30 November, 2012

Chef Geir Skeie!


Jakarta - Sosoknya tinggi, ramping, dan murah senyum. Pembawaannya tenang dan santai. Sesekali kamera wartawan membidik dan memintanya untuk senyum ke arah kamera. Tak lama, tangannya kembali cekatan mempersiapkan alat dan bahan memasak.

Itulah kesan pertama saat bertemu chef Geir Skeie, juara dunia Bocuse d'Or tahun 2009. Di balik tampilannya yang sederhana, pria 32 tahun ini menyimpan sederetan prestasi gemilang yang mengharumkan nama negara asalnya, Norwegia. Seperti apa sosok aslinya? detikFood berkesempatan untuk berbincang langsung dengan Geir, dalam kunjungannya ke Indonesia pada Senin (26/11).

Geir dilahirkan pada 2 Juli 1980 di Fitjar, Norwegia. Ia menghabiskan masa kecil di tempat kelahirannya ini. Di Fitjar jugalah Geir menemukan kecintaannya dalam dunia memasak sejak usianya 7 tahun. Ia gemar meracik menu sehari-hari yang mudah dibuat.

Meskipun kini diakui sebagai chef kelas dunia, latar belakang keluarga Geir bukanlah dari dunia kuliner. Ayahnya adalah seorang mekanik listrik, dan sang ibu berprofesi sebagai perawat. Namun kebiasaan keluarganya makan dan memasak bersama untuk makan malam membuat Geir nyaman dan senang berlama-lama ada di dapur.

Geir remaja mengagumi acara masak di televisi yang dipandu oleh Ingrid Espelig Hovig. Pada salah satu episodenya, ditampilkan bintang tamu Bent Stiansen. Ingrid begitu bangga memperkenalkan bintang tamunya yang merupakan pemenang Bocuse d'Or saat itu. Melihat Stiansen, muncul pertanyaan di benak Geir yang saat itu berusia 13 tahun. "Bisakah aku menjadi chef juara dunia?".

Sejak remaja, Geir memang sudah menunjukkan kesukaannya akan kompetisi. Saat usianya 14 tahun, Geir bersama temannya, Rune, pernah membuat taruhan siapa yang bisa makan pistachio ice cream terbanyak. Seiring bertambahnya usia dan pengalaman, kompetisi yang diikuti Geirpun makin serius. Ia terlibat dalam perlombaan "Young Chef of the Year" di Norwegia tahun 2002. Sayangnya ia gagal dan sempat membuat Geir sangat menyesal.

Namun pelatih memasaknya, Ivar Solvold terus mendorong Geir untuk mencobanya di tahun 2003. Berkat usahanya yang keras, Geirpun berhasil memenangkan kompetisi ini dan meraih medali emas. Tahun 2008, ia kembali mengikuti kompetisi masak Bocuse d'Or, dan berhasil menjadi pemenang di wilayah Eropa.

Bocuse d'Or merupakan kompetisi masak dua tahunan yang digagas Paul Bocuse tahun 1987. Kompetisi ini ditujukan pada juru masak muda berkualitas yang menampilkan makanan terbaik dengan teknik pengolahan, penyajian, kreativitas dan rasa yang sempurna.

Geir yang hobi bersepeda ini menambah deretan prestasinya dengan memenangkan Bocuse d'Or tingkat dunia tahun 2009. Sebelumnya, Prancislah yang selalu diunggulkan dalam kompetisi ini. Namun rupanya Geir bisa membuktikan jika perwakilan dari Norwegiapun mampu menjadi juara dunia kompetisi bergengsi.

Sebenarnya, apa yang membuat pria yang mahir menyelam ini begitu tertarik dalam dunia memasak? "Memasak butuh upaya besar, menghabiskan waktu berjam-jam. Namun memasak bisa memberikan kepuasan tersendiri. Memasak itu menyenangkan, sangat dinamis, dan merupakan pekerjaan yang menarik dibandingkan harus duduk di depan komputer seharian," kata Geir dengan mata berbinar.

Kepada detikFoodpun iapun membeberkan 3 hal tak terlupakan selama menjadi juru masak. Geir mengakui, memenangkan kompetisi Bocuse d'Or tahun 2008 dan 2009 adalah pengalaman tak terlupakan nomor 2 dan 3. Lalu apa yang pertama? "Nomor satu adalah saya bertemu dengan istri saya saat memasak," kata Geir dengan wajah sumringah.

