17 Juli, 2013

Bima Trip (Day 3)


Dan kini, akhirnya gue bisa betul-betul mengerti kalimatnya Daniel Atlas di film Now You See Me. “Because the closer you are, the easier it will be fool you. The closer you think you are, the less you will actually see”. Jarak yang jauh, memandang dengan jarak, justru membuka pengelihatan dan membuat gue bisa melihat sisi-sisi detailnya. proses menuju satu tujuan itu justru bisa jauuuuhhhh lebih keren, indah dan luar biasa dibanding destinasinya sendiri. Dan kecantikannya justru (oke, mengulang kata justru) baru terlihat dari jarak yang jauuuh.

Menuju pantai Kolo di kecamatan Asakota, Bima, sekitar 2 jam dari kabupaten Bima. Menghampar pantai dan teluk yang luas, berbukit, berkelok, menikung. Pemandangannya luar biasa, langit biru, gumpalan-gumpalan awan, hamparan pantai cantik. Dan pemandangan sepanjang perjalanan ini justru jauh lebih magis di mata, dibanding tujuan pantainya sendiri. Hihhihi.



PS: foto-foto di atas semuanya tanpa di edit.

Saat sampai di pantainya, ternyata.... biasa aja. Nggak ada pasir, melainkan hamparan batu-batu. Mau jalan aja lumayan sakit dan licin, gimana berenang. Tapi ternyata orang-orang sini seneng dan seru-seru aja berenang di sini. Akhirnya saya Cuma main-main di pinggirnya, nggak tahan sama banyak batu tajam. 

Ini lagi ngapain? Milihin batu yang bentuknya lucu-lucu. hehehe.

Kalau biasanya kita piknik dengan sandwich, fast food dan seabreg camilan, beda lagi kalo di sini. Bekalnya adalah ikan mentah, sayuran mentah dan aneka bahan untuk bikin sambal. Semuanya baru dibakar, diiris, dicampur on the spot. Semuanya dicuci di laut! Wudlu dan sholatpun di pinggir laut. Meski budgetnya minim, tapi senengnya maksimal

 Udah pernah ngerasain ini? Sholat, masak dan makan menu yang dimasak langsung di pinggir laut!

 Sama Ahsan (Can), hitungannya sih dia keponakan. Bandeeeeel banget tapi akhirnya berhasil ditaklukkan :) 
 

15 Juli, 2013

BIMA TRIP (day 1-2)


Yeay! Akhirnya 20 Juni datang juga. Setelah 4 tahun, akhirnya saya dan adek bisa mudik lagi ke kampung halaman asalnya bokap. Selain nengokin nenek dan ngusir asap dari kepala (saking hectic-nya UAS di kampus dan kerjaan di kantor), tanggal ini juga akhirnya kita ketemu lagi sama mamapapa. Yaks, mereka udah pergi duluan dari akhir bulan Mei. 

Ngerancang perjalanan ini juga nggak simpel. Saya dan adek sama-sama kuliah, di kota yang beda dan jadwal yang beda. Apalagi jam kerja saya lumayan panjang dengan ketentuan cuti rada strict. Plus menyesuaikan jadwal SBMPTN si adek, dan plus plus lainnya. Ditambah ortu yang maunya pergi bulan Mei. Huff emang lebih ribet ya pergi jauh sama keluarga. Hehehe. Akhirnya disepakatilah, kami pergi selang 20 hari dari orang tua. It was such a superrr busy week. Flight kami di jam 4.30 pagi, dan saya baru sampe rumah sekitar jam 11 malamnya. Barulah ngepak barang, tidur sejam, bangun lagi, mandi, cuss bandara jam 2 pagi.


Whooosaaahhh, akhirnya kita sampe di Bima jam 8.30 waktu Jakarta, setelah transit dulu di Denpasar. Rasanya agak kliyengan karena kurang tidur dan akumulasi dari hari sebelum-sebelumnya. Ditandai dengan banyaknya pria-pria bersarung turun dari pesawat dan seorang bapak-bapak yang turun pesawat langsung pipis di deket landasan (iya, pipis aja gitu doi di ujung landasan pesawat!), resmilah kami tiba di Bima. 

