30 Januari, 2012

Bromo! (photos)












photos&texts: Flora Febrianindya


28 Januari, 2012

HelloBromo!





Boleh teriak? Boleh? Uwyeaaaaaa!!! Akhirnya kesampaian juga ke Bromo! 18 jam perjalanan dengan kereta ekonomi Matarmaja, Pasar Senen – Malang. Akhirnya saya nyampe Malaaang!!! Nyampeeee!!! Tiba di Stasiun Kota Baru Malang jam 8 pagi, langsung antri toilet stasiun buat sikat gigi-cuci muka. Perlu antri lumayan lama, hingga akhirnya bisa mencelupkan diri kedalam air. Ouchhh… lucunya mbah-mbah pemilik toilet. Ketika narikin bayaran, dia akan bertanya dengan suara pake toa: “TADI APA? BE*L??”. “iya bu”, jawab si pengguna wc dengan suara dipelan-pelanin seperti menutupi aib. “OOOOHHH BE*L…. BERARTI 2000 KALO BE*L…….!!!!!!”. Hancur sudah pencitraan si mas-mas necis yang masuk WC pake kacamata item.

Karena kita pergi menggunakan paket wisata, jadi soal penginapan dan transportasi, sudah ada yang atur. Saya pergi bareng Asmi, Kiki dan Septya, dengan total rombongan 60 orang. Dari stasiun Malang, kita jalan-jalan dulu ke pantai Balekambang, Malang, dan baru tiba di pemukiman Suku Tengger sekitar jam 11 malam.

Perjalanan menuju pemukiman suku Tengger ini agak bikin deg-degan. Malem, gelap, nggak bisa lihat apa-apa. Yang saya tahu, ada hutan dan jurang di kiri kanan jalan. Bapak driver Elf-nya bilang “hati-hati lihatnya, mbak.. kalau ada yang dilihat, santai aja ya…”. Beuh. Saya langsung meniduri mata saya, daripada lihat yang aneh-aneh. Ketika saya bangun lagi, ada banyak cahaya keemasan yang berkilat-kilat. Apa ya? Kok bagus banget? Saya penasaran, sambil lihat kanan-kiri (belagu… padahal aslinya serem juga), tapi itu pemandangan bagus banget. Perjalanannya, wow! Banyak banget tikungan tajam yang bikin otak berfikir… “ini dimana? Jangan-jangan gue diculik dan dilarikan ke kaki gunung!”. Bodoh sekali ya, kan memang sedang pergi ke gunung!


Setelah tidur 4 jam, kita dibangunin untuk siap-siap pergi ke Pananjakan. Saya tidur di homestay milik warga Suku Tengger. Rumahnya bagus, bersih, rapi dan lengkap. Seriusss, kamarnya enak, spring bed dengan bantal guling empuk, rumahnya ada tv, sofa, dapur, kamar mandi luas, nginep setaun juga nyaman lah! Udaranya dingin banget, dan saya baru sadar, jaket saya rusak resletingnya. Udah dingin seada-adanya, saya dobel celana, dobel kauskaki, dan memberdayakan semua jilbab buat jadi syal. Bodo lah kalo warna nggak matching, atau terlihat aneh.
Jam 4 pagi, tempat parkir di pemukiman suku Tengger sudah banyak orang. Dari sana, kita naik mobil Jeep menuju Pananjakan. Nggak sampai 30 menit kita sudah sampai. Sudah ada deretan mobil Jeep lain di parkirannya. Kurang beruntungnya, baru beberapa langkah jalan, sesak napas saya kambuh. Untungnyaaaa… jalannya nggak jauh dan saya bisa nutupin muka grogi saya. Eh, sesek napas kok grogi. 
 
Saya berdiri di pagar pembatas. Menghadap hamparan kabut yang menutupi gunung Bromo, gunung Batok dan gunung Semeru. Rasanya Subhanallah banget berdiri disitu, membayangkan saya akan melihat lukisan alam yang sebelumnya cuma bisa saya lihat di kalender gratisan. Pikiran saya:  “Get ready, Flo… you will see one of the greatest scenery on earth, in a minute!”. Tapi… setelah ditunggu… Sunrise nya nggak muncul. Hanya hamparan kabut di depan mata saya. Hmm… tapi nggak apa-apa. Bisa sampai disini aja, saya sudah bersyukur banget. Mungkin ini artinya, saya harus balik kesini lagi lain waktu!


