30 November, 2012

Chef Geir Skeie!


Jakarta - Sosoknya tinggi, ramping, dan murah senyum. Pembawaannya tenang dan santai. Sesekali kamera wartawan membidik dan memintanya untuk senyum ke arah kamera. Tak lama, tangannya kembali cekatan mempersiapkan alat dan bahan memasak.

Itulah kesan pertama saat bertemu chef Geir Skeie, juara dunia Bocuse d'Or tahun 2009. Di balik tampilannya yang sederhana, pria 32 tahun ini menyimpan sederetan prestasi gemilang yang mengharumkan nama negara asalnya, Norwegia. Seperti apa sosok aslinya? detikFood berkesempatan untuk berbincang langsung dengan Geir, dalam kunjungannya ke Indonesia pada Senin (26/11).

Geir dilahirkan pada 2 Juli 1980 di Fitjar, Norwegia. Ia menghabiskan masa kecil di tempat kelahirannya ini. Di Fitjar jugalah Geir menemukan kecintaannya dalam dunia memasak sejak usianya 7 tahun. Ia gemar meracik menu sehari-hari yang mudah dibuat.

Meskipun kini diakui sebagai chef kelas dunia, latar belakang keluarga Geir bukanlah dari dunia kuliner. Ayahnya adalah seorang mekanik listrik, dan sang ibu berprofesi sebagai perawat. Namun kebiasaan keluarganya makan dan memasak bersama untuk makan malam membuat Geir nyaman dan senang berlama-lama ada di dapur.

Geir remaja mengagumi acara masak di televisi yang dipandu oleh Ingrid Espelig Hovig. Pada salah satu episodenya, ditampilkan bintang tamu Bent Stiansen. Ingrid begitu bangga memperkenalkan bintang tamunya yang merupakan pemenang Bocuse d'Or saat itu. Melihat Stiansen, muncul pertanyaan di benak Geir yang saat itu berusia 13 tahun. "Bisakah aku menjadi chef juara dunia?".

Sejak remaja, Geir memang sudah menunjukkan kesukaannya akan kompetisi. Saat usianya 14 tahun, Geir bersama temannya, Rune, pernah membuat taruhan siapa yang bisa makan pistachio ice cream terbanyak. Seiring bertambahnya usia dan pengalaman, kompetisi yang diikuti Geirpun makin serius. Ia terlibat dalam perlombaan "Young Chef of the Year" di Norwegia tahun 2002. Sayangnya ia gagal dan sempat membuat Geir sangat menyesal.

Namun pelatih memasaknya, Ivar Solvold terus mendorong Geir untuk mencobanya di tahun 2003. Berkat usahanya yang keras, Geirpun berhasil memenangkan kompetisi ini dan meraih medali emas. Tahun 2008, ia kembali mengikuti kompetisi masak Bocuse d'Or, dan berhasil menjadi pemenang di wilayah Eropa.

Bocuse d'Or merupakan kompetisi masak dua tahunan yang digagas Paul Bocuse tahun 1987. Kompetisi ini ditujukan pada juru masak muda berkualitas yang menampilkan makanan terbaik dengan teknik pengolahan, penyajian, kreativitas dan rasa yang sempurna.

Geir yang hobi bersepeda ini menambah deretan prestasinya dengan memenangkan Bocuse d'Or tingkat dunia tahun 2009. Sebelumnya, Prancislah yang selalu diunggulkan dalam kompetisi ini. Namun rupanya Geir bisa membuktikan jika perwakilan dari Norwegiapun mampu menjadi juara dunia kompetisi bergengsi.

Sebenarnya, apa yang membuat pria yang mahir menyelam ini begitu tertarik dalam dunia memasak? "Memasak butuh upaya besar, menghabiskan waktu berjam-jam. Namun memasak bisa memberikan kepuasan tersendiri. Memasak itu menyenangkan, sangat dinamis, dan merupakan pekerjaan yang menarik dibandingkan harus duduk di depan komputer seharian," kata Geir dengan mata berbinar.