Di bandara, sudah ada papamama yang jemput beserta umi tua (nenek). Enggak langsung pulang, tapi kita jalan-jalan dulu ke pantai yang nggak jauh dari bandara, namanya pantai Kalaki. Jiwa keibuan yang sangat kental membuat si ibu udah siap dengan perbekalan nasi goreng dan abon, sambil duduk-duduk di pinggir pantai. Tebakan mama emang selalu tepat, kita emang kelafaran.


Yang bikin terpukau, di Bima itu pemandangan langitnya juara. Langitnya biruuuu menghampar dengan gumpalan-gumpalan putih awan yang cantik. Padahal katanya, di Bima lagi ujan terus. Tapi kita ternyata disambut dengan cuaca super cerah begini (dan alhamdulillahnya, selama kita di sana, Cuma 1x hujan). Kitapun sempat ngerasain jalan-jalan naik kapal, murah meriah, Rp 5.000 aja per orang di pantai Kalaki. Matahari yang diskon dan panasnya mentereng bangetpun nggak bikin anak-anak setempat jaim. Mereka hayu ajah berenang, meski pas keluar air gelaaaaap bener. That’s true, man. There’s no ‘sun and dirt’ allergic in their dictionary. Hihihi.

Duduk-duduk di pantai yang bersisian langsung dengan jalan utama, saya juga ‘disambut’ dengan salah satu ciri khas lain di Bima: kendaraan yang hobi ngebut. Entah kenapa, kecenderungan pengendara di sini memang ngebut dengan kecepatan yang nggak kira-kira (apalagi buat ukuran di Jakarta). Ada yang ngalangin? Siap-siap diklakson dengan volume edan-edanan, atau malah motor yang digeber. Ckckckck. 

 
Kelar main-main sebentar di pantai, kitapun langsung balik ke arah rumah umi tua di daerah Tonggondoa, Lido, kabupaten Bima, sekitar 30 menit dari bandara. Enggak banyak yang berubah, di sana sini sawah, bukit, gunung, rumah panggung, bawang yang dijemur, pria dan ibu-ibu bersarung, juga sapi-sapi di jalanan. Rumah panggung milik umi tuapun hampir nggak ada yang berubah. Tapi terasa lebih nyaman, karena mamapapa udah 3 minggu di sana, dan otomatis banyak ‘ketidaknyamanan’ yang udah diminimalisir *ribet ya bahasanya*. Misalnya ada kulkas (sewaan), dikasih hamparan kain di bawah langit-langit, juga nggak ada ayam/bebek/kambing di bawah rumah. 


Kalau dihitung, usia umi tua(namanya: ibu Hendo) sudah sekitar 90-an, dengan usia anak pertama yang sudah mendekati 70 tahun. Seiring usia, pengelihatan dan daya ingatnya semakin menurun. Badannyapun semakin kurus dan bungkuk. Rumah yang ia tempatin juga umurnya udah sekitar 110 tahun, diturunkan dari orang tuanya. Beliau juga tumbuh besar di rumah ini. Oh ya, kamar mandinya terletak di luar, dengan kendi buat wudlu yang udah ada dari zaman dulu. Kemudian barulah anak-anak hingga cucunya satu persatu bikin rumah di sekeliling rumah tersebut, rata-rata dengan ukuran yang lebih luas, lebih kokoh dan lebih berfasilitas dibanding umi tua-nya. 

Datang saat liburan sekolah juga bikin saya dan Tony, adek saya punya banyak temen kecil (kebanyakan sih masih ada hubungan saudara). Anak-anak yang tinggal jauh dari ibukota emang sering bikin saya kagum. Energi mereka gila-gilaan, nggak gampang capek, ngeluh, atau jijik-an. Kondisi kesehatannya juga ajaib. Kalau mau dijabarin, banyak hal-hal nggak lazim yang mereka biasa lakukan, tapi mereka (tampak) sehat-sehat aja. 