Kini, Geir menjalankan usaha restoran Brygga 11 di Sandefjord, Norwegia. Ia mengelolanya bersama sang isteri, Katrine. Restoran ini menyajikan aneka menu seafood asal Norwegia yang diolah dengan menonjolkan rasa alami seafood tanpa bumbu berlebihan. Cerita perjalanan hidup Geirpun dituangkan dalam buku "From Childhood to the Bocuse d'Or". Sukses terus Geir! (Flo/Odi)


Senin (26/11) saya berkesempatan ketemu, bahkan ngobrol langsung, dikasih buku  + ttd dan foto bareng chef Geir. Sosoknya tinggiii, dan dia agak jongkok di foto ini biar keliatan saya yang tinggi :D SAYANGNYA, seluruh data di HP hilang, termasuk foto bareng Geir. Untuuung, display picture Blackberry Messenger masih tampilin foto kita (ehm!) dan masih bisa di capture :)

08 November, 2012

Intip Pembuatan Tahu Lembang (plus foto)




Atas dasar tidak tahu seluk beluk Bandung, akhirnya saya mampir ke Tahu Lembang, tentu tempatnya di Lembang. Lokasinya berada di Jl. Raya Lembang 177. Cocok buat buat Anda yang pengen dateng ke tempat makan sekaligus jalan-jalan, main di playground atau flying fox, numpang sholat, ataupun lihat-lihat doang. Serius deh, nggak punya duit, tanpa tujuan ataupun tanpa beli pun isoke aja, tempatnyapun luas. Dan yang paling menarik, pengunjung di sini bisa melihat proses pembuatan tahu secara langsung. Dari head to toe, eh maksudnya dari mentah sampe siap jual. Konsepnya open kitchen, modern, dan dijamin enggak ada pemandangan pria tanpa busana lagi ngolah kedelai disini!

 *ini mama saya... uhuk uhuk uhuk*

Dari hasil ngobrol saya sama sang Marketing, (saya dateng atas nama pribadi lho, bukan kantor. Tapi serasa liputan, ngobrol lamaaa sama marketingnya), rupanya Tahu Lembang ini dimiliki oleh pengusaha yang juga mengembangkan Rumah Sosis, The Secret, dan destinasi unggulan lain di Bandung. Sebenarnya konsep dasarnya sederhana, yaitu menjual tahu sekaligus memberikan experience pada pengunjung mengenai bagaimana pembuatan tahu.

Tapi kok di sini banyak banget penjual makanan berbahan dasar kedelai? Menurut marketingnya, Tahu Lembang hanya menjual produk tahu mentah dan tahu goreng. Aneka produk yang dijual di sekelilingnya adalah tenant yang menyewa space jualan, dengan spesifikasi sama, yaitu menjual produk olahan kedelai. Seluruh produk tahu yang digunakan pedagang merupakan buatan Tahu Lembang. Jadi di area sebesar itu, fokus utama Tahu Lembang ya itu, tahu mentah dan tahu goreng SAJA. Sisa lokasi disewakan untuk pedagang lain, dengan mengikuti konsep yang ada. Jadilah one stop holiday destination yang komplit di sini. Kereeen....



Apa aja bahan pembuatan tahunya? Ini dia sodara-sodara, bahannya adalah kacang kedelai, susu sapi, mentega, bawang putih, kunyit dan air. Mau nyoba gratis tahu yang sudah dikukus juga bisa, kakak.
  



Kacang kedelai yang sudah direndam selama 4 jam kemudian dicuci bersih, digiling, dan direbus selama 1 jam sampai terus diaduk. Menurut abang Marketing ini, kalau weekend, Tahu Lembang bisa menghabiskan 1 ton kedelai lho!





 
Karena menjual experience, dalam hal ini adalah nyaksiin proses pembuatan tahu, tentu faktor estetika diperhatikan. Nggak ada tuh pria bercucuran keringat tanpa baju di sini. Nggak ada juga proses pengolahan dengan cara diinjak. Oh ya, di sini, tahu diolah dan dimasak dalam tungku besar. Nggak bisa terlalu dekat, karena hawanya panas banget. 



Setelah itu, kedelai yang sudah halus dicampur dengan susu sapi, garam dan mentega. Jika sudah tercampur, kemudian dimasukkan dalam cetakan kayu, lalu dipres. Naaah, tahupun siap dipotong-potong, dan melalui tahap perebusan kembali.




Di sini, tahu yang sudah melalui proses pemasakan lalu dikemas dalam kotak. Tahu Lembang hanya menjual dua pilihan, yaitu tahu goreng (Rp. 10.000) isi 10 tahu, ataupun tahu mentah (Rp. 15.000). Tahu goreng lebih murah karena ukurannya lebih mini. 






Nah, selain dua jenis tahu tersebut, olahannya bukan lagi buatan Tahu Lembang, namun oleh tenant-tenant. Namun semuanya tetap mengikuti pakem yang sama, yaitu menu-menu berbahan dasar kedelai. Oh ya, jangan kaget kalau buat beli tahu aja, Anda mesti antre dan berdesakan!




Lalu gimana rasanya?! Yess, lembut banget! Sayangnya, lidah umami saya *maksutnya apa Plo?* tidak mencecap rasa asin di lidah. Terasa plain. Namun tahu yang ini sangat lembut, halus, dan juga lebih gurih karena menggunakan susu. 






