25 April, 2013

Peluk



Menahun ku tunggu kata-kata/yang merangkul semua/dan kini ku harap ku dimengerti/walau sekali saja pelukku//tiada yang tersembunyi/tak perlu mengingkari/rasa sakitmu, rasa sakitku//tiada lagi alasan/inilah kejujuran/pedih adanya/namun ini jawabnya

Lepaskanku segenap jiwamu/tanpa harus ku berdusta/karna kaulah satu yang ku sayang/dan tak layak kau didera

sadari diriku pun kan sendiri/di dini hari yang sepi/tetapi apalah arti bersama, berdua/namun semua semata

tiada yang terobati/di dalam peluk ini/tapi rasakan semua/sebelum kau ku lepas slamanya//tak juga ku paksakan/setitik pengertian/bahwa ini adanya/cinta yang tak lagi sama

23 April, 2013

Makanan Aneh, Asiknya Dicoba apa Dicuekin?

 Tangan milik ibu chef.


Di jam 11 malem ini, gak usah dulu lah ya kita terlalu serius bahas topik-topik beristilah remunerasi, rekapitulasi, redenominasi, reboisasi, dan teman-temannya. Mari kita ngomongin soal makanan. Iyeh, makanan. Sebagai reporter di sebuah media lifestyle, buruh berbayar atas kerja 6 hari seminggu, saya emang dibayar untuk menulis soal makanan, membeli makanan, mencari berita soal makanan, juga yang paling yahud adalah mencicip makanan. Etapi bukan berarti makaaaaan mulu ya. Seringkali saya menulis dan bayangin makanan dalam kondisi perut keroncongan. Ciyus. *pasang muka miris teriris*

Tentu, sist dan bro rahimakumullah, makanannya enggak melulu yang saya suka. (Kata orang loh yaa), saya punya nafsu makan yang besar. Mata, hati lidah dan perasaan saya gampang tersentuh buat nyicip ini itu. Keinginan tersebut akan makin memuncak jika ternyata makanannya adalah TIDAK BERBAYAR. Tapi saya termasuk picky eater. Ada beberapa jenis menu yang enggak disuka. Sebutlah makanan yang menyertakan kepala, leher, ceker dan kulit ayam yang diolah lunak2 lembek. Juga jeroan sapi. Daging yang saya liat proses motongnya. Endebra endebre.

Karena preambulenya kepanjangan, yuk kita pangkas pembahasan menjadi satu tema “gimana caranya menyikapi menu yang belum pernah kita cicip, atau tampak aneh buat dikunyah?”. Lengkap dengan contoh soal dan uraiannya. Cekidot.

  1. Lihat ekspresi orang
Enak dan nikmat selalu tergambar dari gesture dan mimik seseorang. Kalo bukan karena mukanya emang asem dari sananya, biasanya orang kalo makan makanan enak punya raut muka yang semangat. Heroik. Mulutnya maju mundur. Ada keringetnya gede-gede ngucur. Kalo ragu-ragu sama makanan dan liat ada orang yang begini, jangan ragu lagi. Segera ambil, kunyah dan bayar.

  1. Rasional dong, babe!
Gunakan akal sehat dalam memilih makanan yang dianggap aneh dan abu-abu rasanya. Apa value nya kalo elo makan itu? Sehatkah? Murahkah? Mengenyangkankah? Gaulkah? Ya bisa diinterpretasikan sendiri. Satu kasus kalo misalnya punya gebetan yang hobi makan makanan kayak tumis kelelawar, sate biawak, atau malah tongseng uler kobra, sementara elo paling ngeri. Ini mesti ditelaah dulu ya sist, bro. Apakah gebetan itu cukup worth to chase dan membuat kamu patut mengorbankan nyali dengan makan uler kobra? Atau sebenernya gebetannya enggak oke-oke banget dan sering mencela kamu yang doyannya makan chicken nugget? Inilah saat yang tepat menggunakan akal sehat.


  1. Kuatkan nyali
Duhai para sist dan bro. Di usia kita yang muda ini, ya silahkan ajalah yaa nyobain makanan ini itu. Jangan kebanyakan mikir dan segera kuatkan nyali. Kadang-kadang yang keliatannya enggak enak dan bikin nafsu makan hilang itu ternyata punya rasa yang ciamik. Ciyus deh. Kadang kitanya aja yang terlalu underestimate.