Contohnya mereka biasa minum air dari ember atau bahkan langsung dari bak mandi, minum dari gayung. Lebih rincinya lagi: kamar mandi yang lokasinya di luar rumah, dan kondisinya nggak bisa dibilang bersih. Hiyy! Anak-anak ini juga jaraaang banget pake sendal dan cuek aja jalan di becekan ataupun tanah lembek. Jarang ganti baju (bahkan nggak terbiasa pake celana dalam), apalagi inget untuk cuci tangan. Soal makan, mereka juga terbiasa makan dengan proporsi 80% nasi, 10% lauk kering dan 10% sayur.


   

Anak-anak desa memang terasa lebih menyenangkan. Nggak susah untuk didekati dan jadi akrab. Pola pendekatannyapun nggak macem-macem. Gunakan bahasa mereka, ajukan pertanyaan-pertanyaan dasar dan ‘manusiawi’, tuturkan bercandaan a la ‘kampung’, dan merekapun bakal cepet akrab. Bahkan sebungkus permenpun bisa jadi ‘modal’ pedekate. 








Sebenernya, rata-rata perekonomian keluarga mereka bisa dibilang cukup, tapi emang terbiasa dengan lingkungan sederhana dengan orang tua yang sibuk di sawah. Kalo saya, seneng banget foto-foto mereka dengan segala kesederhanaan dan ciri khasnya. Dan untungnya, mereka emang doyan difoto. Jangan tanya soal gaya, beuuuhhh ekspres-sip abeeeezz!





 



Kalo saya jadiin foto dan ngobrol (ciyeee yang mulai bisa bahasa Bima, ciyeee) sebagai cara pedekate, lain lagi sama Tony. Karena udah lebih dulu mudik, bokap jadi akrab sama banyak orang, termasuk bocah-bocah di sini. Nah, bokap sering nyuruh anak-anak ini buat rajin sholat, terutama di masjid, juga rajin mandi. Iming-imingnya: “yang rajin sholat, nanti diajarin silat sama abang Tony”. Yaks, adek saya emang atlet silat. Uhuii.





 

Jadilah sejak hari pertama kita dateng, anak-anak ini langsung ngumpul. Awalnya mereka banyak yang main-main dan nggak begitu respek sama si newcomer ini. Tapi begitu dikasih liat teknik mecahin genteng, wuih, mereka terpana loh! Dan selanjutnya, mereka nuruuuuuttt banget sama Tony hahahaa.Walopun baru latihan jam 4 sore, biasanya jam 2 udah pada kumpul di depan rumah. "Mada waur ndeu, waur sembea," (Saya sudah mandi, sudah sembahyang), kata mereka.

 



Salah satu hal yang selalu saya kangenin dari Bima adalah momen jalan-jalan ke sawah. Besoknya, jam 9 pagi baru jalan, dan lagi-lagi, matahari lagi diskon-diskonnya. Kita ziarah dulu ke makam abu tua (kakek) yang wafat Juni 2011, dan dikubur di bukit deket rumah. Dari situ, kita jalan lagi ke sawah milik salah satu tante yang rupanyaaaa.... jauh. Hahahaha. Sepanjang jalan, anak-anak ini nggak diem aja. Mereka sambil nyanyi-nyanyi, kejar-kejaran, lari-lari, dll. 

Di sana baru aja panen mentimun dan jagung, dan kita dibakarin jagung yang baru aja dipetik dari pohon. Di sini, biasanya tiap sawah dikelola satu keluarga, jadi kalo lagi liburan sekolah, bapak, ibu, sama anak-anaknya semuanya di sawah. Oh ya, dari 9 bersaudara, 3 orang termasuk bokap udah merantau ke Jakarta dari zaman muda, dan nikah sama orang dari pulau Jawa (dan jadilah saya hehehe). Dan ternyata banyak orang yang mengidentikkan Bima dengan masyarakatnya yang berkulit gelap. “Hah? Kamu orang Bima? Kok putih? Kok nggak kayak orang Bima?” yaiyelah broh, kan emak saya Sunda. Hihi. 



