik yess!

02 Agustus, 2014

Trekking Santai Menuju Curug Cibeureum, Gunung Gede Pangrango


Libur Lebaran 2014 ini akhirnya kesampaian ngelakuin salah satu keinginan sederhana selama ini: trekking di kaki gunung Gede Pangrango. Kenapa? Soalnya saya terbilang sering dan familiar banget sama Puncak. Penginapan tempat saya dan keluarga biasa nginep pun cuma beberapa puluh meter dari belokan menuju Kebun Raya Cibodas sebagai 'gerbang masuk' menuju Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Tapi ya belom pernah nginjek tempat ini.

Naik apa? Tentunya naik angkot dong, best option banget ini! Bayangin, kalo naik mobil pribadi, kita mesti bayar beberapa kali, dari gerbang depan sampai pintu masuk (keduanya dihitung biaya per satu orang). Parkirnyapun jadi agak jauh. Sementara kalo naik angkot, Rp 4.000/orang udah bisa masuk tanpa bayar lagi di gerbang depan, dan bisa turun di lokasi terjauh angkot. Hahaha, asik + hemat kan ya!

Tips 1: Naik angkot ke arah Kebun Raya Cibodas supaya hemat dan efisien. 

Beres jalan-jalan bareng keluarga, saya dan adek memisahkan diri. Kita jalan kaki ke kawasan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango, yah kira-kira 1km deh. Jalannya landai, cuma di depan gerbang masuk yang jalannya berubah jadi tangga berundak. setelah jalan 300 meter ke atas, kita tiba di loket masuk taman nasional. Biaya masuknya Rp 11.000/orang untuk berwisata, termasuk biaya asuransi. 


Di loket karcis, saya sempat tanya-tanya soal ketentuan naik gunung di sini. Menurut bapak-bapak petugas, kalau mau naik gunung harus daftar dulu via email seminggu sebelum hari pendakian. Setelah dapet email konfirmasi balasan dari pihak Taman Wisata Gunung Gede Pangrango sebagai izin, baru deh boleh naik. 

Tujuan kami adalah air terjun Cibeureum, dengan jarak 2,7 km dari loket. Bapak petugas sempat memperingatkan kami untuk hati-hati menjaga dan bawa kamera SLR, karena cipratan dari air terjun Cibeureum lumayan deras dan beresiko buat kamera. Okeh pak, makasih infonyah!

Di papan, tertulis beberapa peraturan buat pengunjung. Antara lain: fisik dan stamina oke, bekal yang cukup, nggak buang sampah, tidak mengganggu satwa, dan nggak merusak tanaman. Setelah berkaca, hmm, fisik lumayan oke, lagi bersemangat. Bekal? naah, baru inget, saya + adek belom makan siang (makan nasi pastinya). Baru ngemil2 gorengan aja, dan kita cuma bawa bekal air mineral sebotol. Buang sampah? Tentu kalo ini (Alhamdulillah) kami nggak perlu diajarin lagi. Yuk mariii cabcus!

Tips 2: Yakin kalo badan fit dan udah isi perut. Sok aja mau bawa anak kecil, tapi pastikan anaknya seneng dan kuat!


Estimasi perjalanan yang tertulis di papan menuju curug Cibeureum adalah 1 jam. Berhubung eneng nubie dalam soal nanjak per-nanjakan, waktu tempuhnya jadi 1,5 jam. Itu udah termasuk istirahat 15 menit sekali, hahaha, apalagi di 1 km terakhir yang tangga pijakannya semakin tinggi. Seperti jalan-jalan ke gunung Kelud, Bromo, juga bukit Sikunir Dieng, eneng ternyata masih belum mampu atur nafas dengan baik, benar dan mumpuni. Masih aja kepala terasa 'kemeng' kayak kurang oksigen. Much better dari sebelumnya yang pake acara sesak nafas. hahaha.

Sepanjang jalan banyak ketemu dengan sesama pengunjung curug Cibeureum dan juga pendaki gunung Gede Pangrango. Nggak sedikit yang bawa anak kecil, dan yang juara adalah banyak cewek-cowok ber outfit kayak mau ke mall. Flat shoes, sendal jepit teplek, bahkan ada yang pake sepatu kulit! Juara banget deh, saya yang pake sepatu olahraga aja masih terasa licin, gimana yang pake alas kaki macem itu? Sepanjang jalan juga banyak terlihat orang nyeker alias jalan kaki, ataupun duduk sambil mengistirahatkan kakinya yang lecet karna sepatu. Sampe ada mbak-mbak yang nangis lho karna kakinya sakit!

Tips 3: Pake sepatu yang sesuai, please!

Sepanjang jalan, ada aja pengunjung arah balik yang 'iseng'. Kalimat-kalimat kayak "balik aja teh, masih jauh banget" atau "jam segini baru naik, mau turun jam berapa?". Nyebelin kan yah hahaha. Untungnya semangat eneng nggak kendor, pantang pulang sebelum nyampe lah! 