Saya mau share dikit ya (meski enggak ada yang nanya). Dulu saya paling ogah sama yang berbau duren-durenan. Pikiran saya, duren itu lembek-lembek kayak pup. Hahaha, ini serius. Eh terus saya makan sus durian. Lah kok enak banget. Makan ketan durian, pancake durian, ealah masbroooo, enak ternyata. Terbukti kan, emang sayanya aja yang enggak mau nyoba. Yah lebih baik lah yah, meski masih belom bisa makan buahnya langsung yang kayak pup itu. *tetep*





Iki sing jenengane hummus, tabouleh, sama tzatziki, khas negara-negara Timur Tengah. Jujur sih enggak tertarik sama sekali, karena rasanya yang terkenal anyep dan tasteless. Namun ternyata, seorang chef kece asal Lebanon berhasil mengubah stigma tersebut. Ternyata cocolan ini asik juga dikunyah bareng roti pita. Ciyus.







  1. Common sense
Tempat jualan yang rame kadang-kadang emang bikin penasaran. Kadang, rame suka dijadiin patokan dalam memutuskan makan di mana. Nah, kalau uang ada, apalagi ada temen makannya, dan enggak menyalahi prinsip diri sendiri, silahkan dicoba! Googling dulu tentang lokasi makan yang mau dituju, menunya, kesan-kesan yang didapet, dan lainnya. Sekarang kan buanyakkk banget situs, blog dan program yang bahas soal makan memakan. Bisa jadi referensi buat kamu-kamu yang pengen nyoba-nyoba makanan. Intinya, kalo ada keraguan, cari aja yang laen. Kalo tampak enak, langsung sikat!

Seringkali karena alesan ‘sense’ ini, saya sering jadi sakit atau enggak enak badan tiap habis liputan dan nyicip makanan yang saya ragu, baik atau enggak. Seringnya kejadian di restoran yang terang-terangan menjual menu berbahan babi, pakai arak, wine, ataupun dateng ke acara fine dining dimana semua orang makan sambil minum wine. Yaaa apapunlah sebutannya, saya sering masuk angin gara-gara enggak enak hati mikirin “itu makanan ‘bener’ nggak ya? Maluuuu sama jilbab!”. Gara-gara feeling dan kenyamanan yang minim, efeknya makanannya malah ngasih efek negatif ke badan.

  1. Cari supporter
Ajak temen yang mau diajak nyoba menu yang sama, atau malah suka makan menu itu. Seenggaknya kan kita jadi termotivasi untuk nyoba juga ya. Misalnya, enggak suka makan sawi ijo, ikan, atau malah nggak doyan tempe? Enggak suka makanan sehat dan serasa bisa hidup sehat lohjinawi dengan pola makan dan hidup asal-asalan? Waaaah rugi! Kalo berkiblat sama gaya hidup di kota besar, menu junk food dianggap menu ‘orang susah’ dan sayur justru jadi makanannya orang-orang kaya. Padahal kan seperti aku, kamu dan dia tau, sayur itu harganya jauuuuh lebih murah. 
 
<--- mau punya badan model gini??

 Makanya, beli sagu sama si Bambang, janganlah ragu janganlah bimbang. Cari temen yang bisa pengaruhin pola makan kita ke arah yang positif. Misalnya, kalo kerempeng dan kurang protein, coba follow twitter Ad* Rai, jadilah sahabatnya dan bagian dari hidupnya. Pasang posternya di kamar dan garasi. Dijamin kamu bakal ikutan doyan makan jus putih telur 40 butir sehari. Percaya deh. *kemudian mual dan jackpot*
 

Nah, semoga tips dari saya berguna. Silahkan diaplikasikan di dalam kehidupan masing2. Ciao!
Tulisan ini adalah bagian dari aksi 'tukeran tema' sama temen saya. Semoga bermanfaat bagi peradaban manusia, khususnya generasi penerus. Foto diambil dari sini dan sini

05 April, 2013

Mari Kita Bahas Intrapersonal Communication!

