PART 1
Menghamburkan keringat dan waktu karena kalau uang belum mampu. Ya kemana saja begitu kaki bisa menggowes sampai hawa kemanusiaan bisa diredam. Dehidrasi ya dibiarkan saja karena air kan bisa dibeli. Mendengarkan lagu metal entah metal beneran atau yang mellow total kerasa-keras sampai azan kalah didengar. Untunglah pas lewat masjid lagunya yang sedih-sedih dimana biasanya pelan. Lewat sini lewat sana ya kemana saja saya mau seperti petinju melawan samsak, tapi ini saya dan kaki. Biarkan kalau betis besar, saya gak hobi pake celana setengah paha kok.
Menghamburkan keringat dan waktu karena kalau uang belum mampu. Ya kemana saja begitu kaki bisa menggowes sampai hawa kemanusiaan bisa diredam. Dehidrasi ya dibiarkan saja karena air kan bisa dibeli. Mendengarkan lagu metal entah metal beneran atau yang mellow total kerasa-keras sampai azan kalah didengar. Untunglah pas lewat masjid lagunya yang sedih-sedih dimana biasanya pelan. Lewat sini lewat sana ya kemana saja saya mau seperti petinju melawan samsak, tapi ini saya dan kaki. Biarkan kalau betis besar, saya gak hobi pake celana setengah paha kok.
.
Tiba di rumah terbirit-birit, maaf Tuhan, saya agak lelet, saya janji kan mau curhat panjang di magrib ini. Cerita nya kan terus lanjut, dan kalau dipikir-pikir memang musibah ya datang karna Tuhan menegur, dan orang yang menyakiti cuma sekedar perantara. Jadi bodoh sekali saya nyalahin si perantara yang hanya manusia yang JUGA tak sempurna, kalau sebenarnya kesalahan ya ada sama saya pada Tuhan saya. Kesalahan saya sebenarnya ya itu. Bukan ke kamu, tapi ke Tuhan. Hanya saja cara negornya lewat kamu, ya diciptakanlah kamu yang emosi dan jadi drakula, saya nangis berapa botol fanta seliter juga gak ngaruh kalau akar masalah sebenarnya bukan kamu. Marahnya ke diri saya sendiri kenapa mendengarkan amarah kamu yang umbar omong bagaikan umat sempurna seada-adanya, padahal Tuhan yang kekal-lah yang sebenarnya negor sama saya. Wah, ternyata Tuhan ngetes saya lewat kamu. Jadi, kamu siapa?
.
Sempat terngiang sms temen virtual yang seperti kenal lama tapi mukanya seperti apa saya juga gak ngerti. Nanyain pin bebe, ah saya kan gak punya. Saya adanya nomer telepon mamah yang tagihannya baru dibayar kemaren. Kenapa teman itu menyebut pacar orang sebagai ‘supir’? Padahal bisa aja pacarnya itu tukang aduk semen, atau malah petugas petik jambu. Mungkin hanya beberapa persen dari umat dunia punya kekasih berprofesi supir. Ah saya kurang setuju, pacar saya profesinya kan hmmm… apa ya…. Ya ampun saya lupa kalau sudah tidak punya.! Apa? Kamu bilang cepat? Ya iya, Tuhan yang punya mau kok.
.
Kalau dibilang kenapa cepat, wow, saya pun tidak mengerti. Lagi-lagi, kan Tuhan yang punya kuasa. Eh, ini bukan gombal. Saya hanya cewek begini yang tidak sempurna, dan (mantan) .
Tadi saya ambil earphone dari kantong celana ngatung yang saya pake sepedaan. Sambil disenderin adik saya yang sama itemnya sama ama sepeda tapi jago silat, sambil nyetel lagu FRIDAY boleh copy dari drummernya yang kebetulan adalah teman saya, tau deh temen apaan. Tapi ya itu lagunya bikin hati, pikiran, dan emosi lari-lari. Ahhh, dengerin aja sendiri dan dapatkan CDnya di toko-toko faporit anda.
PART 2
Hidup tak pernah lepas dari apa yang senang dan duka. Semuanya sama-sama diciptain untuk mencoba, supaya menguji, menakar kemampuan tentang bagaimana kita mengendalikan. Hidup juga selalu beriring dengan putaran. Hubungan manusia, sifat, hati, keadaan batin, keimanan dari manusia selalu berputar dan tergoyahkan. Tak ada, tak pernah ada jaminan jika adanya akan selalu baik dan stabil. Sementara manusia berharap yang sempurna tanpa cela.
Kadang untuk mudahnya, kita lebih gemar mencari siapa yang salah daripada melihat darimana akar masalahnya. Hanya yang di permukaan yang terlihat. Hanya itu yang dipermasalahkan. padahal kalau kita bisa jabarkan kesalahan orang lain, kenapa tidak kita lakukan itu juga untuk kebaikannya? bukan maksud menghitung, tapi apakah akan sebanding dengan pendapat dalam emosi? yang saya tahu, kalau orang yang ngomong panjang dalam emosi tinggi itu isi omongannya 50% dibuat-buat, dan 20% dibisiki setan, hanya 30% yang beneran ada. menyesallah kita jika ternyata pada akhirnya saat termenung, baru sadar kalau kelebihan, kebaikan dan kasih sayangnya sebenarnya tak terhitung. Itulah, emosi membutakan, dan melupakan.
Tapi, ketika semuanya dikembalikan lagi pada sang maha hebat yaitu Tuhan, masalah akan terlihat dari sisi berbeda. Masalah bukan lagi tentang kita dan orang itu, namun jadi merefleksikan hubungan saya dan yang menciptakan. kedekatan kita dengan-Nya ngaruh sama keseharian, kondisi bathin dan kestabilan diri yang ujungnya sangat berpengaruh dengan hubungan antar manusia, atau antar hewan mungkin, kalo kamu bisa bahasa ikan paus. Akui sajalah jika memang belakangan yang terpenting adalah keduniaan, sampe waktu 5 menit untuk solat aja diundur-undur, baca al-Quran jarang, dan lebih seneng sms-an daripada merenung dan istigfar . Ah, maap Tuhan... Terima kasih masih sayang dan menegur. FF



1 komentar:
"Terkadang Tuhan membiarkan hal buruk terjadi dalam hidupmu agar kamu menyadari bahwa hanya DIA yg mampu menolongmu melewati hari."
Poskan Komentar