Saya juga sempat mencicipi susu kedelai (Rp. 7000/gelas) yang sayangnya, rasanya hambar, dan juga tahu crispy (Rp. 10.000)/10 potong). Asik juga tempat ini jadi destinasi liburan. Lengkap juga fasilitasnya!

*Btw, melihat saya tertarik banget nanya-nanya, akang marketing itupun memberi saya brosur kecil. “Di sinihhh, teteh juga bisa sakalian ikutan tur. Bisa sama temen, kaluarga, arisan, bisa semuanyahh. Inih paketnyahhh, ada yang duapuluhhh rebu satu orang, ada juga yang enam puluhhh rebuuu, termasuk makan siang. Dapet resep dan sekotak tahu juga lohhh tehhh!!!” <------ Serius, mamang marketing ngomongnya sunda pisaaaan...

04 November, 2012

Pasar Buah Lembang

Sebel kena macet di Pasar Buah Lembang? Salahkan penjual ketan bakar dan colenak di sekitarnya yang bikin ngiler dan menggoda orang-orang buat mampir! Selain ngemil enak, asik juga belanja dulu di pasar buahnya. Sebagaimana daerah dataran tinggi lainnya, pasar ini menjual aneka sayur dan buah yang segar, baru, mulus dan murah! 


Dari buah bit, red potato, tomat, nanas, alpukat, buncis, labu, ubi, talas dan lainnya. Btw, saya nggak tahu tomat di gambar ini namanya apa (*cubit paha sendiri*), punya karakter tekstur kulit yang keriput, tapi bukan keriput karena hampir busuk. Semuanya tampak kinclong, bersih dan memikat. harganya? Tentu lebih murah!


Alpukat dan labu ini yang paling memikat mata mama saya. Menurutnya, susah nemuin alpukat yang bagus di Jakarta, dan labu kuning ini harganya mahal. Di pasar ini 3 buah labu orange kecil harganya Rp. 10.000, dan alpukat super dengan isi super mulus dan legit harganya Rp. 12.000/kg.


Saya: Bu, itu jeruk apa? - Ibu penjual: Galiprut neng!
Hah? Galiprut? Ah, mungkin maksudnya grapefruit kali yaa.... (cmiiw)
Selain itu, banyak juga penjual buah berry keliling, strawberry, blackberry dan raspberry. Semuanya tampak segar dan bersih. Perkotaknya, dengan ukuran kira-kira setengah kilo dijual sekitar Rp. 10.000/kotak. Ehm, baru kali ini saya makan buah blackberry segar!

Uhui, pasar buah lembang ini cocok nih dijadiin tempat mampir. Banyak makanan, buah segar dan oleh-oleh!

Kenyang di Bandung!


Lontong kari ini jadi comfort food di Bandung. Di mana-mana adaaa aja penjual lontong kari. Yang ini lontong kari yang dijajakan di area Gedung Sate, Bandung. Harganya? Kalo di tempat lain sekitar Rp. 5.000 saja seporsi, di sini Rp. 12.000 sodara-sodara! Prinsip opportunity cost berlaku. Faktor apa ini? Apa muka kita yang tampak tajir? Oh btw, seporsi lontong kari yang saya cicip ini porsinya pas, kalo enggak mau dibilang dikit. Rasanya enak, paduan lontong lembut, kuah yang gurih, topping sayuran dan ayam, ditaburi dengan bawang goreng dan kerupuk. Enak banget nih!



Yang ini bubur ayam di depan Gedung Sate juga. Kaget juga sih ya, kok disajiinnya pake piring, bukan mangkok. Seporsinya terdiri dari bubur yang lembut dan gurih, plus suwiran ayam, kacang kedelai, bawang goreng dan kerupuk. Plus ada hati dan ampela ayam di tengahnya. Porsinya agak pelit kalo nggak mau dibilang dikit (ya sama ajaaa). Harganya? Rp. 12.000 juga sodara... Agaknya karena ada di lokasi trademarknya kota Bandung yang banyak dikunjungi orang luar kota, untuk kelas makanan pinggir jalan 'biasa', harganya agak tinggi. Yang makan juga kebanyakan mobil berplat B a.k.a orang Jakarta. Padahal, kita orang Bekasi (*penjelasan). Adik saya yang tinggal di Bandung agak bengong sih tau harganya.



Geser ke daerah Lembang, ketan bakar (Rp. 5.000) jadi incaran. Di Jakarta banyak, tapi yang ini beda. Ukurannya sekitar 2x lebih tebal, dan yang spesial, disajikan dengan 3 jenis cocolan, yaitu bumbu kacang, bumbu oncom, dan juga serundeng. Di sepanjang jalan Lembang, banyak banget yang jual. Terlihat dari jauh, penjualnya menawarkan dagangannya sambil mengipas. Ketannya ini dibakar dulu sebelum disajikan. Saya sempat cicip ketan buatan beberapa penjual. Ketannya kurang lebih sama, tapi yang bikin istimewa ini rasa cocolannya. Saya suka banget sama bumbu kacangnya, yang kental, gurih dan manis. Mirip rasa bumbu siomay.Tapi mesti selektif juga, karena ada beberapa penjual yang tampak kurang higienis jualannya.