 Foto: The Ranchers Guide

Jadi malam ini *ini ngetiknya beneran malem loh ya sodara sodara*, saya mau bahakomunikasi intrapersonal. Ini adalah komunikasi yang paliiing akrab sama kita, karena membahas tentang pengaruh dan reaksi diri yang berdampak pada komunikasi kita dengan orang lain. berbekal buku Applying Communication Theory for Professional Life nya oma Marianne Dainton (2011), ayo kita jabarkan secara singkat, sederhana, apa adanya dan saling mengerti satu sama lain *eh ini apaan sih*.

Penting gak sih komunikasi ini? Ya eyalaaaaaahhh... Kalimat dan gesture yang kita lakukan tentu udah melewati tahapan ini. Ah udahlah ya, mari kita menceburkan diri ke dalam komunikasi intrapersonal ini.

----------------------------------------------------
1. Message Design Logics (MDL)

MDL adalah cara kita merespon sesuatu lewat penggunaan bahasa. Dibuat oleh O'Keefe dan Lambert (1997), Interpretasi dan kematangan pola pikir sangat terlihat di teori ini. Mari kita gambarkan situasi: ceritanya B merasa ditipu oleh tukang bawang merah. B beli bawang Rp. 42.500, eh taunya toko sebelah jual Rp. 35.500.

- Expressive MDL
"Abang tuh gimana sih! Jualan harganya nggak kira-kira! Emang duit bisa digambar sendiri, nggak pake kerja? Mikir dong bang, kalo jualan jangan ketinggian harganyaaaaa!" *abangnya cuek. Malah ngeloyor pergi ke warung mie ayam*

- Conventional MDL
"yah kurangin ngapa bang harganya, biasa juga dua puluh lima rebu sekilo." *abangnya selow aja, gak nanggepin*

- Rethorical MDL
"Bang, saya akui emang bawang merah Brebes yang abang jual emang kualitasnya bagus. Bebas kutu, anti rayap, water resistant. Tapi abang juga nggak boleh seenaknya naikin harga. Kalo abang masih jual harga segitu, dijamin pembeli kabur. Jelas, mereka milih yang lebih murah. Kalo bawangnya malah nggak laku, ujung-ujungnya rusak, malah jadi rugi! Abang harus pikirin itu baik-baik! Abang denger saya kan?" *zzzzz, abangnya malah ngorok*

-------------------------------------------------------------------------
2. Communication Accommodation Theory (CAT)

Dalam CAT, lingkungan dan penerimaan sangat berkaitan erat dengan bagaimana kita bersikap dan menyikapi perbedaan. Digagas oleh Giles&Coupland, 1991. Dalam CAT, kita kenal istilah in group dan out group. In group adalah kelompok di mana kita ada di dalamnya, dan kita sudah nyaman betul di dalamnya. Sebaliknya, out group merupakan hal-hal di luar lingkup in group. CAT mencermati bagaimana seseorang melakukan perubahan agar bisa lebih diterima oleh kelompok.

Dalam CAT, ada 2 sikap yang menjadi respon, yaitu konvergensi dan divergensi. Konvergensi bisa diartikan sebagai proses adaptasi, sementara divergensi justru tetap kekeuh mempertahankan jati diri, watak dan sifatnya.

Contoh: Lisa, cewek metropolis berhak tinggi dengan soft lense dan rok mini, ketemu sama ponakan pacarnya. Lisa nggak pernah deket sama anak kecil (diposisikan jadi out group Lisa).

- Konvergensi
"Halo tayaaaaang..... Udah ma'em beyooom? Yuuuk ma'em cama tanteeee, tante punya coklaaaat..... cini cini, tang ting tang ting tung...." <--- tampak dia mau menyesuaikan diri, menyamakan 'level ' nya dengan orang yang ditemuinya, 'keluar' dari perilaku aslinya, bertujuan untuk lebih bisa diterima.

- Divergensi
*enggak mau megang. Soalnya anaknya rewel. Lagian males juga ngomong ala ala anak kecil gitu. Terserah lah yaaa mamanya si pacar mau komen apa. Gue emang nggak suka anak kecil* <---- tidak mau keluar dari sifat aslinya, menunjukkan inilah dirinya yang sebenarnya, ingin dipandang sebagaimana dirinya sendiri biasa bersikap. Contoh lain: Orang berlogat Jawa medok yang tinggal di Jakarta, yang tetap tidak ingin meninggalkan ke-medokannya, dgn siapapun ia berbicara untuk menjaga identitas dirinya sbg orang Jawa.

