16 Maret, 2013

Anak kecil dan ibu bapaknya

Saya belum jadi ibu. Belum punya anak. Belum pernah tahu rasanya turun naik hidup saat berproses mengantar titipan Tuhan hadir di dunia. 

Tapi bukan berarti saya bisa biasa saja. Saat saksikan seorang balita lugu dipaksa tumbuh dengan paparan tekanan negatif orang tuanya. 

Buat saya, urusan mendidik bukan cuma tentang membuatnya tumbuh gemuk dan jarang menangis. Gak sebatas mengantarkannya sekolah dan berharap pulang-pulang ia sudah jago baca hitung.

Mendidik anak baru bisa maksimal jika orang tuanya juga mau dididik. Mau belajar. Sama-sama mengembangkan diri. 

Anak bukan cuma sekedar pemenuh ekspektasi. Tapi juga sekolah tak berkesudahan untuk ibu bapaknya. 

Jadi ketika ada orang tua memakai emosinya sebagai kendaraan untuk berkomunikasi. Berharap jika dengan omelan dan bentakan tiba-tiba balitanya akan langsung tumbuh sempurna tanpa lewat proses jatuh dan salah. Saat itulah menurut saya titik gagal orang tua.

Balita dijejali perilaku ayah ibunya. Mereka begitu, anakpun akan mencontoh begitu. Ayah berkelakuan, ibu mencontohkan, itulah yang diserap. Jadi pantaskah anak disudutkan saat salah? Perlukah anak dicela saat ia sedang belajar dari kesalahan dan proses jatuhnya? 

Padahal, bahkan usia balita belum ada sepertiga umur orang tuanya. Mengapa ia dipaksa untuk jadi serba bisa dan dibiasakan serba salah dalam waktu terlalu dini? Lalu kalau bukan ke orang tuanya, zona nyamannya harus diarahkan pada siapa?

Ngeri membayangkan, kalau nantinya, belum-belum anak jadi tak hobi berpendapat. Nggak suka jujur.  Malas sharing. Atau justru jadi sulit mengontrol emosi saat di luar rumah. Melampiaskan frustasinya dengan cara salah.

Iya. Saya memang sok tahu. Saya nggak belum tau susahnya jadi orang tua. Namun pemandangan orang tua yang membentak anak lugu nya begitu bikin hati sakit. Dan hati saya selalu teriris saat lihat tatapan seorang anak yang harus dipaksa mengerti, dengan cara yang salah. 

Tidak pernah ada alasan kuat kenapa orang tua perlu memarahi bocahnya. Balitanya. Semuanya hanya jadi hasil akhir dari kekecewaan orang tua terhadap....
 diri mereka sendiri. 
Yuk perbaiki diri. Belum telat. 


*ditulis setelah menyaksikan seorang ibu memarahi bocahnya di muka umum. Tangis anaknya tak mau berhenti. Ibunya makin emosi. Anaknya frustasi. Keduanya jelas malu jadi tontonan umum. Tapi terlanjur emosi. dan nggak bisa ngendaliin diri

14 Maret, 2013

Ketemu anu di bonbin



cabut nih!

Akhir pekan lalu, saya dan keluarga melabuhkan diri di Kebun Binatang Bandung. Motivasi terbesar datang dari si ibu, yang merasa "kita lewat terus tapi kok gak pernah mampir...?" Minggu sore akhirnya kita kesana. Sebagai anak manis nan bijaksana, tiket seharga Rp. 20.000 (mahal yeh brooooh buat kelas bonbin) segera digenggam. 

Baru beberapa meter jalan, saya udah disuguhin pemandangan hewan-hewan yang dikandangin. Perlu dicatat: BEBERAPA METER. Jadi pintar-pintarlah kalian menjaga diri dan kehormatan, wahai anak-anak kost di sekitar bonbin. Soalnya eksistensi uler super gede yang doyan menunjukkan gigi imutnya serta unta dan biawak hanya berjarak beberapa puluh meter saja. Bersiaplah hewan-hewan itu mengetuk manja pintu kamarmu!

Yang 'menarik' dari bonbin ini adalah lokasinya yang tidak terlalu besar. Jadi nggak perlu meluangkan waktu seharian dan membengkakkan betis untuk muter-muter macamnya di bonbin Ragunan. Bahkan sebelum nasi timbel komplit di perut ludes dicerna dan lapar lagi, dijamin satu bonbin udah bisa selesai dijelajahi.

Jika biasanya kebun binatang lekat dengan kesan unyu, sayang binatang, gajah-gajah mempesona, ataupun macan berbulu merah muda, lain dengan bonbin ini. 





Di sini, adrenalin lebih terpacu. Bayangin aja, saya dan buaya-buaya ini aja jaraknya gak lebih dari 2 meter, dengan pembatas tembok dan pagar yang nggak tinggi. Bahkan di beberapa sisi, batas pagar kandang buaya ini cuma pagar kawat! Sesimpel itu ya ngandangin buaya-buaya lapar ini! 

Perlu diketahui, wahai bapak pengurus Bonbin. Pernah menghadapi buaya darat tidak lantas membuat saya berani menghadapi buaya beneran. Catet!







Nah, untung ada penyu-penyu unyu yang ngademin hati. Mereka berderet nungguin dikasih makan sama pengunjung. Kenapa makhluk sekecil ini sudah dibiasakan meminta-minta? Gimana masa depannya?












Sekilas, hewan ini mirip kerbau. Terus, ngapain pake ada kerbau di bonbin? Tenang, ini bukan kerbau, tapi banteng! Iya, banteng yang bereinkarnasi jadi kerbau *apasih. Banteng ini punya kebiasaan lari-lari kesana kemari. Lari lurus, muter, lurus lagi. Untung aja dia tidak punya akal yang cukup untuk melarikan diri. Soalnya, kalo dia mau sedikit nunduk, pagar besi pembatas cukup loh untuk dilewatin! *semoga si banteng nggak baca tips ini*




Setelah 30 menit pertama tidur pules di bonbin, gadis kecil keponakan saya ini akhirnya bangun tidur. Di sini, makannya jadi pinter. Soalnya diberi narasi "kalo udah makan, nanti burungnya keluar" *kok ambigu ya* ah entahlah. Fanesha anteng banget liat monyet dan hewan-hewan lain.





Eciyeee... Natap siapa sih Plo? Jadi begini. Monyet ini tampak lemas dan lunglai. Agaknya iri dengan spesies lain di sebelahnya yang atraktif, loncat kesana kemari dan banyak yang nonton. Sementara monyet ini kayanya mengalami apa itu yang dinamakan low self esteem *azeeek*. Sebagai mahasiswa Fisip yang baik, saya gali kepercayaan dirinya. Tapi tetep aja, nggak senyum, nggak nyaut. Ah, dia emang pasif sih.

Saya plus keluarga cuma bertahan sekitar 1,5 jam di bonbin ini. Selain hujan, lokasinya memang kurang terawat dan nggak rapi. Dari sisi kebersihan dan keamanan juga kurang terjamin *menurut saya sih ya*. Bonbin Ragunan (dengan harga tiket nggak sampe Rp. 8.000/orang) masih jauh lebih baik, meski emang luas banget dan kaki pegel. Tempat ini cocok buat kamu yang kangen gajah. Kangen uler. Pengen liat unta. Tapi menurut saya kurang pas buat piknik lama-lama. Ngeri cyin!