Kepada detikFoodpun iapun membeberkan 3 hal tak terlupakan selama menjadi juru masak. Geir mengakui, memenangkan kompetisi Bocuse d'Or tahun 2008 dan 2009 adalah pengalaman tak terlupakan nomor 2 dan 3. Lalu apa yang pertama? "Nomor satu adalah saya bertemu dengan istri saya saat memasak," kata Geir dengan wajah sumringah.

Kini, Geir menjalankan usaha restoran Brygga 11 di Sandefjord, Norwegia. Ia mengelolanya bersama sang isteri, Katrine. Restoran ini menyajikan aneka menu seafood asal Norwegia yang diolah dengan menonjolkan rasa alami seafood tanpa bumbu berlebihan. Cerita perjalanan hidup Geirpun dituangkan dalam buku "From Childhood to the Bocuse d'Or". Sukses terus Geir! (Flo/Odi)


Senin (26/11) saya berkesempatan ketemu, bahkan ngobrol langsung, dikasih buku  + ttd dan foto bareng chef Geir. Sosoknya tinggiii, dan dia agak jongkok di foto ini biar keliatan saya yang tinggi :D SAYANGNYA, seluruh data di HP hilang, termasuk foto bareng Geir. Untuuung, display picture Blackberry Messenger masih tampilin foto kita (ehm!) dan masih bisa di capture :)

08 November, 2012

Intip Pembuatan Tahu Lembang (plus foto)




Atas dasar tidak tahu seluk beluk Bandung, akhirnya saya mampir ke Tahu Lembang, tentu tempatnya di Lembang. Lokasinya berada di Jl. Raya Lembang 177. Cocok buat buat Anda yang pengen dateng ke tempat makan sekaligus jalan-jalan, main di playground atau flying fox, numpang sholat, ataupun lihat-lihat doang. Serius deh, nggak punya duit, tanpa tujuan ataupun tanpa beli pun isoke aja, tempatnyapun luas. Dan yang paling menarik, pengunjung di sini bisa melihat proses pembuatan tahu secara langsung. Dari head to toe, eh maksudnya dari mentah sampe siap jual. Konsepnya open kitchen, modern, dan dijamin enggak ada pemandangan pria tanpa busana lagi ngolah kedelai disini!

 *ini mama saya... uhuk uhuk uhuk*

Dari hasil ngobrol saya sama sang Marketing, (saya dateng atas nama pribadi lho, bukan kantor. Tapi serasa liputan, ngobrol lamaaa sama marketingnya), rupanya Tahu Lembang ini dimiliki oleh pengusaha yang juga mengembangkan Rumah Sosis, The Secret, dan destinasi unggulan lain di Bandung. Sebenarnya konsep dasarnya sederhana, yaitu menjual tahu sekaligus memberikan experience pada pengunjung mengenai bagaimana pembuatan tahu.

Tapi kok di sini banyak banget penjual makanan berbahan dasar kedelai? Menurut marketingnya, Tahu Lembang hanya menjual produk tahu mentah dan tahu goreng. Aneka produk yang dijual di sekelilingnya adalah tenant yang menyewa space jualan, dengan spesifikasi sama, yaitu menjual produk olahan kedelai. Seluruh produk tahu yang digunakan pedagang merupakan buatan Tahu Lembang. Jadi di area sebesar itu, fokus utama Tahu Lembang ya itu, tahu mentah dan tahu goreng SAJA. Sisa lokasi disewakan untuk pedagang lain, dengan mengikuti konsep yang ada. Jadilah one stop holiday destination yang komplit di sini. Kereeen....



Apa aja bahan pembuatan tahunya? Ini dia sodara-sodara, bahannya adalah kacang kedelai, susu sapi, mentega, bawang putih, kunyit dan air. Mau nyoba gratis tahu yang sudah dikukus juga bisa, kakak.
  