---------------------------------------------------------
3. Uncertainty Reduction Theory (URT)

 URT didefinisikan Berger dan Calabrese (1975) sebagai langkah untuk mengurangi ketidakpastian. Bok, banyak banget ketidakpastian dalam kehidupan ini. Pake baju apa hari ini? Jalanan macet nggak? Doi sebenernya naksir kita nggak? Nah, daripada terus menerka, ya selesaikan sajalah teka tekinya! Baiklah, mari kita berikan contoh yang sesuai dengan kehidupan di dunia fana ini, dengan menjawab ketidakpastian di poin ketiga, soal naksir-naksiran.


                                                                                      Foto: Indigo Statics
- Passive strategy
Media sosial si doi kita ubek-ubek. Liat recent update BBM nya. Foto-foto masa alay-alay di Facebooknya. Tulisan-tulisan di Twitternya. Kalo perlu cari tahu tagihan listriknya, berapa kali dalam seminggu pergi ke Alfamart, dan apa sabun cucinya di rumah.

- Active strategy
Caranya adalah bertanya pada pihak ketiga, soal kebiasaan, status, tipe istri idaman, soal aktivitasnya, juga soal orientasi seksualnya *eh suwer deh ya, ini penting!*. Tapi tanyalah pada sumber yang kredibel, jangan tanya sama kasir Alfamart langganan dia, sama pemimpin sanggar senam di komplek, atau malah nanya operator 108.

- Interactive strategy
Kalo ribet kelamaan, yasutralah ya booookkk... tanya aja langsung sama orangnya. Resiko selalu ada, tapi strategi ini dijamin hemat waktu dan kadar perasaan *hazek*

---------------------------------------------------
4. Expectancy Violations Theory

Teori ini dikembangkan oleh oom Judee Burgoon. Sesuai namanya, expectancy, kita manusia emang harus mengantisipasi apa yang bakal kejadian di masa depan. Interpretasinya bisa didasarkan dari tingkat kedekatan antar manusia. Sebagai efeknya, kita bisa merasa reciprocate (merasakan hal yang sama dengan yang ditunjukkan orang lain) atau justru compensate, merasakan hal yang berbeda.

Contohnya begini. Di kantor ada cewek kece berat, namanya Ghea. Cakep, pinter, berprestasi, tinggi, langsing, modis dan ramah. Tiap kali meeting sama orang ini, para cowok-cowok cuma bisa menikmati senyumnya dari jauh, menyimak tutur kata nya, dan memberi support serta perbincangan formal *cakep ya bahasa gue*. Yah idaman pria-pria lah ya.

Suatu hari, cewek kece ini curhat kalo dia lagi punya buanyaaaaakkkk kerjaan dan project yang dia garap berantakan. Harus segera diselesaikan dan kalau tidak akan mengancam karirnya. Dia ngomongnya dengan muka sedih di kantin kantor. Si lawan bicara, sebut saja Ridho, udah kepengeeeeen banget menatap matanya dalam-dalam, menggenggam tangannya sambil bilang "everything will be okay, aku yakin kamu bisa, babe". Tapi ya enggak dilakuin, dirasa nggak pantes, dan apalah Ridho yang bermuka kusut dibanding Ghea yang kinclong. bisa digaplok depan umum dan jadi public enemy dia kalo tau-tau megang tangan Ghea. <---- contoh compensate.

Sebulan kemudian, kantor geger karena Ghea dipecat. Ghea yang punya pamor bagus di kantor dianggap tidak bisa melakukan tanggung jawabnya dengan baik. Doi dipecat di tahun ke 2 nya bekerja di perusahaan itu. Saat ngumpul dengan satu divisinya, Ghea menyalami mereka satu persatu sambil agak-agak menitikkan air mata. Ridho yang cukup dekat sama Ghea merasa harus memberi support lebih. Mereka salaman cukup lama, Ridho bilang "everything will be okay, aku yakin kamu bisa lebih sukses di depannya. Aku yakin kamu bisa lebih sukses dari ini, semangat terus ya!" *sambil ngomong eye to eye ke Ghea, terus nepuk-nepuk bahu Ghea. Kali ini nggak apa-apa, sikonnya pas dan tepat, orangpun nggak menganggap aneh. Padahal seneng juga bisa megang bahunya* <---- contoh reciprocate.

