11 Juli, 2012

Ujian Sekolah (Lagi)….

Uhui, akhirnya terlaksana juga niatan untuk daftar kuliah lagi. Memantapkan hati dengan beberapa alasan: mumpung lagi buka, mumpung masih muda, dan mumpung orang tua (Alhamdulillah) ada. Kalau insya Allah saya berhasil, berarti saya dan si Iko Uwais wannabe a.k.a adik saya si OomToni bakal sama-sama jadi mahasiswa.

S1 itu keharusan, S2 itu pilihan. Itu kalimat yang selalu saya pegang. Itulah kenapa saya jauh lebih deg-degan menanti hasil ujian tes masuk kuliah adik saya si jawara silat itu *ecie*. Dari segi keuangan, keinginan saya sekolah lagi tentunya nggak se-urgent keharusan adik saya untuk melanjutkan pendidikan.


Daftar kuliah lagi, ujian lagi. Gimanapun hasilnya, tapi ini langkah awal yang jika berjalan lancar, ada beberapa hal di hidup saya yang akan berubah. Jadi anak kost karena kerja sambil kuliah, mengatur keuangan menjadi lebih ‘padat’, dan mungkin soal pekerjaan yang musti dikompromikan lagi. Yasecara waktu untuk pekerjaan dan tetek-bengeknya sudah hampir memenuhi 65% dari 24 jam. *hazek* *berasa sibuk*



Okeh, off we go to the main topic.

Dalam Seleksi Masuk Universitas Indonesia (SIMAK UI) jenjang S2, yang harus bapak dan ibu rahimakumullah kunyah adalah soal TPA dan bahasa Inggris. Ujian dimulai tepat pukul 7 pagi, dan seperti ujian-ujian pada umumnya, mental, perut dan otak harus udah diisi. Diisi angin deh minimal. Saya tiba jam 6.15, dan langsung disambut oleh beberapa pria ramah yang ternyata… penjual papan alas ujian dan pensil. Tapi dalam ujian ini, sebenernya penggunaan papan juga nggak boleh, jadi percuma juga bawa/beli. 

Untungnya dateng kepagian adalah saya bisa ke kamar mandi dulu *ngertilah ya*, trus bisa jalan pelan-pelan, nggak pake keringetan karena terburu-buru, plus berdoa dengan leluasa. Jadi luar dalem udah dimantep-mantepin sebisanya. Ohya, tips dari saya adalah ujian pakai pensil mekanik, jangan pensil kayu. Kenapah? Mau tau? Soalnya setiap 20 soal, pensil bakal kehilangan keruncingan dan anda mesti bolak-balik ngeraut. Itu makan waktu dan memecah konsentrasi, men!

Waktu untuk tes TPA adalah 3x 50menit. Soal-soalnya terbagi dalam beberapa kategori, dan ada nilai minus jika jawaban salah. Soalnya berputar di analisa logika, dan bikin orang yang belom sarapan dan kurang tidur pasti otaknya bleberan. Di bagian ini, ada waktu yang ditentukan kapan harus berhenti dan melanjutkan membaca soal. Oh ya, soalnya tidak boleh dibawa pulang.

Sebagai wanita yang sudah sarapan, sudah minum akua dan lumayan cukup tidur, soal-soal TPA nya cukup bikin sel-sel di otak saya saling membelit satu sama lain saking musinginnya. Tapi mungkin buat anda diluar sana yang emang logikanya jawara dan jagoan matematika se-kelurahanan, mungkin ini soal istilahnya piece of cake alias gampil lah.

Kelar ujian, saya langsung janjian sama temen saya, Asmie yang juga kebagian tes di gedung yang sama (keperawatan) tapi beda ruangan. Gosip-gosip dikit sambil makan sari roti sebungkus berdua dan akua sebotol berdua, sambil baca soal-soal bahasa inggris yang akan diujikan selanjutnya. 

Di ujian bahasa Inggris ini, soalnya mirip ujian TOEFL, bedanya nggak ada listening. Bagian 1 isinya macem fill in the blank dengan pilihan jawaban A sampai D, bagian 2 soal structure alias grammar, dan bagian 3 yaitu bacaan (super) panjang. Totalnya ada 100 soal dengan waktu 90 menit. Oh crap! 

 Gara-gara manajemen waktu yang kurang tepat, tentu waktu yang sedikit bikin saya sedikit panik. Dalam 1 jam, saya baru mengerjakan sekitar 55 soal. Lalu apa kabar dengan 45 soal lain? Sayang sekali nasib mereka, karena akhirnya saya mengerjakannya dengan terburu-buru, dan 20 soal terakhir (dengan sangat terpaksa) harus mengisi jawaban A semua. Kepepet waktu, dan mumpung nggak ada pengurangan nilai kalau salah. Tapi… gue, eh saya, agak menyesali hal ini. Why oh why…

Nah, ini dia pelajarannya, seharusnya kalau ada soal dirasa susah, di skip aja daripada makan waktu. Dan satu lagi, ketahui dulu berapa jumlah soal sebelum benar-benar mengerjakannya. (yea, saya malah baru ngeh kalo ada 100 soal pas udah di menit ke 50). Beberapa ‘kebodohan’ itu hmm yaa nggak untuk disesali sih ya, karena bisa jadi pelajaran dan toh kalo memang jalannya sekolah lagi, pasti ada aja jalannya :) 

Untuk soal bahasa Inggris, soalnya bisa dibawa pulang. Kalo bapak, ibu, saudara dan bapak camat beserta ibu sekalian mau liat soalnya, bisa didownload di laman penerimaan.ui.ac.id (harus log in dulu), soalnya kayak gitulah. Semoga sukses…… lancar….. dan tokcer ujiannya! Kalaupun belum berhasil, coba lagi! :)