19 September, 2012

Pak Cagub, Kok Jawab Begitu Aja Susah?

Heyho warga jakarta. Sudah siap memilih besok? Saya sih nggak milih ya, berhubung anak Bekasi. Jakarta coret. Tapi tentunya perkembangan soal pilgub Jakarta seru buat dikonsumsi. Jakarta itu ibukota. Tentu pemilihan kepala daerah ini juga punya pengaruh besar buat wilayah lain.

Jelang Pilkada, beberapa stasiun TV menayangkan debat antara 2 kandidat, Foke-Nara dan Jokowi-Ahok. Setelah JakTV, Metro TV juga menggelar debat terbuka ini. Uhm well, ada beberapa hal yang menurut saya kurang pantas ditunjukkan oleh seorang (calon) pemimpin Ibukota. Dan malangnya, they did it.

Salah satunya adalah ketika pembawa acara, Najwa Shihab dan Suryopratomo bertanya sesuatu yang tricky. Apa hal positif yang Anda lihat dari lawan kandidat Anda?”. Sebagai orang yang bersaing, menjelaskan kekurangan lawan adalah hal yang gampil, piece of cake lah... Tapi gimana soal hal positifnya? Simak jawaban para kandidat.


Foke: Saya kira, bermitra seperti ini, dalam dialog yang cukup intensif seperti ini, kita bisa saling belajar. Saya sangat menghargai hal tersebut, dan mudah-mudahan hal tersebut bisa membawa perubahan, paling sedikit buat warga Jakarta. Paling tidak, menjanjikan sesuatu yang belum tentu bisa dilaksanakan."

Najwa: Sisi positifnya apa pak?

Ya itu positif, buat saya, saya nggak bisa seperti itu. Saya perlu juga belajar untuk bisa pencitraan yang lebih baik. Terima kasih.


Kalimat pertama, saya acungin jempol buat pak Foke. “Saling belajar”, berarti doi sadar kalau perubahan dan tujuan itu bisa dicapai dengan selalu mau belajar.

Tapi di belakangnya, ia menyebut “belum bisa dilaksanakan” dan “saya belajar untuk bisa pencitraan”. Yea kok nyindir sih oom? Diluar konteks dan tidak menjawab pertanyaan.

Lalu pertanyaan yang sama diajukan ke lawannya.

Pak Joko Widodo, apa yang Anda lihat dari pak Fauzi Bowo, sisi positifnya yang akan membuat pertemanan Anda dan pak Fauzi Bowo lebih erat?

Jokowi: Beliau ini kan sudah puluhan tahun berada di birokrasi Jakarta. Pernah jadi Sekda, Wakil Gubernur, Gubernur, tetapi dengan pengalaman itu mestinya bisa langsung action memutuskan, tidak dalam rencana, rencana, rencana, dan tidak akan, akan, akan.

Najwa: Positifnya apa pak?

Ya itu positif. Paling tidak, artinya beliau ini sudah punya rencana, meskipun belum dikerjakan.

Lagi-lagi... calon gubernur yang satu lagi tidak memberikan jawaban. Jawabannya tetap sindiran dan kritikan. Ini tidak menjawab om Jok...

Kalau saja om Foke menjawab tanpa embel-embel “(menjanjikan sesuatu) yang belum tentu bisa dilaksanakan”. Dan jawaban om Jok yang jauh lebih nyeleneh dan super aneh. Mungkin pernyataan itu memang benar-benar bisa ditangkap positif.
Lucu ya?

Well... menurut saya, om Foke sebenarnya bisa lebih menaikkan citranya, kalau saja beliau tidak melontarkan kalimat “saya perlu belajar untuk pencitraan yang lebih baik,” maka sebenarnya ia bisa meningkatkan citra itu sendiri.

Om Jok juga seharusnya tidak 'tersulut' untuk balik menyindir dan mengkritisi lawannya. Padahal, ini kesempatan omJok untuk menunjukkan “jawaban gue lebih intelek kan dari lawan gue!”, dengan melontarkan komentar yang arif dan positif.

Hmm, mencari sisi terpuji dari lawan memang susah. Sangat. Ketika kompetisi dan 'rasa ketinggalan' sudah memuncak, apapun dilakukan untuk lebih unggul. Tapi tidakkah mereka sadar kalau sebenarnya pertanyaan yang dilontarkan presenter itu bisa menjadi “Selling point” mereka? Dengan menunjukkan jika nurani mereka tidak tertutup dan masih bisa melihat kebaikan sang pesaing. Saya rasa, hal itu bisa jauh lebih mendongkrak popularitas mereka, dibanding menuruti ego dan berpendapat bukan layaknya pemimpin.

Dan semoga... Janji lima tahun ke depan tidak lagi cuma sekedar wangi-wangian di awal. Semoga cermin menyedihkan dari debat Pilkada ini bisa menjadi turning point siapapun pemenangnya untuk membawa Jakarta menjadi kota yang yaaah, at least lebih manusiawi lah yah :)


Flora Febrianindya
Foto diambil dari http://www.lensaindonesia.com