19 Maret, 2012

Afternoon Walk


One afternoon with beloved niece :)

11 Maret, 2012

Sunset Bersama Rosie, Tere-Liye



Pertama kali kenalan dengan tulisannya Tere-Liye, saya ilfeel. Novel diskonan G**media yang saya beli, The Gogons, jayus berat! Deretan novel karya Tere-Liye pun nggak pernah saya kunjungin kalau lagi di toko buku. Apalagi judulnya yang terlalu ‘puitis’.  Tiba-tiba bulan Februari kemarin, Esti, temen saya kasih novel karangan Tere-Liye, judulnya “Sunset Bersama Rosie”. Ternyata…. Novel ini keren! Sukses banget bikin saya nangis dengan airmata sederas arus sungai Citarik.

Ceritanya mengenai Tegar, seorang pemuda dewasa yang punya sahabat sejak kecil bernama Rosie. Perasaan Tegar ke Rosie sangat dalam, benar mencintainya dan amat ingin bersatu. Saat melakukan penanjakan di Gunung Semeru, Tegar berencana untuk menyatakan perasaannya. Sayangnya, di momen itu dia malah mendapati Rosie ditembak oleh Nathan, sahabat Tegar. Tak lama, mereka menikah.

Tegar, yang belum sempat menyatakan perasaannya, memutuskan untuk pergi menghilang dari Rosie. Ia begitu sedih, hatinya runtuh. Pindah dari Gili Trawangan dan bermukim di Jakarta, dan bekerja sekeras ia bisa, untuk lupakan Rosie. ‘Jarak’ antara Tegar dan Rosie hanya bertahan 5 tahun, dan setelahnya Tegar malah jadi sahabat suami isteri itu dan keempat anaknya, Anggrek, Sakura, Jasmin dan Lili. Tegar juga sudah selangkah lagi menikah dengan gadis bernama Sekar. Everything looks perfect.

Malam sebelum hari pertunangannya, -seperti biasa- Tegar melakukan Video Streaming dengan keluarga Nathan. Obrolan Jakarta – Jimbaran itu berlangsung seru dan hangat, bertepatan dengan ulang tahun perkawinan ke 13. Again, everything looks so perfect.

Namun ternyata, takdir bilang lain. Tiba-tiba saja, kejadian itu terjadi. Bom Bali. Terjadi persis di restoran tempat mereka duduk. Seketika cerita indah itu terhenti. Tanpa pikir panjang, Tegar –di malam sebelum pertunangannya- langsung pergi ke Bali. Semua hancur, tangan Sakura patah, dan… Nathan tewas. Rosie terguncang hebat dan harus dibawa ke tempat rehabilitasi mental. Semuanya berubah.

Nathan yang tewas dan Rosie yang tak stabil, membuat Tegar harus mengambil alih peran orang tua bagi keempat anak Rosie dan Nathan. Dua tahun Rosie di tempat rehabilitasi, dan selama itu juga Tegar bermukim di Gili Trawangan, tempat keluarga Rosie tinggal yang juga kampung halaman Tegar. Ia besarkan anak-anak yang sungguh pintar dan menakjubkan itu higga tumbuh menjadi anak-anak yang membanggakan. Ia begitu larut dengan “hidup baru” nya, sampai akhirnya ia lupa bahwa ia punya janji kehidupan bersama Sekar. 

Dua tahun berlalu, Rosie akhirnya dinyatakan sudah sembuh. Tegar bimbang. Awalnya, ia selalu bilang pada Sekar jika ia akan kembali ke Jakarta ketika Rosie sudah sembuh. Namun ketika Rosie pulang, hubugannya dengan Sekar bahkan sudah berantakan. Tegar juga sudah lengket dengan Anggrek, Sakura, Jasmine dan Lili, menjadi om, uncle dan paman mereka yang keren dan hebat. Apakah Tegar masih harus memenuhi janji kehidupannya dengan Sekar? Atau malah memanfaatkan ini sebagai "kesempatan kedua" mendapatkan Rosie? (cie, gaya nya ibarat ringkasan cerita snetron).