Selesai di Pananjakan, kita balik lagi ke parkiran untuk ke gunung Bromo. Saya sempet curi waktu buat makan bakso malang. Ketika kuah bakso yang panas mengepul dituang ke mangkok, dalam hitungan menit, kuahnya udah anyep. Hahaha. Pas mau bayar. Saya: “Pak, piro? Pangsite papat, tahune telu, mine siji”. (sadeyyysssss bahasa gueeee). “ro ngewu mbak!”, kata masnya. Hah? Dua rebu? Ahhh inilah yang saya suka dari Jawa Timur…. Harga makanan ‘pinggir’nya ramah di kantong!



Dari situ, lanjut kita ke Bromo. Perjalanannya? Mantep! Banget! Pemandangannya pun super keren. Beberapa kali kita bilang ke mas Dharma, sang driver Jeep yang agak tampan (eh?) supaya hati-hati. Tapi dia santai banget bawa mobilnya, ibarat lagi lewatin tol JORR jam 12 malem, padahal, kita lagi ada di jalan menanjak menurun menikung dengan sisi  jurang dan tanah rawan longsor. Mas Dharma ini sangat terbuka ditanya apapun tentang Bromo dan Tengger. Saking sopannya, setiap kali kita tanya sesuatu, dia akan jawab sambil nengok menghadap wajah kita, tapi tetap sambil nyetir. Luar biasa. 


Jalanan menuju Bromo nggak semuanya mulus. Bahkan ada beberapa titik dimana ada bagian sisi jalan yang ‘mencelos’ alias longsor dan bolong. Mas Dharma sih santai, tapi jantung kita udah pada joget TNI. Ketika AKHIRNYA perjalanan roller coaster itu berakhir di hamparan pasir, perjalanan malah makin seru karena banyak bagian pasir yang ‘ambles’. Seru banget!

 Mas Dharma, itu tuh yang jaket merah


Dari parkiran, saya jalan kaki menuju kaki gunung. Saya jalan sendirian, dan nggak tahu temen-temen saya dimana. Di titik ini, saya menemukan the best part of this trip. Saya selalu suka bagian ketika saya jalan kaki sendirian…. Jalan… lurus…. Sendiri…. Entah kenapa, dimanapun saya jalan kaki sendirian dikelilingi tempat yang indah, saya seperti lagi ‘ngasih makan’, dan manjain hati saya sendiri. Nggak mikirin siapapun, apapun, berkata apapun…. Cuma jalan kaki, dan momen itu cukup untuk jujur-jujuran. I use my heart, that always give me a clearer view than the naked eyes and the logic can do :) Ahhh… susah dideskripsiinnya :)


Sampai di kaki gunung, eh ketemu Asmi, Kiki, Septhya dan Angga lagi. Hihi. Jalannya pasir menanjak, dengan banyak lubang dan banyak kuda berlalu lintas beserta kotorannya menghampar. Kalo itu di Jakarta, mungkin udah ada lampu merah khusus kuda kali yah. Di tengah jalan, saya ditawarin naik kuda sampai bawah tangga menuju kawah, harganya Rp.20.000. lucu banget, nanjak sambil enjot-enjotan di atas kuda. Akhirnya sampai juga di kawah gunung, dengan agak-agak dibantuin Angga yang standby di depan saya. Harus super hati-hati jalan di pinggir kawah, karena nggak ada pembatas apapun. Saya cuma sekitar 15 menit disitu, karena, ngeri cing! 

sarung tangan sebelah kanan tak tau dimana rimbanya...



Buat turunnya, banyak yang ngesot di pasir. Iya, ngesot, melorot turun. Ada juga yang ala-ala main ski di salju, dengan tumpuan tumit berdiri merosotin pasir. Itu keren banget kelihatannya. Saya sok mau coba. Udah duduk di atas pasir, siap berdiri buat merosot turun, ehhhh, saya malah ngeri. Tinggi banget! Akhirnya balik lagi ke tangga dan jalan turun seperti biasanya. Hehe…



Di perjalanan pulang, mas Dharma cerita soal totalitas warga Suku Tengger dalam menjaga alamnya. Hampir nggak ada warganya yang pindah ke kota lain atau malahan  jadi orang ‘Jakarte’, semuanya akan kembali lagi membangun kampung. Menurutnya, alam Bromo ini luar biasa kaya, nggak ada habisnya mencari makan disini. Kenapa harus cari uang di luar?