Yang ini adalah pisang susu (Rp. 10.000). Dari tampilannya sih biasa aja ya. Pisang bakar dengan keju dan mesis. Tapi ternyata... ini enak banget. Digunakan pisang tanduk yang belum terlalu matang, menghasilkan rasa yang manis agak sepet, paduan yang enak di lidah. Sebelumnya digoreng dulu, dan saat ingin disajikan, dibakar dulu sebentar. Disajikan dengan susu kental manis, parutan keju, dan mesis. Ciyusss, ini enak!


Masih di Lembang, selain ketan bakar dan pisang susu, kebanyakan penjual juga menjajakan jenis makanan lain, yaitu colenak (Rp. 5.000). Colenak adalah tape singkong yang disajikan dengan kinca dan kacang sangrai. Tapi kok tapenya kotak? Apa ini tape spesies baru? *yakali*. Ah rupanya, tape itu dikeluarkan seratnya, dan dibentuk dalam cetakan kotak dulu sebelum digoreng! Sama seperti tape dan pisang, sebelum disajikan, tape juga dibakar dulu. Sebenernya sih, karena udah digoreng, dibakar nggak ngasih efek rasa atau tekstur yang beda. Disajikan dengan saus kinca yang dibuat dari gula merah dan kelapa parut. Nyam!


Sebelum pulang, dari arah Lembang mampir dulu ke cafe Black Romantic di Jl. Setiabudi. Karena deket kampus (Univ. Pasundan dan Enhai), makanan di Jl. Setiabudi ini terjangkau harganya. Seporsi nasi bakar (Rp. 13.000) terdiri dari nasi bakar yang dicampur dengan ikan teri, ayam goreng ukuran kecil, tahu, lalapan dan juga sambal. Lumayan rasanya, ngenyangin dan enak, meski nggak terlalu otentik. Lagi-lagi karena deket kampus, di cafe ini maupun tempat makan di lokasi yang sama banyak yang menawarkan menu unik dengan harga yang cocok sama kantong mahasiswa. 

Ihiy. Kapan-kapan kita jalan-jalan lagi ke Banduuung!

02 November, 2012

Setahun Lalu



Setahun lalu, saya resmi bekerja di media siber besar di Indonesia ini. Jadi anak baru yang kosong, blo’on dan clueless. Gue harus apa? Gue harus gimana?

Setahun lalu, saya pensiunkan henpon Nokia dan punya Blackberry, yang menurut orang tua saya, supaya menunjang karir. Ihiy!

Setahun lalu, saya bingung berat, mau kerja naik apa. Bekasi-Warung Buncit bok! 

Setahun lalu, saya berkenalan dengan dua perempuan yang sampai saat ini masih jadi teman dekat saya. Partners in Crime!

Setahun lalu, saya adalah penulis makanan yang tulisannya selaluuuuuuu dikritik dan dianggap nggak layak naik. Sekarang? Ada kemajuan. Dikiiiiit :D

Setahun lalu, akhirnya saya melepas tawaran di media besar lainnya, dan memilih perusahaan ini. Sebenernya lebih karena... media ini nggak pake tes kesehatan yang ribet dan menakutkan. Hahaha cemen.

Setahun lalu, Saya memulai ‘hidup’ di kultur cari tahu sendiri, belajar sendiri, dan membiasakan diri ‘membaca situasi’. Dari sini, saya banyak belajar. Yang paling utama adalah... belajar dari kebodohan dan ketidaktahuan diri sendiri.


Enggak terasa udah satu tahun. Waktu yang masih sebentar banget ya. Saya juga sadar, ilmu saya masih sangat cetek, sedikit. Setahun ini saya dapetin banyak hal. Termasuk berbagai kesempatan langka, dan mahal dalam arti harafiah yang bisa saya rasakan karena embel-embel pekerjaan. Melatih lidah saya, lagi-lagi dalam arti harafiah. Belajar mendeskripsikan sesuatu dengan jelas, dan lainnya. Tapi toh tetap ada masa dimana saya merasa harus mempertimbangkan kata ‘selesai’. Untungnya, ‘masa kritis’ itu akhirnya alhamdulillah selalu terlewat. 

Lalu, akankah ada setahun selanjutnya? 



 Bersama abang chef Sharone Hakman. Cocok banget ya kita? *ditabok istrinya*

07 Oktober, 2012

Dyah's Day!



