27 Oktober, 2013

Ngekost itu (ternyata) ngangenin


     Tepatnya September 2012, pertama kali gue memegang predikat ‘anak kost’. Kostan pertama adalah tempat yang sebetulnya nggak kepingin gue muncul-munculin lagi di kepala. Tempatnya traumatis. Jorok maksimal. Banyak tikus. Dengan tetangga depan yang ganjen, dan tetangga kamar yang suka bawa cowok plus doyan nyetel house music sampe jam 11 malem dan dimulai lagi dari jam 6 pagi. Cukup sudah bro. Kostan di gang 1 Paseban itu memori buruk. 4 bulan dengan sebulan terakhir dibetah-betahin. 

.
 Ini tampilan si kostan kedua. Adem, tentrem, cocok buat menyepi dan mendirikan peternakan reptil bergigi lima. 


      Setelah libur dan masuk semester baru, akhirnya pindah ke kostan baru di Februari 2013. Lebih rumahan, ada ibu kost dan tempatnya strategis. Persis di pinggir jalan Salemba Raya (literally), sebelah kantor PBNU. Tempatnya biasa, sederhana, tapi manusiawi dan nyaman. Yang dikangenin bukan siapa. Tapi ‘apa’. Tiap pagi gue jalan kaki sampai ke Cikini, naik Kopaja ke kantor di Warung Buncit. Tiap pagi, cari sarapan di kawasan stasiun Cikini dulu. Dari rutinitas itulah kenapa gue seneng ada di kawasan Gondangdia-Cikini, jalan kaki di situ. Kalau kebetulan ada temen, kadang-kadang juga cari sarapan bareng.

     4 bulan di sini rasanya apa ya. Nikmat. Kalau males langsung pulang, biasanya beres kuliah bisa langsung naik bajaj ke Metropole dan nonton bioskop. Dulu bahkan intensitasnya bisa seminggu 2x. Kalo gak nonton ya cari makan. Sering juga langsung pulang, sambil nyanyi-nyanyi jalan kaki, atau belanja di Alfamidi seberang kampus. Semalem apapun pulangnya, pasti bisa bangun jam setengah 5 untuk beresin cucian, sebelum jemuran penuh sama cucian anak kost lain. Pulang malem pun nggak terlalu was was karena persis depan kostan adalah portal dan ada satpamnya. 


 Gambar 1: kalimat dosen ini lebih sakti diingat dibanding materi kuliah itu sendiri.
Gambar 2: reward setelah jalan kaki jauh, keringetan dan betis berkonde.


     1 minggu terakhir ngekost di sini, bener-bener dimaksimalin. Alurnya sering begini: turun Kopaja di stasiun Gondangdia, cari makan malem di sekitar situ atau di Cikini/TIM, sholat di masjid Cut Meutia, terus jalan kaki sampe kostan sambil pasang earphone. Entah ya, rutinitas itu terasa nyaman banget, kayak punya quality time, hmm kali ini bener-bener akrab banget sama diri sendiri. Rasanya kayak nemuin another comfort zone, karena tentu rumah dan keluarga jadi zona ternyaman.

Iya, gue kangen. Kangen. Kangen. 

23 Oktober, 2013

Kenapa Harus Naik Kereta Api?



Sebuah tulisan di situs Kompa**ana sempat membuat saya menganggukkan kepala tanda setuju, tapi juga miris. Si penulis adalah pengguna layanan kereta api Jabodetabek. Ia mengungkap jika kalau waktunya dan keluarga jadi berkurang karena setiap hari ia harus cari nafkah di ibukota dan meninggalkan rumahnya di kawasan Tangerang. Tapi yang bikin alis naik, sang penulis mendakwa kalau pihak kereta apilah yang jadi dalang dan penyebab utama kondisi ini. Kereta yang terlambat, penuh, berdesakan, armada yang kurang, semua membuat waktunya habis. Dan si penulis berujar kalau ia sudah cukup sabar menghadapi kondisi ini setiap hari. Mungkin kesabarannya kian tipis. Dan KRL jadi sumber penyebab.

Timeline Twitter tentang kinerja kereta api Jabodetabek juga tak pernah senyap. Sebuah akun komunitas penumpang KRL sering me-retweet keluhan penumpangnya. Mulai dari AC mati, kondisi berdesakan layaknya ‘pepes’, kereta yang terlambat, sampai yang ekstrim (menurut saya), mencaci maki Direktur PT KAI, Ignatius Jonan sebagai pangkal ketidaknyamanan kereta api. Dari yang tak kenal nama ‘Jonan’, sampai akhirnya terbiasa melihat namanya berseliweran di timeline hasil retweet akun tersebut.