Jalanan menuju Bromo pun dibuat swadaya oleh masyarakatnya. Baru akhirnya, ada pihak pemerintah yang membantu perbaikan jalan. Di sana, hanya orang lokal Tengger yang bisa bangun homestay ataupun punya Jeep sewaan, itupun jumlahnya terbatas. Dari tarif sewa mobil/rumah yang didapat, selalu ada sekian persen yang harus diberikan pada Paguyuban.
Oh ya, mereka nggak mengizinkan investor/orang luar membangun asetnya di sana. Sungguh cara yang cerdas supaya warga asli nggak diinjak-injak di tanahnya sendiri! Mereka yang membangun dan menjaga. Kontras ya sama daerah lain, yang di tanah kelahirannya sendiri pun, akhirnya harus takluk dengan gila nya pembangunan dari kantong orang asing. Dimana orang harus jadi pengangguran, PRT, dan buruh dengan gaji prihatin, di tanahnya sendiri, yang sudah jadi milik “orang lain”. Edan.





By the way… perjalanan ini bikin saya senangsekalih… walaupun saya kecewa dengan pihak organizer, yang tidak total meng-organize. Yang seharusnya kita pergi ke 4 lokasi, mengerucut jadi Cuma 2 tempat aja. Alasannya, karena lokasi Coban Pelangi yang nggak bisa dilewati mobil elf (memangnya… nggak survey dulu?). Atau lokasi pasir berbisik yang dibilang kurang kondusif. Yang saya rasa sih, memang terlalu banyak waktu yang kebuang percuma buat hal-hal yang nggak perlu. Plus, ada kekacauan bahkan saat duduk di kereta. Oh Mannn!! They are not that ready and serious to handle their clients. Pergi sendiri tanpa “jasa” ini rasanya akan jauh lebih murah dan NAMPOL. Hehehe :). But as a friend, they are, the organizer team, such a great buddies for me :)

But I thank God; finally I have arrived at Bromo. Feel the ambiance, the magical scenery and creature, feed my eyes and also my heart and soul with an unexplainable things and feelings…. That was priceless. Alhamdulillah…
 :)
:)


*foto-foto diambil dari kamera sendiri, ponsel, punya Riefky, Dimas, dan dokumentasi Smartrip Community

25 Januari, 2012

(hampir) sehari di Semarang




Yeay, akhirnya bisa ke kota Semarang lagi! Kali ini menginjakkan kaki di stasiun Semarang Poncol, karena naik KA Ekonomi Matarmaja dari Malang. Perut terasa kembung, tenggorokan sakit, suara agak serak, tapi gak apa-apa, hajar bleh. Rencananya hanya satu hari, umm, kurang dari satu hari malahan disini. Let’s start our dayyyy!!!

Sampai di Semarang, langsung menjejakkan kaki di angkringan Pak Gik di jalan Gajahmada. Konon, angkringan ini adalah angkringan paling gaul se-Semarang. Tempatnya luar biasa ramai, dan (katanya) makanannya enak. Waktu saya datang, “wah, rame ya”. Rata-rata pengunjungnya cowok yang bergerombol. Tempatnya sendiri bersebelahan dengan kali yang airnya kotor dan banyak sampah.

Menurut kakaknya Pak Gik, (seorang bapak yang saya lupa namanya, kita sebut saja pak Brodin), angkringan ini sudah ada dari tahun 1960-an. Sebagai anak gaul, tampan dan keren (PADA JAMANNYA), Ia dan pak Gik mendirikan kedai nasi kucing ini. Tapi kemudian doski pindah ke Jakarta dan kerja disana. Jadilah nama si adik, Pak Gik, yang diabadikan jadi nama angkringannya.