Ihiwww! 5 Oktober lalu, one of my best deti*Food mates, Dyah Oktabriawatie ulang tahun yang ke 25. Lihat apa yang dia pegang? Yea, sebagai teman2 yang baik, manis dan grabag grubug, hanya 5 gorenganlah yang bisa kita siapkan untuk seremoni tiup lilin. Gak apa-apa ya cuuuy :)






Sebenernya, agak memalukan ya sebagai orang deti*Food, hanya ini yang kita kasih. hahaha. Ya gimana lagi, waktu mepet dan ini, dan itu... *alesan*. surprise asal-asalan kecil-kecilan itu dilakuin pas makan siang, di pantry sambil makan siang :))



But anyway, Happy Birthdayyy! Semoga semua yang terbaik selalu menyertai, dan cepet punya momongan :) :* !

19 September, 2012

Pak Cagub, Kok Jawab Begitu Aja Susah?

Heyho warga jakarta. Sudah siap memilih besok? Saya sih nggak milih ya, berhubung anak Bekasi. Jakarta coret. Tapi tentunya perkembangan soal pilgub Jakarta seru buat dikonsumsi. Jakarta itu ibukota. Tentu pemilihan kepala daerah ini juga punya pengaruh besar buat wilayah lain.

Jelang Pilkada, beberapa stasiun TV menayangkan debat antara 2 kandidat, Foke-Nara dan Jokowi-Ahok. Setelah JakTV, Metro TV juga menggelar debat terbuka ini. Uhm well, ada beberapa hal yang menurut saya kurang pantas ditunjukkan oleh seorang (calon) pemimpin Ibukota. Dan malangnya, they did it.

Salah satunya adalah ketika pembawa acara, Najwa Shihab dan Suryopratomo bertanya sesuatu yang tricky. Apa hal positif yang Anda lihat dari lawan kandidat Anda?”. Sebagai orang yang bersaing, menjelaskan kekurangan lawan adalah hal yang gampil, piece of cake lah... Tapi gimana soal hal positifnya? Simak jawaban para kandidat.


Foke: Saya kira, bermitra seperti ini, dalam dialog yang cukup intensif seperti ini, kita bisa saling belajar. Saya sangat menghargai hal tersebut, dan mudah-mudahan hal tersebut bisa membawa perubahan, paling sedikit buat warga Jakarta. Paling tidak, menjanjikan sesuatu yang belum tentu bisa dilaksanakan."

Najwa: Sisi positifnya apa pak?

Ya itu positif, buat saya, saya nggak bisa seperti itu. Saya perlu juga belajar untuk bisa pencitraan yang lebih baik. Terima kasih.


Kalimat pertama, saya acungin jempol buat pak Foke. “Saling belajar”, berarti doi sadar kalau perubahan dan tujuan itu bisa dicapai dengan selalu mau belajar.

Tapi di belakangnya, ia menyebut “belum bisa dilaksanakan” dan “saya belajar untuk bisa pencitraan”. Yea kok nyindir sih oom? Diluar konteks dan tidak menjawab pertanyaan.

Lalu pertanyaan yang sama diajukan ke lawannya.

Pak Joko Widodo, apa yang Anda lihat dari pak Fauzi Bowo, sisi positifnya yang akan membuat pertemanan Anda dan pak Fauzi Bowo lebih erat?

Jokowi: Beliau ini kan sudah puluhan tahun berada di birokrasi Jakarta. Pernah jadi Sekda, Wakil Gubernur, Gubernur, tetapi dengan pengalaman itu mestinya bisa langsung action memutuskan, tidak dalam rencana, rencana, rencana, dan tidak akan, akan, akan.

Najwa: Positifnya apa pak?

Ya itu positif. Paling tidak, artinya beliau ini sudah punya rencana, meskipun belum dikerjakan.

Lagi-lagi... calon gubernur yang satu lagi tidak memberikan jawaban. Jawabannya tetap sindiran dan kritikan. Ini tidak menjawab om Jok...

Kalau saja om Foke menjawab tanpa embel-embel “(menjanjikan sesuatu) yang belum tentu bisa dilaksanakan”. Dan jawaban om Jok yang jauh lebih nyeleneh dan super aneh. Mungkin pernyataan itu memang benar-benar bisa ditangkap positif.
Lucu ya?

Well... menurut saya, om Foke sebenarnya bisa lebih menaikkan citranya, kalau saja beliau tidak melontarkan kalimat “saya perlu belajar untuk pencitraan yang lebih baik,” maka sebenarnya ia bisa meningkatkan citra itu sendiri.

Om Jok juga seharusnya tidak 'tersulut' untuk balik menyindir dan mengkritisi lawannya. Padahal, ini kesempatan omJok untuk menunjukkan “jawaban gue lebih intelek kan dari lawan gue!”, dengan melontarkan komentar yang arif dan positif.