Siangnya, saya dan anak-anak (yang sebenernya semuanya masih saudara sepupu atau keponakan siiih) janjian ke kawasan wisata Bombo Ncera, sejenis air terjun dan bendungan gitulah, nggak jauh dari rumah nenek. Ehhh, taunya ujan super deras, dan awet! Jadilah anak-anak yang (akhirnya!) sudah mandi itu pada manyun hihihiii.... Sayapun akhirnya ya nggak ngapa-ngapain, Cuma duduk di tangga masuk rumah, sambil liatin bocah-bocah yang main bola tanpa alas kaki, sambil ketawa-ketawa, hujan-hujanan dan enggak capek-capek. Bok, simpel banget ya arti bahagia buat anak-anak desa. Enggak mikirin sakit. Enggak takut kuman. Cuek sama cuaca. Dan la li lu soal hidup. Yang penting seneng, itu aja. Hmm, sampai hari kedua ini, bocah-bocah ini ngasih saya banyak ‘contoh’. Dan yak, saya bener-bener menikmati dan total lupa sama kerjaan hahahahaa. 

Anyway, dilanjut di post selanjutnya ya :)

08 Juli, 2013

Halo Lombok (2)



Perjalanan Cakranegara-Bangsal ditempuh dalam waktu sekitar 1 jam dengan biaya Rp 120.000 termasuk karcis masuk pelabuhan. Supir taksinya asik, informatif dan baik sekali, bahkan kita janjian untuk besok dijemput sama doi lagi. Kita lewat kawasan Pusuk, dengan jalanan menanjak menikung berpemandangan indah dan banyak monyet liar di kiri kanan jalan. Seru!

Sampe pelabuhan, saya langsung beli tiket Bangsal-Gili Trawangan (Rp 10.000/orang plus asuransi/pajak Rp 2.500/orang). Meski sederhana, tapi keliatan kalau sistem di pelabuhannya udah tertib. Ada warna tiket, petugas yang informatif, dan enggak semrawut. Sistemnya per kuota, jadi kalau kuota penumpang (let’s say 40 orang) udah penuh, langsung jalan meski beriringan sama kapal sebelah. Karena ekonomis bareng-bareng masyarakat setempat, jangan kaget kalau di kapal isinya galon, telur, sayuran, dll.


Pemandangannya canggiiihh! Perjalanannya juga enggak lama, sekitar 30 menit aja, melewati Gili Air dan Gili Nanggu. FYI, meski Bangsal-Trawangan Cuma Rp 10.000, tapi kalau dari Trawangan mau ke Air atau Nanggu, biaya kapalnya jadi Rp 20.000 meski letak pulaunya deket banget. Sampe Gili Trawangan, langsung banyak pria-pria yang nawarin penginapan. Tapi saya keukeuh nyari sendiri, pengen liat kamarnya dulu dan uhm, menyesuaikan budget. Ini kan prinsipnya gimana kita fasilitasin orang tua yang nyaman dengan budget sesuai kantong mahasiswa hahahaha. Sebagaimana kawasan wisata, di sini ada yang muraaah, ada juga yang mewaaah. Saya akhirnya nginep di Mawar Bungalows, Gili Trawangan.

Cottage ini berapa harganya sodarah sodarah? Rp 150.000 ajah perkamar permalam! Kamarnya banyak, tinggal pilih mau konsep kamar bertembok atau ruangan panggung bermaterial kayu kayak di foto ini, dengan harga sama. Yang bikin gue malu malu adalah... konsep kamar mandinya yang kebuka. Bro, saya enggak biasa brooo kalo kamar mandinya ngablak hehehe. Fasilitasnya spring bed untuk 2 orang+kelambu, ada kaca+meja rias, kipas angin, kamar mandi shower, daaaan, ada ayunan atau apalah itu yang nyaman banget untuk bobo-bobo sambil goyang-goyang!