Sekarang, si kakak, sudah balik lagi ke Semarang. Kadang saat malam ia bantu angkringan, setelah siangnya bekerja jadi tukang becak. Menurut dia, angkringannya lagi sepi. Hah? Segitu dibilang sepi? Katanya, biasanya jauh lebih rame, orang-orang bubaran dari diskotik biasanya mampir, masih lengkap dengan atribut dan aksesoris ala-ala orang clubbing. Oh ya, makanannya sendiri ada mulai dari nasi kucing komplit, mendoan, pia, dan lainnya. Saya hanya coba pangsit goreng plus teh panas yang rasanya standar teh dan pangsit. Warung ini buka dari jam 10 malam sampai jam 7 pagi. Oh ya, jangan ngaku anak gaul Semarang kalo gak tau dan gak nongkrong disini!!!!!! *GakSantai*

Pagi-pagi, eh, kalo jam 7 bisa dibilang pagi-pagi ya, saya udah rapi dan siap jalan-jalan. Udah ada sederetan tempat di Semarang yang pengen dikunjungi. Temen saya yang tinggal di Semarang udah siap dengan amunisi, motor buat jalan-jalan, list tempat makan dan tempat yang oke buat didatengin.



Pertama kita sarapan dulu di Soto Kudus Mbak Lien di jalan Ki Mangun Sarkoro, belakang rumah sakit Tlogorejo. Saya pesen soto kudus biasa, harganya Rp.5000. Sotonya disajikan campur dengan nasi di dalam mangkuk kecil khas soto kudus. Harum enak bawang putih goreng dan daun bawang, plus kuah kuning yang sedeppp! Serius, ini soto enak banget! Saya jadi inget soto favorit saya di Kediri. Ternyata, ada yang lebih enak!

Di mejanya, tersaji beberapa tambahan, seperti perkedel kentang dan tempe goreng (Rp.1000), dan sate telur puyuh dan sate kerang (Rp.2500). Saya pilih tempe, dan….. ini tempe enak banget! Kok bisa ya, tempenya garing banget, tapi nggak tipis kayak di tukang gorengan? Gurih, kriuk, dan enak! Uhui! Serius, ini tempe enak banget.



Kelar sarapan, lanjut kita ke Kota Lama jl.Letjend Suprapto,duduk-duduk di taman srigunting. Kota Lama ini mirip-mirip kota lama-nya Jakarta. Bangunan tua, klasik, dan sama-sama ramai jadi destinasi buat nongkrong, ngumpul, photo session, dan uhm, pacaran. Pas jalan-jalan disini, baru deh timbul masalah. Saya sakit perut. Gak ada toilet, spbu atau apalah itu yang bisa dijadikan muara si gejolak perut. ternyata, perut kembung oleh-oleh dari Malang masih berlanjut. Perut saya sakiiiit. dan umm, cuaca Semarang yang panas terik membuat kepala saya pusing banget dan saya mulai bersin-bersin lagi. Akhirnya kita jalan-jalan dulu sebentar, dan menemukan satu tembok lucu dengan banyak mural.



"AKU DULU JUGA ANAK-ANAK!!!!"


Setelahnya, lanjut kita ke kawasan pecinan Semarang, pasar Semawis. Karena kesana di siang hari, jadi nggak begitu ramai kulinernya, dan dari luar terlihat sepi di hari imlek. Dari situ kita menyusuri kali menuju jalan lombok, dimana ada replika kapal Laksamana Cheng Ho. Dulunya, kapal aslinya digunakan oleh Laksamana Cheng Ho untuk menjelajahi dunia. Kapal ini terletak berseberangan dengan klenteng Tak Kay Sie.  Sayangnya kali disini kumuh dan kotor. Padahal kawasan pecinan ini punya banyak bangunan unik yang bisa jadi destinasi jalan-jalan.



Setelahnya, kita mau beli kue di Selina, di jalan Kranggan Barat. Kue ganjel rel adalah kue klasik, yang  bentuknya mirip ganjelan rel. kalau di Jakarta, kue ini namanya kue Gambang. Roti warna coklat dengan aroma khas kayumanis dan ditaburi wijen. Sayang, kuenya habis dan sedang dibuat lagi. Roti ini kesukaan mama saya, dan kadang kalau lagi hoki, dia nemu tukang roti Tan Ek Tjoan yang jualan roti gambang.



Niatnya mau cari sekolah Kolese Loyola di jalan Karanganyar. Ada kue lekker yang enak disana, namanya Paimo lekker. gaul abiiieezzztt. Lekker tuh macamnya crepes dengan isian macem-macem mulai dari kacang-cokelat-keju sampai sosis, tuna dan telur. Jualannya sederhana, hanya gerobak kecil dengan kompor dan wajan dengan sistem putar. Saya pesan cokelat kacang (Rp. 1500), pisang karamel (Rp.2000), dan juga tuna sosis telur (9000).