DANG! Begitu banyak kejadian yang bikin air mata saya meleleh seperti sekilo mentega yang diletakkan di wajan panas. Tegar yang susah payah kembali “hidup” setelah Rosie menikah dengan Nathan, Nathan yang tewas, Rosie dan keempat anaknya yang kehilangan sosok suami dan ayah, serta Sekar dengan harapannya yang tak kunjung terwujud. Have you ever imagined if that happened to your life? Sedih, banget.

Memang ada beberapa hal yang terasa kurang real. Tentang bagaimana Jasmine yang baru 5 tahun begitu sigapnya mengurus Lili yang usianya 1 tahun, bahkan sudah seperti ‘ibunya’ sendiri. Itu kok terasa tidak mungkin ya? Plus ada penggambaran lain yang menurut saya… agak lebay dan terlalu didramatisir. But overall, I love this book. Recommended buat yang suka novel ‘agak’ mikir bertema cinta dan keluarga. 


"aku tahu apa artinya sebuah kesedihan, aku pernah mengalaminya. percuma berdiri disini sepanjang hari, sepanjang tahun, tidak akan membantu. Tidak ada yang bisa membantu selain waktu." Tegar, hal.79

"Bagi anak kecil, perjalanan pulang memang selalu menyenangkan. Tidak menduga-duga banyak hal, tidak mendendang kecemasan, prasangka dan entahlah. Hanya pulang. Bagi orang dewasa, perjalanan pulang seperti ritual suci yang penuh perhitungan." hal. 118.

"Bagi seorang gadis, menyimpan perasaan cinta sebesar itu justru menjadi energi yang hebat buat siapa saja yang beruntung menjadi pasangannya." Oma, hal. 157

"Anak-anak harus belajar berdamai, bukan melupakan." Tegar hal. 167

"Dua puluh tahun dari sekarang kau akan lebih menyesal atas apa-apa yang tidak pernah kau kerjakan dibanding atas apa-apa yang kau kerjakan." Oma, hal. 171

"Percaya atau tidak, membayangkan seperti apa hebatnya perasaan itu akan jauh lebih hebat dibandingkan kalau aku benar-benar tiba di sana. Semua itu akan membuat kenangan, bayangan dan pengharapan itu tetap istimewa. Tetap hebat seperti yang kubayangkan. Apakah dunia memang begitu? kita tidak akan pernah mendapatkan sesuatu jika kita terlalu menginginkannya. kita tidak akan pernah mengerti hakikat memiliki, jika kita terlalu ingin memilikinya." hal.403

"Kalian berdualah yang justru tidak pernah berani membuat kesempatan itu. betapa tidak beruntungnya. kalian menyerahkan sepenuhnya kesempatn itu kepada suratan nasib." Oma, hal. 409

Rumah Cokelat - Sitta Karina



Hmm, lagi semangat banget cerita tentang Rumah Cokelat! Gimana enggak, lha wong novelnya aja baruuu aja selesai dibaca. Kalo lihat genrenya “MomLit”, tentunya ini novel tentang keluarga, tentang ibu muda. Belum, saya belum jadi mama-mama, but mostly, I love this book! 

Rumah Cokelat bercerita tentang sebuah keluarga kecil terdiri dari Wigra, Hannah dan anaknya Razsya. Sang ibu, Hannah, tipikal ibu muda jaman sekarang banget, punya pekerjaan bagus, up to date sama fashion, lifestyle yang masa kini, tapi juga obsesi nabung buat sekolah Razsya serta kehidupan mereka dan kebutuhannya.

