15 Februari, 2012

23rd :)


Happy 23rd! Yea, 13 februari umur saya nambah. Jadi tambah tua. Menua. Makin matang. Mengkel. *apasih?*. Hari itu, seperti biasa saya ke kantor naik kereta lanjut Transjakarta. Di halte busway depan kantor, saya ketemu Ema yang keliatan kayak orang ribet dan buru-buru. Diajak ngomong eh doi malah sibuk what's app-an di henpon barunya. Dia bukan seorang caleg, bukan juga wanita berpacar, kok tumben sibuk banget ya?

Pas saya sampai di meja... eng ing eng, udah ada satu kotak besar hadiah dari Ema dan Dyah di atas meja. Rupanya Ema keliatan 'sibuk' karena dia panik, kita datengnya barengan. Padahal rencananya mereka mau bikin surprise *totuit!* *a la Cherrybelle* namun agak gagal. hehehe. Bahkan kartu ucapan baru dikeluarin dari kantong Gramedia dan baru dia tulis depan saya. "Pura-puranya elu nggak tau ya!", kata Ema.

Lanjut kerja... dan saya ngeliat satu kertas ucapan di bawah monitor. saya nanya Dyah,

Flo: Dyah, romantis banget sih pake tulisan ginian segala... cieee....
Dyah: Apaan ceu?
Flo: ini, kertas ucapan (sambil nunjukkin kertas kuning bertuliskan "happy bday Flo...")
Dyah: hah? bukan gue ceuuu!!! Gue ga segitunya kaliii... Dari gue sampe pagi-pagi tadi juga nggak ada
          yang kesini...
Flo: Ah becandaaa!!! trus siapa dong yang ngasih? Kapan naronya?

Dan hingga saat ini, belum jelas-jelas banget siapa yang nulis ucapan itu.

Anyway... i was so happy that day.... Nggak nyangka ternyata ada hadiah, ada (niatan untuk ngasih) surprise.... hadiahnya adalah sesuatu yang setiap harinya saya renggut dari mereka. Yea, cemilan. Mulai dari aneka ciki, keripik Padang, cokelat, sampai kopi jahe anget sari. catet tuh. hahaha.

Bahkan sepupu saya di UK sana sempat telfon dan ngucapin selamat ulang tahun. ternyata dia ingat :) Juga seorang teman baik yang kuliah di Semarang, telepon saya untuk bilang "DI HARI ULANG TAHUN LO INI GUE AKHIRNYA LULUS FLOOOOORRR!!!!". Dan ucapan dari temen-temen deket. uhui, seneng banget Alhamdulillah, banyak yang ngedoain... Hampir semuanya ngedoain agar cepet bertemu jodoh. amin YRA... :)

(bersama temen-temen Tefa... sayangnya 13 Februari tahun ini kita nggak bisa jalan bareng)

Am very grateful and blessed... untuk keluarga, teman, pekerjaan, dan semua yang saya punya. Alhamdulillah.... Kayaknya udah saatnya jadi lebih dewasa, jadi lebih meningkat ibadahnya, lebih wise tanpa (terlalu banyak) mengeluh, dan udah saatnya membuka hati. Ciyeeee.... hihihi :)


12 Februari, 2012

adiksi bernama novel



“Kamu itu terlalu banyak berkhayal, Flo!”.

Saya masih ingat betul sms itu dari seorang teman. Ketika itu dia Tanya, saya ada dimana, dan saya balas “di Gramed, baca novel gratis. Hehe”.



Saya memang addict baca novel, khususnya novel urban yang pake perasaan, cinta-cintaan. Heuheueheu… cewek banget ya?. Jamannya saya pengangguran, saya hobi banget mangkal di Gramedia buat baca 1 novel sampe kelar. Butuh sekitar 2,5 jam sampai selesai, sambil nyender di antara tumpukan buku lain. Biasanya saya jalan sendiri, karena semua orang yang saya ajak pasti akan mati kebosanan karena saya cuekin dan betah berdiri sambil baca.
 

Sekarang, untuk namatin satu novel aja butuh berhari-hari. Beli, tentunya. Hahaha.
 

Ada banyak novel yang ninggalin kesan buat saya. Sukses bikin saya ikutan jatuh cinta, senyum-senyum, tapi deg-degan karena konfliknya, sampe ikutan nangis….



Perahu Kertas, Dewi Lestari
 

I can say that… this is the best novel I’ve ever read! 

Tentang dongeng&lukisan cita dan cinta Kugy&Keenan.  Kugy, si pecinta dongeng, pengkhayal, cerdas, dan unik. Cita-citanya adalah menjadi juru dongeng. Namun kembali ke realita, bahwa sepertinya juru dongeng tidak menjanjikan materi. Keenan, siluman kampus, introvert, lukisan adalah hidupnya. Namun ia harus menuruti mau orangtuanya, dan mengubur mimpinya sendiri.

Kugy dan Keenan mesti berputar untuk menjadi sesuatu yang bukan mereka untuk menjadi diri mereka lagi. Mereka harus menjadi ‘orang lain’, untuk akhirnya mewujudkan impian masing masing. Ketika dorongan hidup akan kebutuhan materi, realitas,dan idealisme yang inginnya beriringan, tak bisa selalu sejalan.