Rasanya? Enak! Bahkan yang harganya seribu limaratusan sekalipun! Kalau di Bekasi/Jakarta, kue lekker harga segitu cuma ngotor-ngotorin gigi, nah yang ini beneran makanan namanya! Siang itu cenderung sepi, karena biasanya perlu antri panjang untuk bisa makan kue ini. Apalagi letaknya yang persis di depan sekolah, no wonder kalo selalu ramai.



Lanjut kita nyari rujak marem pak Mien. Setelah nyari2, beberapa kali muter balik dan kebingungan, ternyata rujak ini nggak jauh dari kue lekker. Harganya Rp.10.000 seporsi. Karena bersin saya makin gila, makin pusing dan keringat dingin, rujaknya dibungkus. Ternyata, porsi rujak ini guede banget! Buahnya dibungkus dalam plastik bening ukuran satu kilo, dan buahnya sekitar setengah bungkus! Bayangin dah tuh... Isi buahnya standar rujak, plus jambu merah. Niatnya dimakan bareng sama si temen, eh ujung2nya, dia harus terima nasib karena rujaknya saya abisin, sampe bumbunya bersih. Ahaha maap...



Badan udah drop, tapi oleh-oleh gak boleh lupa. Mampir dulu ke jalan Pandanaran buat beli lunpia khas Semarang. Lunpia mini spesial, isi udang, ayam dan telur harganya @Rp. 5500.

Hanya sampai jam 12 saya kuat wara-wiri, dan akhirnya setengah hari dihabiskan untuk nonton dvd "Our Idiot Brother", dan ngobrol-ngobrol. Bisa dibilang temen saya ini adalah salah satu temen terdekat saya, dan jadi salah satu orang pertama yang akan saya ceritain tentang banyak hal. Sudah terlalu banyak kegoblokan yang dilakukan bersama. Tsahhhh. Dan oh, untuk menghindari resiko dia nelen wipol, ngemil semen padang ataupun makan daun rambutan saking GR nya, lebih baik tulisan tentang dia dihentikan. Hehe.

Jam 6, saya sudah siap ke PO Rosalia Indah di Banyumanik. Hujan besar, dan saya makin panik. Gimanaaa kalo saya telaaaaat??? Akhirnya dengan sedikit maksa, saya ujan-ujanan kesana, yang mana membuat ingus makin deres kayak keran musholla. Ternyata bus nya telat 2 jam. Uhui.

Saya bersebelahan dengan seorang mas-mas yang aneh. Tidur di atas 2 nomor kursi dan susahhhh banget dibanguninnya. Dan sepertinya, ia lahir dan besar di sebelah speaker aktif. Doi dengerin earphone, sambil nyanyi kenceng di bus yang senyap itu. Dia makan chiki, dengan suara krauk-krauk yang menyiratkan "niiih, gua makan chiki niiiih...denger niiih suaranyaaaa... KRAUK!". Dia juga selalu ngedumel, "haduhhhh macet ini bla bla bla", "haduhhh piye iki bla bla bla". Membuka laptopnya dengan grasak grusuk, ga sadar kalo di sebelahnya ada manusia juga yang butuh nafas juga.

Ternyata enak naik bus. Lebih luas, lebih nyaman dari kursi di kereta. Tanpa ada tukang jualan yang wara wiri atau pengamen. Plusss, dapet makan, meski makannya alakadarnya. Dengan harga yang sama dengan kereta api kelas bisnis, naik bus eksekutif jauh lebih enak.

Sampe rumah, teparrrr. Niatnya mau langsung kerja, tapi bersin makin gak karuan, tambah pusing dan sakit tenggorokan. Akhirnyaaa, izin deh. Seru lahh sederetan perjalanan ke Malang-Pasuruan-Semarang yang membuat pantat pegal luarbiasa tapi juga hati senang luarbiasa. Semoga bisa jalan-jalan lagi, dan keuangan bisa segar lagi setelah gajian nanti. Hehehe...



Terakhir... ada pesan di jalan garuda Kota Lama yang penting untuk kita semua. 


04 Januari, 2012

hello Ciamis! hello Batu Karas!




Yeaaayy, setelah sekian lama ngarep, akhirnya kesampaian juga ke green canyon! Di libur Natal 2011, kita berangkat dari Bekasi jam 11 malem, mampir ke Bandung dulu, dan paginya kita jalan ke arah Pangandaran. Let's go!