Meski rada jauh dari tempat turun kapal, bawa koper dan ransel, tapi ternyata saya nggak salah pilih. Di sini cenderung lebih tenang, nggak banyak hilir mudik. FYI, Gili Trawangan di akhir Juni kemarin terasa rameeeeee banget, meski hari kerja. Untunglah penginapannya berhadapan langsung sama pantai. Sebelumnya juga udah isi perut dulu di restoran Padang ‘Gili Salero’ (Rp 25.000/orang). Rasanya emang kurang ‘Padang’, rada anyeplah gitu. Tapi bule Korea di meja sebelah muji-muji penjualnya dengan bahasa Indonesia a la tarzan.


Hmm, saya ngerasa kayak nggak di Indonesia. Sejauuuuh mata memandang, isinya bule lagi, bule mulu, bule terus yang 70% outfitnya adalah bikini 2 pieces beha dan kolor sajaa. Hahaha, baru kali ini deh ke tempat yang semua orang bikini an, di Bali enggak gini-gini amat perasaan hehehe. 
 
Ah yasudahlah yaaaa, tapi pemandangannya emang subhanallah banget! Pasir putih menghampar, awan biru luaaaas, awan cantik, air yang (tampak) biru dan bening. Emang WOW banget! Sayapun sewa pelampung+alat nafas Rp 35.000/sepuasnya (maklum, enggak bisa berenang). Rada malu sih bok, soalnya jarang banget yang pake ginian, langsung nyebur aja gitu ke pantai. Sayapun snorkelingan di pinggir pantai menuju ke tengah. Airnya beninggg, dan keliatan ikan-ikan cantik dan karang-karang di bawah. Wahh, kalo aja kita stay lebih lama, asik banget nih ikutan paket snorkeling ke 3 gili (Trawangan, Air, Nanggu) dengan keistimewaannya masing-masing, harganya Rp 100.000/seharian.

Urusan makan, emang rada bermasalah nih. I just not in a good mood for hingar bingar situation. Rasanya kenyang sekali dengan penampakan bir, wine, bikini, musik super kenceng, that’s not me hehehe. Menu-menunya juga mayoritas kebarat-baratan, yang mana kurang nyambung sama lidah mama papa. Setelah sholat Maghrib di masjid besar di sana (Iyaaa, subhanallah sekali ada masjid bagus di sana. Masyarakatnya emang mayoritas Muslim, dan nemu masjid itu serasa ketemu oaseee), sayapun nyari-nyari restoran yang letaknya agak di dalem. 
 Iyesh, ketemu! Namanya Resto Kecil & Taman Thai, thanks to papan nama segede gaban di gang antara resto Fish n Chips dan ‘Yoga’. Agak masuk ke dalam, tempatnya emang lebih nyaman dan tenang tentunya. Kita satu-satunya pengunjung lokal di antara para bule. Bahkan kita disapa dengan “Assalamualaikum...”. Untungnya ini menu Asia juga, yang mana pasti rasanya nggak jauh beda dan ketelen sama mama papa. Yak, makanan di sini enak! Btw kalo biaya nginep di Trawangan bisa diteken, beda lagi sama soal makan. Di sini, budget makan sekitar Rp 50.000/orang untuk sekali makan. 

 
BESOKNYA!

Pasang alarm jam 4.30, baru beneran bangun jam 5.30. Bukan alarm yang bikin bangun, tapi ada lebah masuk ke kamar! Huahahahaha namanya juga cottage alamiah ya. Itu suara ngiung-ngiungnya kan ganggu banget. Jam 6 saya dan adek cabcusss sepedaan pake sepeda sewaan (Rp 50.000/2 sepeda untuk 12 jam). Suasana pagi di Gili Trawangan ini bikin saya nyamaaaan banget. Sepi, kosong, tenang, indah, DAN ENGGAK ADA BULE SAMA SEKALI. HAHAHAHHAA *ketawa a la Leily Sagita*. Meski sunrise udah lewat, masih ada sisa-sisanya lah ya. Dan sepanjang jalan, saya selalu berpapasan sama orang lokal. Semuanya lokal. Tamu lokal, juga masyarakat setempat. Serasa ‘balik’ ke pulau di negeri sendiri.