Hmm, mencari sisi terpuji dari lawan memang susah. Sangat. Ketika kompetisi dan 'rasa ketinggalan' sudah memuncak, apapun dilakukan untuk lebih unggul. Tapi tidakkah mereka sadar kalau sebenarnya pertanyaan yang dilontarkan presenter itu bisa menjadi “Selling point” mereka? Dengan menunjukkan jika nurani mereka tidak tertutup dan masih bisa melihat kebaikan sang pesaing. Saya rasa, hal itu bisa jauh lebih mendongkrak popularitas mereka, dibanding menuruti ego dan berpendapat bukan layaknya pemimpin.

Dan semoga... Janji lima tahun ke depan tidak lagi cuma sekedar wangi-wangian di awal. Semoga cermin menyedihkan dari debat Pilkada ini bisa menjadi turning point siapapun pemenangnya untuk membawa Jakarta menjadi kota yang yaaah, at least lebih manusiawi lah yah :)


Flora Febrianindya
Foto diambil dari http://www.lensaindonesia.com

24 Agustus, 2012

Jalan Malam Di Legian


Mumpung di Bali, masa iye kita tidur doang di hotel malem-malem? Enggak dong kakak, mari kita jalan-jalan, jalan kaki tentunya!

Di Bali kemarin, saya punya waktu kosong yang bisa dimanfaatkan apakah mau pencet-pencet remot TV kamar hotel, molor, ataukah mau jalan. Ohtentu saya pilih yang ketiga. Untungnya punya temen 'sehati', Mutia dari Okezone yang juga doyan jalan-jalan. Bagus, ternyata saya punya temen! 


Kitapun didrop Bli yang anter-anter kita di Discovery Mall. Dari situ kita jalan terus ke Kuta. Nggak asing lagi sih sama daerah ini *yaelah, semua orang juga tau kalo daerah Kuta doang mah Ploo*. Sempet foto di depan restoran Bubba Gump Shrimp Co., restoran seafood populer yang didekorasi khas film Forrest Gump nya Tom Hanks. Karena mahal dan banyak menu daging babinya, ngapain juga mampir? Yang penting foto di replika sepatunya Forrest Gump duluu :) 

Forrest Gump sendiri adalah pria dengan IQ rendah, tapi punya kisah hidup luar biasa. Ia berhasil menjadi tentara, ikut kejuaraan olah raga, dan juga jago lari. Makanya sepatu jadi salah satu simbol yang identik dengan Forrest Gump yang ganteng ini *uhuk*


Dari situ lanjut jalan kaki ke Legian. Nah, mulai bingung nih disini (cemen ya, ke Legian aja bingung). Tapi kita terus jalan, mencari keramaian dan lampu kelap kelip. Seperti yang kita semua tahu sodara-sodara, Legian adalah pusatnya cafe, pub dan diskotik di Bali. Entah karena bulan puasa atau apa, tapi isinya bule semua. Semuanya tentu seksi-seksi. Mereka nari-nari sampai ke tengah jalan, nggak cewek, nggak cowok, dan apakah semua bule doyan ke club? Entahlah. Pokoknya banyak-banyak istigfar lah ya lewat sini. Tapi seruuuu!!!


Karena bermuka pribumi, tampak kere dan gue pake jilbab meeen, tentu saya dan Mutia bukanlah target market club dan diskotik itu. Lagian ya lucu juga ya ada cewek jilbaban ke Legian jam 12 malem. Jadi intinya adalah, jalan-jalan malem di Bali seru. Dan jika ingin banyak-banyak refleks mengucap istigfar, coba deh lewatin Legian jam 12 malem. Atau mungkin jam 2 pagi, dimana banyak yang udah nggak sober :D

18 Agustus, 2012

08 Agustus, 2012

Mari Mengunyah Bangku Sekolahan



Hazek, sangar ya gambarnya?

Kalau posting sebelumnya soal ujian test masuk S2 UI, nah yang sekarang ini updateannya. Yea, Alhamdulillah wasyukurillah saya diterima. Iyeh, di-te-ri-ma! Sekarang saya sudah resmi jadi mahasiswi, di kampus yang saya idam-idamkan. Alhamduuuuu..lilah.

Jujur sebenernya kuliah lagi bukanlah main goal saya di usia segini. Tapi momentnya begitu berurutan sampai akhirnya saya mantap memutuskan untuk daftar kuliah. Dimulai dari obrolan saya sama temen dueket saya, Esti, yang kepengen kuliah S2 tapi harus menunggu adik-adiknya selesai kuliah dulu karena biayanya harus ia topang sendiri. Lanjut dengan orang tua yang selain hobi nanya “udah ada ‘teman dekat’ yg bisa dikenalin blom?”, juga rajin nanya “kapan daftar S2?”. Lanjut dengan Asmie yang cerita kalo UI lagi ada pembukaan S2. Cocok dah. Lalu, sayapun mikir. “Kenapa gue nggak manfaatin semua itu? Mengapa…?!” *lalu terdengar backsound JENG JENG JENG JENG disertai angin mamiri*

Karena ada beberapa insiden ngerjain soal yang saya certain di post sebelumnya, saya jadi nggak terlalu obsesi untuk dapet ‘kursi’ itu. Yaiyelah, udah yang daftar banyak, soal TPA hanya diisi 60%, soal Bahasa Inggris sisanya nembak plus terngantuk-ngantuk, mau berharap apalagi gue? Hehe. Diterima syukur Alhamdulillah, nggak diterima ya berarti test kali ini jadi pelajaran untuk yang selanjutnya.