01 April, 2013

TTM (Tiba-Tiba Mulas), Harus Bagaimana?

Kadang, reaksi tubuh terjadi tanpa bisa kita atur. Ya tiba-tiba kulit gatel, tiba-tiba kepala gatel, tiba-tiba merinding, juga tiba-tiba mules. Yeah, mules jadi topik bahasan kita kali ini. Asyiknya, (asyik dari manaa?) mulas jadi salah satu kondisi tubuh yang masih bisa kita tutupin dengan perilaku tertentu. Istilahnya manajemen mulas gitu lah ya. Masalahnya, mulas di waktu dan situasi yang nggak pas seringkali mendatangkan ketidaknyamanan. Nah, saat itulah kita harus pintar-pintar menyiasatinya.

Sebagai karyawan yang salah satu jobdescnya adalah mencicip makanan, saya otomatis seneng makan berbagai jenis makanan. Saya diharuskan untuk mencicip, namun tentu dong saya nggak pernah menyia-nyiakannya. Ya menurut nganaaa? Masa iya biasa menghabiskan semangkok mie ayam gerobak, eh giliran ada yang enak (dan kadang-kadang mahal) malah dicuekin. Enggak dong ya cyin. 
.
Foto: Victoria Plumb

Nah, buat sebagian orang kayak saya, makan menu baru atau yang jarang-jarang dicicip seringkali memicu mulas karena perut agak ‘kaget’. Tiba-tiba perut bergejolak, tapi sayangnya adaaaaa aja halangan untuk segera kabur ke toilet, atau malah toiletnya nggak jelas ada dimana. Ini adalah masalah umum, yang bahkan saya yakin artis sekelas Angelina Jolie sampai Zaskia Itik pernah ngalamin. Agar tak malu, tetap cute dan tak ‘kelepasan’, ini dia beberapa tips yang bisa Anda praktekkan. Semoga mujarab!

  1. Terus ngobrol
Lagi hot-hotnya berbincang sama bos, klien, atau temen, eh tau-tau mules? Ah, nggak usah jaim laaah, pasti kejadian ini pernah Anda alami. YA KAAAANNN???!! *maksa*. Parahnya adalah jika obrolan dilakukan untuk tujuan tertentu dan dalam waktu yang terbatas, misalnya Anda berbincang dengan calon klien. Tentu nggak bijak ya, kalo Anda ujug-ujug minta permisi ke toilet dan ninggalin doi sendirian. Kalo dia ampe kenapa-kenapa gimanaaa? *salah fokus*
.
Caranya adalah tetap jalankan percakapan. Namun kali ini, persilahkan lawan bicara Anda ngomong lebih banyak. Salah satunya adalah dengan melemparkan pertanyaan yang bikin doi menjelaskan panjang lebar. Misalnya “Ini promo nya kayak apa yah mas, berapa lama berlakunya, terus jenis menunya apa aja?” kalau lagi ngobrol sama pengelola resto. Atau kalo sama bos yang lagi misuh-misuh soal jalanan, bisa pilih pertanyaan macamnya “emang tadi lewat mana aja pak? Macetnya dimana aja?”. Gimana kalo lagi dengerin temen yang lagi diselingkuhi pacarnya? Ajukan pertanyaan seperti “coba jelasin ciri-ciri selingkuhannya!”. Dijamin selain dia bakal nyerocos, akan ada api-api emosi membara di tatapan matanya *tsah.

Mengapa harus tetap ngobrol? Jadi begini penjelasan ilmiahnya ya adik-adik. Menurut saya, banyak ngomong dan berfikir bisa bikin perut makin mulas. Serius deh. Gak asik kan, Anda harus jaga intonasi supaya perut gak makin memaksa. Dengan diam dan mendengarkan, Anda bisa diam-diam sibuk mengatur nafas, sambil tetep eye contact dan manggut-manggut tanda menyimak. Padahal mah lagi nahan. Akhirnya, rasa mulas bisa berangsur mereda.