Berestimasi ini pulau kecil, sayapun berhasrat untuk sepedaan keliling pulau. Semangaaat banget, jarang-jarang kan gowes di pulau indah dengan backsound suara ombak. Eh ternyatah, pulaunya luas broh! Mikirnya kan kalau saya gowes terus, saya bakal ketemu tempat yang sama lagi. Eeeeeh ternyata enggak sampe-sampe! Yang tadinya excited eh jadi megap-megap takut papasan sama megaloman. Suasananya sepiii. Makin ke sana juga makin banyak pasir, yang mana sepeda harus ditenteng dan itu BERAT. Tanpa air, tanpa uang, tanpa handphone.


Istirahat dulu di pantai Sunset. Suasananya sepiiiii, tenang. Ada banyak sisa sampah dan botol bir di sini, katanya sih bekas party malemnya. Tenaaaang banget di sini.
Kak, kita puter balik aja yuk!,” kata Tony, adek saya. “Pasti udah deket ini... pasti bentar lagi....” jawab saya. Eh, ternyata setelah gowes lamaaa, jalanannya buntu! Wayolo! Akhirnya kita nemu gang ke bagian tengah pulau, lewatin tumbuhan2 liar, rumah penduduk, kandang kuda, dll. Dengan mengumpulkan sisa-sisa tenaga, akhirnya 20 menit kemudian kita sampe di cottage! *sujud syukur*

Sampe di cottage, rupanya ortu nyariin. Iyalah, anak-anaknya ngilang hampir 2 jam. Hehehee. Sayapun langsung mikir, sarapan apa nih? Dan ternyata.... ada hal yang saya enggak perhatiin, KITA DAPET SARAPAN GRATEYS DARI COTTAGE! Meski menunya sederhana, tapi rasanya nikmaaat (soalnya capek, laper, dan gratis hehehhee). 


Kelar mandi dll, saya udah mesti siap-siap packing lagi. Flight kami jam 14.20, jadi harus udah jalan dari Trawangan jam 10.30, belum lagi ke toko oleh-oleh dan beli pesanan ayam taliwang dan cuss ke bandara. Untung udah pesan taksi Blue Bird yang jemput di pelabuhan. Perjalanannya Bangsal-Lombok Praya 2 jam, dengan harga taksi Rp 170.000 (see, enggak susah naik angkutan umum di sini, insya Allah aman, nyaman dan justru lebih murah dibanding dijemput jasa travel yang tarifnya Rp 300.000-400.000 untuk rute yang sama). 
 
Alhamdulillah sampe bandara tepat waktu, karena ternyata jam penerbangan maju 20 menit! Untung udah sempet makan nasi bungkus sambil mojok di ruang tunggu dan sukses menebar aroma ayam taliwang, perut lebih aman dan tak meronta. Ahhh, singkat banget mampir di Lombok. Oh ya, btw saya akhirnya bisa menyimpulkan, kalo saya (ternyata) lebih senang suasana liburan di gunung. Tanpa hingar bingar berlebihan dan meminjam istilahnya temen saya, liburan di gunung itu lebih ‘anget di dada’. Hehehee. Tapi tentu bersyukur ya bisa mampir ke Lombok. Semoga bakal balik lagiii! :)

Halo Lombok (1)


Punya darah NTB gak membuat saya sering mengeksplor provinsi ini. Jadi kalo ditanya, orang mana? “Bima, NTB”. Banyak yang kemudian menyambung dengan kalimat “Oooo, asik dong ke Lombok melulu!”. Ehm, sayang sekali broh, sis, berhubung Bima dan Lombok itu beda pulau. Sekali-kalinya kesana juga lewat doang, nggak ngunyah apa itu yang dikatakan pemandangan pantai yang aduhai, dll. Dan akhirnya, saya bisa menunjukkan eksistensi saya sebagai keturunan orang NTB *hazeeek* karena akhirnya saya bisa liburan singkat ke Lombok. Ahyea! 