Orang tua juga sebenernya ingin saya daftar juga di kampus tempat S1 dulu, buat back up kalo gagal di UI. Coba buka websitenya, nggak ada tanggal pasti atau penjelasan soal penerimaan mahasiswa. Owkai. Di e-mail+di twit, sekali, dua kali, tiga kali, nggak ada respon. Okeh. *sigh*. Lalu saya telfon, sekali..dua kali…tiga kali… empat kali… tetap nggak ada respon, officernya nggak ada di tempat terus dan saya yang sudah kasih no Hp pun nggak pernah dihubungi. Kampus Komunikasi yang gahol ini butuh mahasiswa nggak sih? Gileeee… ilfeel sudah. Nggak jadi daftar deh.

Di 29 Juli yang cerah ceria bertepatan dengan lagu Doraemon berkumandang, sayapun ngecek website penerimaan.ui.ac.id, yaa kali aja gituh ada sebait kalimat menyenangkan di sana. Dan ternyata… Alhamdulillah… tertulis “selamat, anda diterima menjadi calon mahasiswa Universitas Indonesia”. AAAAA! Seriusan ini?!!! Sesaat setelah ucap kalimat syukur, saya langsung teriak, “mamaaaa…. Diterima maaaa!!!”, dan sontak yang di bawah, mama, papa dan kakak saya bilang “Alhamdulillah…”.

Resmi sudah saya menanggalkan zona nyaman yang sudah dijalani. Sekarang ibarat saya pencet tombol ‘reset’ dan men-setting kembali kehidupan fana ini. Yea, mulai dari pekerjaan, tempat tinggal, waktu, keuangan, rutinitas harian sama orang tua, dan blah blah blah. Berita baik ini sekaligus jadi cambuk buat saya jadi gadis manis yang harus lebih serius dan fokus. Yah lebih matang gitulah, kayak manggis Pangandaran.

Dan hari ini, 8 Agustus saya sudah daftar ulang dan resmi jadi mahasiswi Pascasarjana Universitas Indonesia. Seperti yang saya pernah bilang, S1 keharusan dan S2 pilihan, ya inilah pilihan yang sudah saya ambil. Saya harus tanggung jawab sama pilihan ini. Tunjukkin kalo uang dan amanat dari orang tua saya bisa dipertanggungjawabkan secara dewasa.

Laluh…? Yang saya rasakan sampai hari ini sih kayak yang hmmm… pasrahkan sama Allah aja. Setelah seminggu galau soal kuliah ini (yang akan dijalani sambil kerja), dll, saya jadi mikir “Allah pasti udah atur mana yang paling cihuy”. Hmm dan ohya! Saya bahkan udah muter-muter masuk gang keluar gang *layaknya dangdut dorong* untuk cari kamar kost. Sayangnya sih belum nemu. Hehe. Mungkin untuk sementara waktu, saya bisa numpang tidur di mesjid aja kalo emang nggak ada kamar berkasur yang bisa menampung *yakalih*.

Ahuhui, yang pasti saya nggak sabar untuk ngejalanin beberapa tahun ke depan menjadi mahasiswa lagi, dengan tugas, aktivitas dan ina inu nya. Di kampus negeri yang tentu suasana dan kondisinya jauh sama jaman kuliah S1 dulu. Bismillah, semoga semuanya dilancarkan, dimudahkan. Amiiiin… Doakan ya temans!

11 Juli, 2012

Ujian Sekolah (Lagi)….

Uhui, akhirnya terlaksana juga niatan untuk daftar kuliah lagi. Memantapkan hati dengan beberapa alasan: mumpung lagi buka, mumpung masih muda, dan mumpung orang tua (Alhamdulillah) ada. Kalau insya Allah saya berhasil, berarti saya dan si Iko Uwais wannabe a.k.a adik saya si OomToni bakal sama-sama jadi mahasiswa.

S1 itu keharusan, S2 itu pilihan. Itu kalimat yang selalu saya pegang. Itulah kenapa saya jauh lebih deg-degan menanti hasil ujian tes masuk kuliah adik saya si jawara silat itu *ecie*. Dari segi keuangan, keinginan saya sekolah lagi tentunya nggak se-urgent keharusan adik saya untuk melanjutkan pendidikan.