Hannah merasa sudah menjalankan profesinya sebagai seorang ibu, dengan mencukupi kebutuhan Razsya. Memberinya mainan, plus ngasih sederetan peraturan buat dijalankan pengasuh anaknya. Di saat tuntutan kerjaan dan gaya hidupnya makin tinggi, Hannah merasa desperate sebagai seorang ibu. Anaknya jadi lebih dekat dengan pengasuh. Razsya bahkan lebih dekat dengan pengasuh dibandingkan ibunya. Ironi. Beruntung Hannah punya Wigra, sosok superhero yang jadi tipe idaman para gadis ranum: sabar, positive thinking, religius, kalem, family-man, ganteng, dengan otak yang pintar dan pekerjaan yang bagus. Perfect. Mereka berusaha banget bangun keluarga yang bahagia dan berkecukupan (tak hanya materi, tapi pendidikan, moral dan tentunya… kasih sayang). Nggak gampang memang.

Membesarkan anak jadi seperti yang diharapkan juga nuntut kedua orang tuanya belajar. Mau berubah, memberi contoh yang bener dan layak.  Gimana bisa kita ingin anak ngomong yang sopan, kalau kita malah ber-gue-elo di depannya, bicara membentak ataupun berkelakuan buruk? 

Hannah si wanita karir kerepotan dengan segala tetek-bengek urusan rumah tangga, dan urusan Razsya yang sulit dia kenali. Yea! Begitukah potret keluarga modern zaman sekarang, saat anak-anak bahkan bermain dan berkembang bersama baby sitter. Ketika ibu-ibu tak bisa lebih dari satu jam benar-benar bersama anaknya, tanpa mengintip Blackberry, asyik baca majalah fashion ataupun sibuk dengan laptop? 

Sempat hadir “pengganggu” kecil di kedua sisinya, mulai dari Hanna yang dikejar Banyu, juga Ara, mantan pacar Wigra dan Olivia Chow, rekan kerja Wigra. Huhuuuuw… agak bergidik membayangkan realita kalau hubungan itu kalau nggak dimaintain dengan sangat-sangat rapi, mudah banget retak dan hancur. Apalagi kalau pertanyaan seperti “memangnya kalau sudah menikah nggak bisa senang-senang lagi?” itu diartikan berbeda. Buku ini bikin gue sering nelen ludah. Glek! Begini ya pernikahan?

I love this book. Tutur bahasa Sitta Karina sangat ringan, sehari-hari banget dengan setting yang membumi dan nggak muluk. Konflik ibu-anak tentang pola asuh yang beda zaman juga menarik dan so real. Hehehe. Terlebih, banyak pelajaran tentang hubungan dan komitmen. Gue merasa sebagai  perempuan –sekalipun masih sendiri, ya bok!- belajar dan mencari tahu itu perlu banget, apalagi tentang pernikahan. Sebuah komitmen yang tak main-main. Rentan. Riskan. Gue tidak seberani dan se-pede itu masuk dalam proses dan lingkarannya dengan modal otak kosong dan bilang “liat aja entar”. No way!. Novel seharga Rp.38.000 ini beneran worth to buy buat para ibu muda, atau cewek-cewek muda macemnya kita ini. *cieee*

“Jagain ibu ya, Nak. Hormati perempuan. Kalau nanti Razsya sudah besar dan mau berbuat seenaknya ke perempuan, ingat Ibu. Menyakiti mereka sama dengan menyakiti Ibu.” -Wigra-


“Jaman sekarang esensi keluarga sudah ‘kopong’. Kalau sudah berkeluarga tapi masih pergi sama teman-teman melulu itu berarti elo alien di antara keluarga elo sendiri. Atau elonya kesepian. Dan yang paling menarik, kalau elo nggak bisa bermain sama anak elo sendiri lebih dari sejam dan prefer untuk nyuruh nanny menggantikannya, you’re not ready for family.” -Banyu-

“Elo menganggap enteng konsep pernikahan dan keluarga, dan berpikir semua orang akan berpikiran yang sama kayak elo. Memangnya gampang mempertahankan semua itu?” -Hannah-