 
Tiba di Bandara Internasional Lombok (BIL) di kawasan Praya, Lombok pukul 14.20. Bandaranya nyaman banget, apalagi kalo dibandingin bandara di Bima hehehe. Saya, papa mama dan adek menetapkan tujuan utama ke Gili Trawangan. Tapi karena dapet flight siang, rasanya tanggung dan mepet banget kalo langsung ke pelabuhan Bangsal (pelabuhan menuju Gili Trawangan). FYI, perjalanan Praya-Bangsal itu memakan waktu sekitar 2 jam, sementara kapal umum ke Gili Trawangan hanya ada sampai jam 4 sore.

Tujuan selanjutnya adalah kawasan Cakranegara, pusat kota di Mataram, dengan numpang Lombok Baru Taksi dari dalem bandara dengan tarif flat Rp 125.000 (yang mana ternyata kalo naik Blue Bird argo biasa nggak sampe Rp 80.000). Alasan sederhananya sih karena Cakranegara letaknya di tengah-tengah, dan sudah setengah jalan kalau mau ke pelabuhan Bangsal. Di sini layaknya pusat kota, fasilitas bank, minimarket, toko-toko, karaoke, semuanya lengkap lah. Tentu menyenangkan, secara eike 5 hari di kampung halaman yang jauh dari begini-ginian heuheu.


Tempat nginep kami di Jl. Subak 2, Cakranegara. Uhm rada lupa euy namanya, kalo nggak salah namanya Ganesha Inn. Tempatnya nyaman, mirip kost-kostan dengan harga Rp 100.000/malam. Fasilitasnya kipas angin, TV cable 14 inch, kamar mandi dalam, sabun, handuk, teh dan kopi (meski seadanya yaa). Strategis banget nih, mau ke bank, makan, belanja dll tinggal jalan kaki aja!
.
Kelar mandi dan lalala, kita langsung cabcus mau makan ayam taliwang. Berdasarkan info, ayam taliwang yang enak ada di Jl. Transmigrasi 99, namanya Dua Em Bersaudara. We have no idea where is it. Google map nggak berfungsi karena entah mengapa sinyal XL jelek banget. Untungnya, hasil nanya-nanya ke juru parkir, ternyata tempatnya nggak jauh jalan kaki, sekitar 1,5 km sajah! Yaa tentu ‘nggak jauh’ nya itu versi gue ya, karena eike emang doyan jalan kaki *elus-elus betis*. Setelah jalan 30 menit sambil haha hihi dan jalan santai, ketemulah kita sama restoran terkenal ini. Ihiy!


Ayam pelecingan (Rp 38.000/ekor), ayam bakar bumbu madu (Rp 38.000/ekor), pelecing kangkung (Rp 10.000). Jangan salah, ayam yang dipake itu ukurannya keciiiil seukuran burung. *kalo burung rajawali kan gede sis. Burung merpati kali yah. Lah siapa juga yang makan burung merpati *ah yaudahlah* Makanannya suwer enak-enak, dan saya doyan banget sama pelecing kangkung dan sambal beberuk nya. Mantaf!

Jut jut lanjuuuttt... Besoknya jam 7 pagi udah siap-siap menuju pelabuhan Bangsal. Sarapan dulu, beli nasi bungkus yang dijual ibu-ibu berjilbab, karena nggak nemu warung nasi di sini. Resto-resto gedepun masih pada tutup. Taksi Blue Bird pesanan juga udah siap menunggu di depan penginapan. Markicaw!