Daftar kuliah lagi, ujian lagi. Gimanapun hasilnya, tapi ini langkah awal yang jika berjalan lancar, ada beberapa hal di hidup saya yang akan berubah. Jadi anak kost karena kerja sambil kuliah, mengatur keuangan menjadi lebih ‘padat’, dan mungkin soal pekerjaan yang musti dikompromikan lagi. Yasecara waktu untuk pekerjaan dan tetek-bengeknya sudah hampir memenuhi 65% dari 24 jam. *hazek* *berasa sibuk*



Okeh, off we go to the main topic.

Dalam Seleksi Masuk Universitas Indonesia (SIMAK UI) jenjang S2, yang harus bapak dan ibu rahimakumullah kunyah adalah soal TPA dan bahasa Inggris. Ujian dimulai tepat pukul 7 pagi, dan seperti ujian-ujian pada umumnya, mental, perut dan otak harus udah diisi. Diisi angin deh minimal. Saya tiba jam 6.15, dan langsung disambut oleh beberapa pria ramah yang ternyata… penjual papan alas ujian dan pensil. Tapi dalam ujian ini, sebenernya penggunaan papan juga nggak boleh, jadi percuma juga bawa/beli. 

Untungnya dateng kepagian adalah saya bisa ke kamar mandi dulu *ngertilah ya*, trus bisa jalan pelan-pelan, nggak pake keringetan karena terburu-buru, plus berdoa dengan leluasa. Jadi luar dalem udah dimantep-mantepin sebisanya. Ohya, tips dari saya adalah ujian pakai pensil mekanik, jangan pensil kayu. Kenapah? Mau tau? Soalnya setiap 20 soal, pensil bakal kehilangan keruncingan dan anda mesti bolak-balik ngeraut. Itu makan waktu dan memecah konsentrasi, men!

Waktu untuk tes TPA adalah 3x 50menit. Soal-soalnya terbagi dalam beberapa kategori, dan ada nilai minus jika jawaban salah. Soalnya berputar di analisa logika, dan bikin orang yang belom sarapan dan kurang tidur pasti otaknya bleberan. Di bagian ini, ada waktu yang ditentukan kapan harus berhenti dan melanjutkan membaca soal. Oh ya, soalnya tidak boleh dibawa pulang.

Sebagai wanita yang sudah sarapan, sudah minum akua dan lumayan cukup tidur, soal-soal TPA nya cukup bikin sel-sel di otak saya saling membelit satu sama lain saking musinginnya. Tapi mungkin buat anda diluar sana yang emang logikanya jawara dan jagoan matematika se-kelurahanan, mungkin ini soal istilahnya piece of cake alias gampil lah.

Kelar ujian, saya langsung janjian sama temen saya, Asmie yang juga kebagian tes di gedung yang sama (keperawatan) tapi beda ruangan. Gosip-gosip dikit sambil makan sari roti sebungkus berdua dan akua sebotol berdua, sambil baca soal-soal bahasa inggris yang akan diujikan selanjutnya. 

Di ujian bahasa Inggris ini, soalnya mirip ujian TOEFL, bedanya nggak ada listening. Bagian 1 isinya macem fill in the blank dengan pilihan jawaban A sampai D, bagian 2 soal structure alias grammar, dan bagian 3 yaitu bacaan (super) panjang. Totalnya ada 100 soal dengan waktu 90 menit. Oh crap! 

 Gara-gara manajemen waktu yang kurang tepat, tentu waktu yang sedikit bikin saya sedikit panik. Dalam 1 jam, saya baru mengerjakan sekitar 55 soal. Lalu apa kabar dengan 45 soal lain? Sayang sekali nasib mereka, karena akhirnya saya mengerjakannya dengan terburu-buru, dan 20 soal terakhir (dengan sangat terpaksa) harus mengisi jawaban A semua. Kepepet waktu, dan mumpung nggak ada pengurangan nilai kalau salah. Tapi… gue, eh saya, agak menyesali hal ini. Why oh why…

Nah, ini dia pelajarannya, seharusnya kalau ada soal dirasa susah, di skip aja daripada makan waktu. Dan satu lagi, ketahui dulu berapa jumlah soal sebelum benar-benar mengerjakannya. (yea, saya malah baru ngeh kalo ada 100 soal pas udah di menit ke 50). Beberapa ‘kebodohan’ itu hmm yaa nggak untuk disesali sih ya, karena bisa jadi pelajaran dan toh kalo memang jalannya sekolah lagi, pasti ada aja jalannya :) 

Untuk soal bahasa Inggris, soalnya bisa dibawa pulang. Kalo bapak, ibu, saudara dan bapak camat beserta ibu sekalian mau liat soalnya, bisa didownload di laman penerimaan.ui.ac.id (harus log in dulu), soalnya kayak gitulah. Semoga sukses…… lancar….. dan tokcer ujiannya! Kalaupun belum berhasil, coba lagi! :)