Kacang kedelai yang sudah direndam selama 4 jam kemudian dicuci bersih, digiling, dan direbus selama 1 jam sampai terus diaduk. Menurut abang Marketing ini, kalau weekend, Tahu Lembang bisa menghabiskan 1 ton kedelai lho!





 
Karena menjual experience, dalam hal ini adalah nyaksiin proses pembuatan tahu, tentu faktor estetika diperhatikan. Nggak ada tuh pria bercucuran keringat tanpa baju di sini. Nggak ada juga proses pengolahan dengan cara diinjak. Oh ya, di sini, tahu diolah dan dimasak dalam tungku besar. Nggak bisa terlalu dekat, karena hawanya panas banget. 



Setelah itu, kedelai yang sudah halus dicampur dengan susu sapi, garam dan mentega. Jika sudah tercampur, kemudian dimasukkan dalam cetakan kayu, lalu dipres. Naaah, tahupun siap dipotong-potong, dan melalui tahap perebusan kembali.




Di sini, tahu yang sudah melalui proses pemasakan lalu dikemas dalam kotak. Tahu Lembang hanya menjual dua pilihan, yaitu tahu goreng (Rp. 10.000) isi 10 tahu, ataupun tahu mentah (Rp. 15.000). Tahu goreng lebih murah karena ukurannya lebih mini. 






Nah, selain dua jenis tahu tersebut, olahannya bukan lagi buatan Tahu Lembang, namun oleh tenant-tenant. Namun semuanya tetap mengikuti pakem yang sama, yaitu menu-menu berbahan dasar kedelai. Oh ya, jangan kaget kalau buat beli tahu aja, Anda mesti antre dan berdesakan!




Lalu gimana rasanya?! Yess, lembut banget! Sayangnya, lidah umami saya *maksutnya apa Plo?* tidak mencecap rasa asin di lidah. Terasa plain. Namun tahu yang ini sangat lembut, halus, dan juga lebih gurih karena menggunakan susu. 






Saya juga sempat mencicipi susu kedelai (Rp. 7000/gelas) yang sayangnya, rasanya hambar, dan juga tahu crispy (Rp. 10.000)/10 potong). Asik juga tempat ini jadi destinasi liburan. Lengkap juga fasilitasnya!

*Btw, melihat saya tertarik banget nanya-nanya, akang marketing itupun memberi saya brosur kecil. “Di sinihhh, teteh juga bisa sakalian ikutan tur. Bisa sama temen, kaluarga, arisan, bisa semuanyahh. Inih paketnyahhh, ada yang duapuluhhh rebu satu orang, ada juga yang enam puluhhh rebuuu, termasuk makan siang. Dapet resep dan sekotak tahu juga lohhh tehhh!!!” <------ Serius, mamang marketing ngomongnya sunda pisaaaan...

04 November, 2012

Pasar Buah Lembang

Sebel kena macet di Pasar Buah Lembang? Salahkan penjual ketan bakar dan colenak di sekitarnya yang bikin ngiler dan menggoda orang-orang buat mampir! Selain ngemil enak, asik juga belanja dulu di pasar buahnya. Sebagaimana daerah dataran tinggi lainnya, pasar ini menjual aneka sayur dan buah yang segar, baru, mulus dan murah! 


Dari buah bit, red potato, tomat, nanas, alpukat, buncis, labu, ubi, talas dan lainnya. Btw, saya nggak tahu tomat di gambar ini namanya apa (*cubit paha sendiri*), punya karakter tekstur kulit yang keriput, tapi bukan keriput karena hampir busuk. Semuanya tampak kinclong, bersih dan memikat. harganya? Tentu lebih murah!