“Sekarang ini kebanyakan pasangan orientasinya menghindar dari masalah, sih. Bukannya menyelesaikan masalah. Pilihannya Cuma dua, mau diselesaikan atau tidak. Untuk dapat menyelesaikannya, kita butuh niat untuk benar-benar menyelesaikan-serta komunikasi.” -Wigra-


***

07 Maret, 2012

Belanja di bukabuku.com

Setelah sebelumnya sempat belanja di inibuku.com,, kali ini saya beli buku di bukabuku.com. Proses keduanya hampir sama, dan saya memilih sistem bayar di tempat (COD). Total buku yang dibeli ada 4 buku, 2 punya saya dan 2 punya temen kantor. Totalnya sekitar 170.000 plus ongkir Rp.7500. Sip deh.

Serunya belanja buku online, harga bukunya lebih murah dan bisa COD (khusus Jakarta). Diskonnya sekitar 10% - 20%lebih murah dibanding beli di toko buku, tinggal klik websitenya, tunggu kurirnya dateng deh. Tanpa harus masuk mal, pakai ongkos dan lapar mata. That’s every woman’s habit! Hihi.

Inibuku.com cukup informatif kasih kabar berita tentang nasibnya si buku, Mulai dari sms yang mengkonfirmasi tentang pembelian, lalu e-mail berkala tentang status buku, dari mulai diproses, dibungkus, hingga diantar. Totalnya sekitar 2 hari kerja hingga buku sampai di alamat kantor.

Dilihat di webnya, keempat buku yang dipesan semuanya ready stock. Yang bikin bingung, tertulis bahwa buku –buku sudah siap dikirim namun beda status. Dua buku, Rumah Cokelat dan Test Pack statusnya “completed”, dan dua buku lainnya berstatus “processed”. Kok bisa siap dikirim, tapi statusnya masih ada yang processed?


Kirimannya datang bertepatan ketika saya lagi di rumang meeting. Mas kurir telepooooon terus ke henpon, ya saya nggak bisa angkat atau malah ninggalin ruangan. Saya cuekin teleponnya. Begitu kelar meeting, saya langsung ke meja resepsionis. Mas kurir sudah bertengger di situ. Dia komplen ke saya. “Mbak, kalo ngasih alamat yang lengkap dong… saya sampe muter-muter”, katanya dengan mimik memelas. “lho mas, memangnya alamatnya kurang ya? Kayaknya udah jelas banget deh”, jawab saya. Menurutnya, kesalahan saya adalah nggak mencantumkan nama kantor, dan dia kebingungan cari gedung Aldevco. Waduh….

Buku yang diantar juga ternyata hanya dua (yang berstatus “completed” itu). Rupanya sistem di bukabuku.com, buku yang ready stock dikirim duluan, dan buku yang masih dicari akan dikirim belakangan. Setelah ditunggu 2 hari, bukunya ternyata beneran nggak ada, padahal di website tertulis ada. Untunglah pake sistem COD ya, jadi hanya bayar sesuai yang diantar. Kalau ditransfer, bayar seluruh buku dan kalau ada yang tidak tersedia, uangnya akan ditransfer balik. Riskan ya bok, as far as I know, soal “transfer balik” itu makan waktu karena kita kan nggak tau kapan mereka mau transfer balik. For me, belanja online itu hanya asik kalo beli buku. Belanja yang lain, harus tatap muka dong :)

05 Maret, 2012

Pantai Balekambang, ihiww!



Hello pantai Balekambang! Akhirnya aku bisa ketempatmu! Pantai Balekambang ini terletak di pesisir selatan Jawa Timur. Dari stasiun Kota Baru Malang, jaraknya sekitar 45 km. Saya dan romobongan naik mobil Elf dengan pemandangan kiri kanan dipenuhi pohon tinggi-tinggi. Walaupun merasa “kok nggak sampe-sampe ya?!”, padahal sudah terlihat pohon kelapa dari kejauhan *berarti harusnya udah deket.hehehe.maksa*


 numpang foto di depan kantor walikota Malang


Tiba di pantainya, woohooo, nggak sabar mau nyemplung! (eh, emang bisa berenang Plo?). Pantai! Pantai! Pantai! Seneng banget saya lihat pantai. Apalagi dengan pasir putih, pemandangan cantik dan satu lagi, sepi! Sayangnya ombak di pantai ini besar, dan ada larangan untuk tidak berenang. Yah, padahal kan saya udah siap-siap mau surfing (di internet). Tapi nggak apa-apa, bisa ketemu pasir, basahin kaki pun udah seneng. hehehe.