Kiki si pemilik mobil bikin estimasi kalo jam 7 dari Bandung, jam 12an bisa sampe Pangandaran. Melewati Sumedang, Garut, Banjar, dan disuguhi pemandangan alam yang oke dan jalan yang menikung nanjak berkelok-kelok. Perlu antimo supaya nggak jackpot dan cukup tidur. FYI, city car mungil ini sesak sama 4 orang bertubuh tinggi dan saya yang pendek sendiri. Tapi namanya sama temen, seru ajalah!

Dan, kita sampai jam 3 sore. Yea. Setelah bbrp kali mampir indomaret, isi bensin, pipis, dll. Sampai di Pangandaran, kita malah lebih bersemangat buat ke green canyon. Jadilah menempuh 30km selanjutnya ke arah Cijulang, sekitar 45menit. Sampe sana, wusss ternyata ngantri! Akhirnya diputuskan untuk nyari penginapan dulu di Pantai Batu Karas, yang jaraknya sekitar 5 km dari Green Canyon.

Karena lagi high season, nyari penginapan sesuai budget pun gak gampang. Rata-rata di atas 300rb, bahkan sampe 700rb-an, dan ada maksimum orang. heran juga semahal itu di sini. Untunglah kita masih kebagian satu kamar di penginapan Sindang Asih (0813.951.42258) dengan harga Rp.250.000, meski lokasinya nggak langsung di depan pantai. Satu king size bed, satu single bed, dan kamar mandi dalam. Sempit, tapi cukup.

Sore itu akhirnya kita jalan-jalan ke batu karas, karena nggak keburu lagi kalo ke green canyon. Pantai berpasir hitam ini ombaknya lumayan besar juga. Mau nyoba watersport, tapi mahal ternyata, flying fish aja Rp. 75.000/orang. Mahal ya? Errr...



Akhirnya kita balik penginapan dan malemnya, ke Pangandaran. Beli oleh-oleh khas sana, ikan asin dan olahan hasil laut lain. Lumayan banget harganya murah2, ikan jambal roti per kotaknya Rp.10.000 (menurut mama saya penggemar ikan jambal, itu MURAH BANGET!). Sempet makan seafood juga disana. Hasil lautnya besar-besar, segar, dan lebih murah. Enak banget! Tapi karena kita baru makan, kita "hanya" pesen setengah kilo cumi goreng tepung dan setengah kilo udang saos padang. Harganya masih dibawah Rp. 120000 dan itu puas banget porsinya ber 5!!

Capek di jalan dan niat bangun pagi buat ke green canyon, saya langsung tidur begitu sampe penginapan. Jam setengah 7 kita langsung cabcus ke green canyon. Wooohoooo!!!

Sampe disana, masih sepi banget. Loketnya baru buka jam 7.30. Tarif kapal menuju tebing-tebing keren itu Rp.75.000 (tarifnya sama, dgn beli tiket), untuk 5 orang. Dateng sendiri atau bertiga pun, dihitungnya harga per kapal. Nantinya akan ada pengemudi kapal dan guide yang nemenin kita di perjalanan. Sepanjang jalan, kita disuguhi pemandangan alam dengan hamparan air hijau toska. Sesekali ada biawak yang ngintip dan hewan-hewan lain.



Sekitar 20 menit di atas kapal, sampai deh di "ujung" lintasan kapal. Selanjutnya, kalo mau terusin perjalanan, kita harus berenang. Nah, berenang inilah the best part nya! Oh ya, jika mau berenang, harus nego lagi dengan awak kapalnya, karena harga karcis Rp.75.000 itu nggak termasuk. Harga tambahannya setelah nego Rp.120.000, dengan berenang dipandu si bapak guide dan termasuk pelampung. FYI, saya ini nggak bisa berenang, tapi doyan nyemplung. Yea dengan bantuan sana sini dan modal nekat, alhamdulillah tetep bisa berenang kl lagi jalan2 ke alam bebas. Nah, berenang disini seru banget! Nggak panas, karena ada "atap" goa yang menghalangi cahaya masuk. Sambil berenang juga berasa seperti lagi mandi hujan, karena banyak tetesan air dari atas. Tapi memang harus ekstra hati-hati, karena di bawahnya banyak batu besar yang tajam. Lumayan lah pulang kaki pada lecet-lecet. Asiknya, airnya dingin dan dijamin nggak bikin kulit item. After effect nya pun beda banget dengan berenang di laut yang mengandung garam.