Alpukat dan labu ini yang paling memikat mata mama saya. Menurutnya, susah nemuin alpukat yang bagus di Jakarta, dan labu kuning ini harganya mahal. Di pasar ini 3 buah labu orange kecil harganya Rp. 10.000, dan alpukat super dengan isi super mulus dan legit harganya Rp. 12.000/kg.


Saya: Bu, itu jeruk apa? - Ibu penjual: Galiprut neng!
Hah? Galiprut? Ah, mungkin maksudnya grapefruit kali yaa.... (cmiiw)
Selain itu, banyak juga penjual buah berry keliling, strawberry, blackberry dan raspberry. Semuanya tampak segar dan bersih. Perkotaknya, dengan ukuran kira-kira setengah kilo dijual sekitar Rp. 10.000/kotak. Ehm, baru kali ini saya makan buah blackberry segar!

Uhui, pasar buah lembang ini cocok nih dijadiin tempat mampir. Banyak makanan, buah segar dan oleh-oleh!

Kenyang di Bandung!


Lontong kari ini jadi comfort food di Bandung. Di mana-mana adaaa aja penjual lontong kari. Yang ini lontong kari yang dijajakan di area Gedung Sate, Bandung. Harganya? Kalo di tempat lain sekitar Rp. 5.000 saja seporsi, di sini Rp. 12.000 sodara-sodara! Prinsip opportunity cost berlaku. Faktor apa ini? Apa muka kita yang tampak tajir? Oh btw, seporsi lontong kari yang saya cicip ini porsinya pas, kalo enggak mau dibilang dikit. Rasanya enak, paduan lontong lembut, kuah yang gurih, topping sayuran dan ayam, ditaburi dengan bawang goreng dan kerupuk. Enak banget nih!



Yang ini bubur ayam di depan Gedung Sate juga. Kaget juga sih ya, kok disajiinnya pake piring, bukan mangkok. Seporsinya terdiri dari bubur yang lembut dan gurih, plus suwiran ayam, kacang kedelai, bawang goreng dan kerupuk. Plus ada hati dan ampela ayam di tengahnya. Porsinya agak pelit kalo nggak mau dibilang dikit (ya sama ajaaa). Harganya? Rp. 12.000 juga sodara... Agaknya karena ada di lokasi trademarknya kota Bandung yang banyak dikunjungi orang luar kota, untuk kelas makanan pinggir jalan 'biasa', harganya agak tinggi. Yang makan juga kebanyakan mobil berplat B a.k.a orang Jakarta. Padahal, kita orang Bekasi (*penjelasan). Adik saya yang tinggal di Bandung agak bengong sih tau harganya.



Geser ke daerah Lembang, ketan bakar (Rp. 5.000) jadi incaran. Di Jakarta banyak, tapi yang ini beda. Ukurannya sekitar 2x lebih tebal, dan yang spesial, disajikan dengan 3 jenis cocolan, yaitu bumbu kacang, bumbu oncom, dan juga serundeng. Di sepanjang jalan Lembang, banyak banget yang jual. Terlihat dari jauh, penjualnya menawarkan dagangannya sambil mengipas. Ketannya ini dibakar dulu sebelum disajikan. Saya sempat cicip ketan buatan beberapa penjual. Ketannya kurang lebih sama, tapi yang bikin istimewa ini rasa cocolannya. Saya suka banget sama bumbu kacangnya, yang kental, gurih dan manis. Mirip rasa bumbu siomay.Tapi mesti selektif juga, karena ada beberapa penjual yang tampak kurang higienis jualannya.


Yang ini adalah pisang susu (Rp. 10.000). Dari tampilannya sih biasa aja ya. Pisang bakar dengan keju dan mesis. Tapi ternyata... ini enak banget. Digunakan pisang tanduk yang belum terlalu matang, menghasilkan rasa yang manis agak sepet, paduan yang enak di lidah. Sebelumnya digoreng dulu, dan saat ingin disajikan, dibakar dulu sebentar. Disajikan dengan susu kental manis, parutan keju, dan mesis. Ciyusss, ini enak!