Putihnya pasir berpadu dengan air laut yang hijau kebiruan. Bagus, sangat! Ditambah dengan pemandangan Pura Ismoyo yang menjorok ke tengah laut. Mirip-mirip Tanah Lot di Bali, sama-sama bagus pastinya.


Sesampainya di pantai Balekambang, seperti halnya di tempat wisata lain, saya senengnya luar biasa. Sudah sangat lama nggak liat laut, hmm, terakhir sekitar bulan Juli 2011, eh salah, 26 Desember 2011 deng (itupun sebentar). Pantainya sepi, dengan beberapa tukang jajanan. Saya langsung beli pentol, jajanan andalan saya waktu masih di Kediri dulu. Obat kangen gitulah. Ada beberapa ibu-ibu penjual buah alpukat, salak dan sirsak yang sebenernya bikin saya pengen beli. Buahnya segar-segar dan yang terpenting MURAH. Sayangnya saya nggak beli, karena setelah itu masih harus pergi ke Bromo dan Semarang. Bakal terombang-ambing nasib mereka kalau saya beli dan taro di mobil dan ngikutin saya yang sibuk *ceileee*

Jalan ke Pura Ismoyo juga seru, tentunya karena pemandangan super cantik menghampar di depan saya. Menyusuri jembatannya, lalu naik tangga. Pura nya sendiri ditutup, hmm ya saya malah akan heran kalau dibuka, karena itu kan tempat ibadah. Nggak etis lah kalo dimasukin pengunjungnya yang cuma ingin foto-foto. Bersama Asmie, Kiki dan Septhya, saya sempat duduk di bagian paling ujung pulau ini. Melihat batu-batu besar dengan sahutan ombak yang juga besar.


Puas duduk-duduk di pulau itu, kami balik lagi ke bibir pantai. Kali ini ke satu sudut pantai, bersisian dengan uhm, hutan sepertinya. Pasirnya putih namun banyak sampah. Airnya bening semata kaki dengan lumut-lumut licin. Seru di sini. Saya sempet foto Asmie dan Kiki, si pasangan yang sudah pacaran lebih dari 6 tahun. Ya pre-wedding gitulah. Cie. Rasanya kalo suatu hari mereka nikah, nggak perlu ada sesi foto pre-wedding lagi deh, karena mereka punya buanyak banget foto berdua di berbagai tempat liburan. So sweet ya *apus iler*






 Setelah menempuh perjalanan 18 jam dengan kereta ekonomi Jakarta – Malang, bisa dipastikan seperti apa badan saya saat itu. Lepek, gerah, perlu berendem di dalam 7 mata air dengan bubuk abu gosok lah gitu. Akhirnya saya mandi di toilet umum pantai Balekambang. Err, agak awkward sebenernya, ketika elo mandi di toilet umum (yang bisa ditebak kondisinya), dengan bapak-bapak penjaga di depan. Dalam liburan selama 3 hari, mandinya ya sekali itu aja. Hehehe...


Sayangnya setelah itu, cuacanya nggak bersahabat. Tiba-tiba angin kencang berhembus. Rombongan kami langsung masuk ke dalam mobil yang lebih hangat. Selesai sudah liburannya di pantai Balekambang. Setelah sempat jalan-jalan, foto, numpang makan indomie, minum kelapa hijau, mandi, sholat dan makan pentol. Cukuplah 5 jam di pantai Balekambang bikin saya seneng, bahagia dan bilang Alhamduuu lilah :)