--
Pernah kesal dengan layanan kereta api Jabodetabek di jam-jam sibuk pergi dan pulang kantor? Sering! Terhitung sejak 5 tahun lalu, saya pengguna rutinnya. Nggak terhitung lagi berapa kali kaki saya terinjak, kepala kesenggol, badan pegal karena berdesakan luar biasa dan terkadang ada adegan dorong-dorongan, hingga (hampir) jadi korban pelecehan seksual, jadwal kereta dibatalkan, terlantar di stasiun tanpa informasi jelas.
Kondisi-kondisi ini jelas jauh dari nyaman. 


Tapi bukankah kita selalu punya pilihan?
Ada patas, TransJakarta, ojeg, taksi, omprengan. 

Patas dengan resiko banyak pengamen, ruang berdiri yang lebih sedikit, kernet yang lewat di tengah kerumunan untuk tarik ongkos (dan itu sangat nggak nyaman!), macet, copet, dan lainnya.
TransJakarta yang di jam-jam sibuk antreannya mengular. Harganya ekonomis, punya jalur sendiri dan tanpa pengamen.
Taksi yang mahal, dan ojeg yang seringnya lebih mahal dari taksi.
Dan buat yang punya kendaraan pribadi, tentu naik motor atau mobil sendiri juga bisa jadi pilihan.

Lalu kenapa masih setia naik kereta? Ini bukan tentang nggak punya pilihan. Kita jelas punya banyak pilihan, dan memilih kereta api! Jadi kalau merasa ada transportasi lain yang lebih manusiawi, cocok dengan kantong dan memenuhi ekspektasi-ekspektasi lain, kenapa harus naik kereta api? Pada akhirnya kitapun mengakui kalau kereta api lebih cepat, murah dan (setidaknya) lebih bisa diandalkan. Dibanding patas, kopaja, metro mini, ojeg dan transportasi umum lainnya, kereta api juga yang paling akrab dengan media, khususnya di media sosial termasuk dengan segala caci maki dan keluhan. Tapi di balik itu, di dua tahun ini PT KAI mendapat banyak award bergengsi, lho! Tentu prestasi ini bukan diberikan asal dan tanpa sebab kan?


Kereta jam 14.15. Jauuuhhh banget dari kondisi kereta pagi.


Sebagai konsumen, tentu saya kepingin betul kereta Jabodetabek dipersering jadwalnya dan tepat waktu. Kerusakan dan gangguan sinyal diminimalisir. Armadanya diremajakan. Dibuat agar kereta lebih nyaman buat lansia, ibu hamil dan penyandang cacat. Stasiun dibuat lebih layak dan bersih (plus peronnya lebih layak dan turun/naiknya nggak usah pake loncat di St. Manggarai!). Tapi menurut saya mengutuk-ngutuk pak direktur dan marah membabi buta ke manajemennya bukan solusi sih. Bikin badan dan kepala makin capek. Jadi naik kereta iya, tapi marah-marah juga iya. Piye tho?

Agaknya perubahan-perubahan sistem angkutan kereta api juga yang membuat konsumen jadi ‘kaget’ dan imbasnya jadi lebih sensitif karena keluar dari ‘area kebiasaan’. Dari yang dulu ada kereta kelas ekspres, AC ekonomi dan ekonomi, sekarang mengerucut jadi 1 jenis saja. Dulu pakai sistem karcis yang dilubangi, sekarang pakai sistem kartu elektronik. Dulu cenderung berdesakan, sekarang antrian ‘dipaksa’ tertib. Intinya, sekarang banyak berubah, dan belum seluruh konsumen KRL siap dengan perubahan.




Saya bukan bagian dari manajemen PT KAI. Saya sama sekali nggak kenal secara personal dengan pak Jonan yang ngetop di media sosial itu. Tapi yang jelas saya tahu kalau perubahan pasti dimulai dengan ide dasar membuat sesuatu jadi naik kelas. Perubahanpun bisa sesimpel kamar mandi stasiun yang memang belum bisa dibilang baik, tapi kini sudah layak. Perubahan begitu kentara ketika dari yang berdesakan, kini saya dan ribuan orang lain harus antri tertib saat masuk dan keluar stasiun. Dari contoh ‘kecil’ itu, kita tahu kalau PT KAI sedang terus berbenah.

Sampai akhirnya asumsi saya terjawab saat membaca ‘Jonan & Evolusi Kereta Api Indonesia’. Ternyata memang mereka berubah. Berevolusi. Internalnya makin maju, dan alasan kemajuan ini adalah faktor pelayanan ke konsumen (eksternal) yang dibenahi. Yang saya simpulkan dari buku ini adalah pak direktur orang galak dan tegas. Dua sifat yang belum tentu disukai semua orang, malah cenderung membuat orang jaga jarak. Namun intinya, pak Jonan serius membenahi perkeretaapian. Termasuk kereta Jabodetabek. Meski sebagai konsumen, menurut saya memang masih terasa kurang di banyak hal. Tapi kita juga harus lebih rasional. Demi perbaikan, kita harus dukung perubahan dan lebih optimis!