Masih di Lembang, selain ketan bakar dan pisang susu, kebanyakan penjual juga menjajakan jenis makanan lain, yaitu colenak (Rp. 5.000). Colenak adalah tape singkong yang disajikan dengan kinca dan kacang sangrai. Tapi kok tapenya kotak? Apa ini tape spesies baru? *yakali*. Ah rupanya, tape itu dikeluarkan seratnya, dan dibentuk dalam cetakan kotak dulu sebelum digoreng! Sama seperti tape dan pisang, sebelum disajikan, tape juga dibakar dulu. Sebenernya sih, karena udah digoreng, dibakar nggak ngasih efek rasa atau tekstur yang beda. Disajikan dengan saus kinca yang dibuat dari gula merah dan kelapa parut. Nyam!


Sebelum pulang, dari arah Lembang mampir dulu ke cafe Black Romantic di Jl. Setiabudi. Karena deket kampus (Univ. Pasundan dan Enhai), makanan di Jl. Setiabudi ini terjangkau harganya. Seporsi nasi bakar (Rp. 13.000) terdiri dari nasi bakar yang dicampur dengan ikan teri, ayam goreng ukuran kecil, tahu, lalapan dan juga sambal. Lumayan rasanya, ngenyangin dan enak, meski nggak terlalu otentik. Lagi-lagi karena deket kampus, di cafe ini maupun tempat makan di lokasi yang sama banyak yang menawarkan menu unik dengan harga yang cocok sama kantong mahasiswa. 

Ihiy. Kapan-kapan kita jalan-jalan lagi ke Banduuung!

02 November, 2012

Setahun Lalu



Setahun lalu, saya resmi bekerja di media siber besar di Indonesia ini. Jadi anak baru yang kosong, blo’on dan clueless. Gue harus apa? Gue harus gimana?

Setahun lalu, saya pensiunkan henpon Nokia dan punya Blackberry, yang menurut orang tua saya, supaya menunjang karir. Ihiy!

Setahun lalu, saya bingung berat, mau kerja naik apa. Bekasi-Warung Buncit bok! 

Setahun lalu, saya berkenalan dengan dua perempuan yang sampai saat ini masih jadi teman dekat saya. Partners in Crime!

Setahun lalu, saya adalah penulis makanan yang tulisannya selaluuuuuuu dikritik dan dianggap nggak layak naik. Sekarang? Ada kemajuan. Dikiiiiit :D

Setahun lalu, akhirnya saya melepas tawaran di media besar lainnya, dan memilih perusahaan ini. Sebenernya lebih karena... media ini nggak pake tes kesehatan yang ribet dan menakutkan. Hahaha cemen.

Setahun lalu, Saya memulai ‘hidup’ di kultur cari tahu sendiri, belajar sendiri, dan membiasakan diri ‘membaca situasi’. Dari sini, saya banyak belajar. Yang paling utama adalah... belajar dari kebodohan dan ketidaktahuan diri sendiri.


Enggak terasa udah satu tahun. Waktu yang masih sebentar banget ya. Saya juga sadar, ilmu saya masih sangat cetek, sedikit. Setahun ini saya dapetin banyak hal. Termasuk berbagai kesempatan langka, dan mahal dalam arti harafiah yang bisa saya rasakan karena embel-embel pekerjaan. Melatih lidah saya, lagi-lagi dalam arti harafiah. Belajar mendeskripsikan sesuatu dengan jelas, dan lainnya. Tapi toh tetap ada masa dimana saya merasa harus mempertimbangkan kata ‘selesai’. Untungnya, ‘masa kritis’ itu akhirnya alhamdulillah selalu terlewat. 

Lalu, akankah ada setahun selanjutnya? 



 Bersama abang chef Sharone Hakman. Cocok banget ya kita? *ditabok istrinya*