Soal pemandangan, akhh tentu aja keren bingits. Sebagai kaskuser dan sesuai dengan namanya, Flora, saya emang doyan banget liat yang ijo ijo. Udaranya juga seger khas pegunungan. Saat berjalan, kita bakal nemuin beberapa titik, yaitu pos pertama sekitar 30 menit perjalanan. Katanya sih ada pusat informasi dan toilet, tapi entah saya nggak notice ada keduanya, selain plang bertuliskan pos pertama. Kemudian ada pos kedua di dekat Telaga Biru. Airnya berwarna biru kehijauan karena ada ganggang hidup di dalamnya yang bikin warnanya berubah biru. 

2 km 'disuguhi' jalan nanjak dan nafas udah sepotong-potong, rasanya bahagia sentosa alangkah indahnya ketika akhirnya menemukan jembatan panjang yang jalannya mendatar. Akhirnya nggak nanjak lagiii! Jembatan ini terletak di atas Rawa Gayonggong, yaitu cekungan yang terbentuk dari kawah mati, dan didominasi oleh rumput gayonggong. Rawa Gayonggong ini daerah jelajah macan tutul lho! Lalu kenapah aku nggak ketemu macan tutul? *sok berani *liat anjing pudel aja takut

Dari jembatan ini, ketemulah pos ketiga di sebuah pertigaan. Kalo ke kiri, arahnya menuju pendakian Puncak Gunung Gede. Nahh, kalo mau ke curug Cibeureum, tinggal lanjut lurus. Jaraknya masih 15 menit-an lagi. Semangat!



Huhah! Akhirnya ketemu juga sama curug Cibeureum. Curug Cibeureum juga 'tetanggaan' dengan curug Cikundul dan curug Cidendeng. Di antara curug lain di kawasan ini, curug Cibeureum yang aksesnya paling terbuka, jadi paling rame. Tingginya 40an meter di ketinggian 1675 meter di atas permukaan laut.

Curug Cibeureeum ini banyak bangeeet pengunjungnya, juga banyak bangeeet sampahnya! Sedih ya. Karena terlalu banyak orang, saya cuma duduk di atas batu. Duduk pun udah berasa dingiiiin banget. Kelar liat-liat dan foto-foto, saya dan adek langsung berencana turun lagi. Nggak sampe 20 menit duduk di sini. 

Tips 4: (merasa) keren dan oke tidak ada artinya kalo elo masih menganggap buang sampah di mana aja adalah sesuatu yang biasa. Plis jangan buang sampah sembarangan plis!

Perjalanan turun justru bisa ditempuh kurang dari 1 jam. Saya jalan dengan lancar, nggak pake istirahat, nafas juga teratur. Tapi eh tapi.... kaki yang sekarang jadi nyeri. Batu pijakannya besar-besar da nggak beraturan, jalan yang menurun, bikin saya harus ekstra hati-hati supaya nggak tergelincir, kepeleset, ataupun kesandung. Lumayan 'berasa' yah bok :)))



Jam 5 sore, kita berdua udah sampe di area bawah Kebun Raya Cibodas. Langsung disuguhi pemandangan macet parkir, nggak bergerak sama sekali bahkan udah macet dari ujung dalam jalan. "Jalan kaki aja yuk, nanti naik angkot pas udah nggak macet", kata saya. Sebelum pulang, kita mau cari makan dulu. Pas ngecek dompet, eng ing eng, duit eike tinggal Rp 20.000, pas banget buat makan berdua, itupun kalo cukup. Teruuus mau bayar angkot pake apaaaa?

Ternyata...... macetnya parkir, diem, nggak gerak, parah akibat pengunjung membludak di libur Lebaran. Kita yang jalan kaki udah juauhhh lebih cepet dibanding yang naik mobil dan stuck di tengah macet. Jalan kaki karna nggak punya duit buat bayar angkot berubah jadi bersyukur, untung nggak naik angkot. Hehehe. Lumayan shay, tambahan jalan kaki 4km, sambil nyanyi, ngobrol dan becanda di sebelah orang2 yang cemberut gegara macet!


Tambahan: 
Adek saya merekomendasikan makan nasi goreng di tempat yang (katanya) enak. Lumayan, sekitar 1,5km dari gerbang Kebun Raya Cibodas. Namanya Fahri Cafe, letaknya kalau arah turun dari kebun raya ada di sebelah kanan. Tempatnya bersih, ada area parkir dan ada di sebuah bangunan. Menu nya seputar nasi goreng, mie goreng, dll. Masaknya juga cepet. Pesanan saya kwetiaw goreng (pedas manis) seharga Rp 10.000. Ini enak banget! Debesss!