Nggak lupa kita nanya ke bapak guide tentang kolam putri. Saya kira tempatnya besar. Nggak ngira kalau itu "hanya" sebuah kolam kecil yang tempatnya ada di atas. Yea, di atas tebing! Dan untuk kesana, kita harus manjat ala ala wall climbing. Tapi bedanya tanpa alat pengaman apapun dan jaraknya batu nya tinggi-tinggi. Semangat saya langsung kendor duluan. Men, itu bahaya banget! Tapi temen saya, Tama bilang, ayolah flo, bisa naik!". Akhirnyaaaaa, saya nyoba banget manjat. Dan bisa! Such a great achievement buat saya yang takut tinggi dan nggak pernah manjat.



Sampe di atas? Wussss, keren banget! Airnya bening dan sejuk. “Konon, (kata bapak guide), kolam itu dulunya adalah tempat mandi para putri. Siapa yang membasuh tubuhnya dengan air itu, bisa awet muda dan ga ada kerut di muka!". Langsung deh saya,tama dan asmi langsung jebar jebur basuh badan dan muka disana (ketauan ya kalo kita gak cakep dan ngarep jadi cakep hehehe...).

Turunnya, nah, PR lagi tuh. Tapi alhamdulillah bisa turun dengan oke, karena batu nya besar-besar banget! Perjalanan "pulang" ke kapal pun lebih enak, serasa body rafting. Kalo pas pergi kita harus berenang lawan arus, dan di beberapa titik arusnya kenceng, nah pas pergi kita tinggal ngapung aja. Bagus deh jadi saya gaperlu renang (alias ngambang gaya bebek) lagi! Sepanjang itu saya puas banget terlentang sambil liatin stalaktit stalagmit dan pemandangan super keren di atas saya. Subhanallah.. Sungguh ciptaan-Nya yang luar biasa.




Oh ya, disana, semua barang akan dititip di kapal. Nah, sebenernya saya agak sangsi ya, menitipkan gadget disana. Temen saya malah nekat bawa tasnya didalam plastik dan dia bawa berenang. Untungnya dia memang anak pulau, jadi skill renangnya gak perlu ditanya deh... Tapi alhamdulillah barang yang dititip di kapal aman dan sehat walafiat.

Sekitar jam 9.30 kita selesai main2 di green canyon. Pas keluar, antrian udah mengular. Untungnya tadi kita pergi pagi2, jadi belum panas dan nggak ngantri. Pulangnya kita beli oleh2 manggis, yang harganya setelah ditawar jadi Rp.30.000/5kg. Gak lupa beli baju mungil oleh-oleh buat si neng Fanesha. Sampe penginapan, kita order sarapan ke ibu pengelola penginapan. Entah kita yang kecapean atau gimana, masakan ibu ini selalu enak! Sekali makan sekitar Rp.100.000, termasuk ikan bakar bawal+kakap satu kilo, sayur tumis, teh tawar (yang enak bgt rasanya!) Dan nasi porsi kuli! Kita berlima butuh nambah 3x plus oper-operan sisa makanan saking buanyaknya makanan.

Sekitar jam 1 siang kita pamit, dan Tama yang giliran nyetir. Sempet macet di tanjakan Tasikmalaya, plus hujan besar. Untungnya lagi-lagi antimo menyelamatkan saya, dan saya bisa tidur di jalanan yang sukses ngocok isi perut itu. Perjalanan pulang kerasa jauuuuuh lebih lama, karena memang butuh 9 jam untuk sampe Bandung. Man! Hahahaha pantat saya ga karuan rasanya. Sekitar jam 22.30 kita baru cabut dari Bandung, dan jam 1 baru sampe Bekasi. Paginya? Bangun dan kerja lagi :) alhamdulillah seneeng banget!



Rincian biaya:
patungan tol+bensin : Rp. 120.000
Penginapan: Rp. 250.000/5 : Rp. 50.000
Makan di penginapan 2x : Rp. 220.000/5 : Rp. 45.000
Green Canyon: Rp. 220.000/5 : Rp. 45.000
Oleh-oleh : Rp. 60.000
Jajan dll : Rp. 50.000

Total: Rp. 370.000