  1. Sok-sok tidur
Efek dari mulas bisa diprediksi. Perut sakit, konsentrasi terganggu dan uhm, agak berkeringat. Tapi gimana kalo perasaan itu hadir waktu Anda nggak bisa menjangkau toilet? Seringnya hal ini dirasakan saat lagi di perjalanan. Let’s say ada di tengah-tengah kemacetan, dalam taksi, atau lagi naik metro mini.

Jalan salah satunya adalah merem. Iya, merem. Soalnya, kondisinya kan Anda lagi puyeng nahan mules nih. Eh, mata dipaksa untuk ngeliat obyek-obyek bergerak di depan. Ujung-ujungnya, hal ini bikin rasa mulas makin menjadi.  Coba inget-inget, sama kayak kalo kita mual, liat benda bergerak konstan di depan bikin kita makin pengen jackpot. Coba merem atau sok-sok tidur. Oh ya, konon mengepalkan tangan atau menggenggam batu bisa bikin mulas hilang. Tapi cara yang ini nggak pernah saya praktekkan. Soalnya bukan apa-apa, ketahuan banget kayaknya lagi 'berjuang'. Hahaha.

Tips ini tentu bisa diaplikasikan Anda yang berperan sebagai penumpang. Ya masa siiih yang nyetir juga mau merem? Yang nyetir sebaiknya mengepalkan tangan aja yah. Oh ya, kalo naik mobilnya nebeng, lakukan langkah di poin 1. Abisnya, gak tau diri bener udah nebeng, gratis eh merem. Ngeri diturunin di polsek terdekat ya kan ceu.

  1. Kabur ke toilet
Iyalah, ini tindakan paling pas menyikapi mulas berlebihan! Ya teruuuus, kalo udah mules banget masih mau tanggung ‘resiko besar’? Ayo segera cari toilet terdekat, jangan ragu dan kebanyakan mikir. Luber di tengah-tengah aktivitas justru malah jadi aib seumur hidup. Toh biasanya aktivitas di toilet nggak bakal lama kalo mulas.

Contohnya nih, temen saya dari SD, inisialnya FH. Meski peristiwa ‘bocor di celana’ terjadi belasan tahun lalu, tapi image itu masih melekat sama dia. Contohnya ketika ketemu temen SD, akan ada celetukan begini Ooooo, ini FH yang dulu pernah b***k di celana kan yaaaaaaaa..”. Tentu nggak asik kalo akan ada omongan gini. “Pak Bramantyo, kenalkan ini Marketing Director kita, pak Fathur. Pak Fathur, kenalkan ini pak Bramantyo, Brand Manager dari PT. X. itu lho pak, yang tempo hari cepirit di kawinan anaknya pak General Manager”.

  1. Pssssttttt....
Ada di kerumunan, antrian, atau tempat yang hingar bingar? Ah, lakukan saja manuver kecil untuk bikin rasa mulas mereda. Caranya dengan mengurai angin-angin yang bergejolak dalam tubuh. Seorang temen saya bahkan mengistilahkan ini sebagai bubbly fart. Lagi antri Busway? Ada kereta lewat? Lagi jalan di trotoar? Asal nggak ketahuan dan dilakukan se-natural mungkin, boleh kok. Ah, saya sih yakin banyak banget orang yang hobi mengimplementasikan poin 4 ini. NGAKU LO SEMUAAA!! Intinya liat situasi. Tapi ya mohon suara dan aromanya diatur yah kakaaaaakkk!!!

  1. Pake minyak kayu putih
Langkah ini seringkali diambil mereka yang merasa mulas, dekat dengan toilet, namun kerjaan nggak bisa ditinggal. Gaya-gayaan ya. Caranya adalah dengan mengoleskan minyak kayu putih di bagian perut dan pinggang. Niscaya rasa mulas cepet reda. Tapi cara ini seringkali bikin kesel. Ya kok gak bersyukur banget sih, toilet ada, waktu ada, tapi males. Maunya apa coba???!!!!

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Nah, semoga tips-tips tersebut bermanfaat. Gimanapun juga, meski konotasinya ‘kotor’, namun gak bisa dipungkiri hal ini deket sama keseharian kita. Yah begitulah. For Your Info, tema tulisan ini datang dari temen saya. Kita iseng-iseng tukeran ide tulisan ringan, yang dipublikasikan di blog masing-masing, dan sepertinya akan ada tema-tema lain yang bakal kita tuker. Ciao!