Kesempatan. Itu yang selama bertahun-tahun tak mereka punya. Untuk saling jujur, untuk saling bicara. Ketika mereka merasa telah menemukan orang lain yang tepat. Mulai melupakan, walaupun nyatanya setiap ingin melupakan, saat itu juga mereka mengenang. 

Hingga akhirnya bertemu lagi, tertawa bersama lagi, menjadikan kata “sahabat” sebagai payung terakhir yang menaungi. Tapi mereka sadar kalau cinta terdalam mereka ada satu sama lain. Meyakini bahwa rasa sesungguhnya adalah ketika kamu diberikan, tanpa pernah&perlu memintanya. Once again, tanpa pernah dan perlu memintanya. Cinta yang akan menghampirimu, memberikanmu, dan memenuhimu. Tanpa kau minta. Ketika, Kugy bertunangan dengan Remy, dan Keenan kembali ke Bali untuk Luhde. Kugy & Keenan tidak lagi sendiri.

Novel ini luar biasa. S a n g a t.

***********

 Test Pack, Ninit Yunita

 foto: gagasmedia.net
Berkisah tentang Tata dan Rahmat Natadiningrat, sepasang suami isteri yang belum dikaruniai anak hingga tahun ketujuh perkawinan mereka. Hari-hari mereka yang seru dan menyenangkan kemudian diisi dengan kepanikan Tata karena tidak kunjung hamil. Hal ini akhirnya menjadi konflik di rumah tangga mereka yang (tadinya) adem-adem aja.

Poin pertama, menikah adalah karena kita mencintainya, karena ingin menjalani hidup bersama. Poin kedua, hubungan cinta (biasanya) menghasilkan keturunan. Lalu bagaimana jika poin kedua nggak (belum) bisa diwujudkan, apakah poin kesatu harus dilupakan?

Sesekali saya harus menahan airmata saya agar nggak netes di Gramedia yang banyak orang. Hehehe. Membayangkan ketika sudah menghabiskan 7 tahun yang menyenangkan dan super seru bersama-sama, tiba-tiba semuanya (hampir) berakhir karena belum ada keturunan. Complicated banget, karena anak kan pemberian Tuhan, kita hanya bisa ikhtiar. Akhirnya timbul banyak konflik, dan rumah tangga super seru itu di ujung tanduk. Sedih banget, karena mereka sangat cinta satu sama lain.

Pelajarannya adalah… Lo menikah karena memang lo menginginkan dia. Lo cinta dia dan berharap susah seneng lo lewati sama-sama. Lalu bagaimana jika anak –yang mana adalah takdir Tuhan dan kita nggak pernah tau- nggak kunjung datang di perkawinan lo? Haruskah selesai? Lalu kemanakah statement “lo ingin dia, lo cinta dia” itu? Penting banget nih dibahas dengan calon suami/isteri :)


 ******


 Antologi Rasa, Ika Natassa


Saya ambil novel ini tanpa tau bagaimana gaya tulisan penulisnya, tapi karena melihat nama Dewi Lestari dan Ninit Yunita tertulis di belakang novel. Tokoh utamanya adalah empat orang banker super sibuk, Keara, Rully, Harris dan Denise. Berkisah tentang cinta nggak kesampaian antara Harris ke Keara, Keara ke Ruly, Ruly ke Denise, Denise ke suaminya, dan Panji ke Keara. Bingung? Hehehe.

Ini novel tentang cinta. Tentang rumitnya perasaan mereka masing-masing terhadap orang yang dicintai. Dengan latar cerita yang “gaul” banget. Kerja gila-gilaan, cinta, seks, lust, nightlife. Ceritanya dituturkan lewat point of view Keara, Harris dan Ruly. Menggunakan berbagai kalimat dan istilah bahasa Inggris yang cocok banget memperkaya perbendaharaan kata, dan juga penggunaan kata yang oke banget. Lucu, seru, nakal dan ‘kena’!

Keara adalah cewek smart yang tahu betul cara memperlakukan cowok. Lumayan sedih, saat persahabatannya dengan Harris rusak karena dua sahabat kental itu making love saat mabuk. Kemudian saat Keara harus melihat orang yang dia cinta, Ruly, cinta sama orang lain. Juga Harris yang sedih karena Keara selalu sedih gara-gara Ruly. Serta kisah Keara dan cowok pelariannya yang (juga) memuja dia, Panji. Oh ya, satu dialog yang berbekas banget di otak saya, antara Panji dan Keara.

Panji: babe, BBM gue foto lo baru bangun, sekarang, ya?
Keara: Ih, Panji, apaan ah, nggak mau gue.
Panji: Gue janji nggak akan minta yang lain-lain kalau lo ngasih gue yang ini.
Keara: Okay fine, tutup dulu teleponnya, ya.
------
Panji: yang sebenarnya ingin gue bilang adalah ini… Lo tahu lagu Comfortable-nya John Mayer, kan? Gue akhirnya tahu apa makna lirik ‘no make up, so perfect’ itu, babe.”

Errrrrr.

Sayangnya, saya kurang bisa benar-benar ‘masuk’ ke dalam ceritanya. Ketika baca novel, kita akan memihak satu tokoh. Tapi, di novel ini saya nggak ingin memihak siapapun. Sayapun nggak menitikkan air mata, apalagi nangis. Oh ya, gara-gara novel ini, saya jadi doyan banget dengerin John Mayer! :))

 *********

“You do not write a novel for praise, or thinking of your audience. You write for yourself; you work out between you and your pen the things that intrigue you” (Bret Easton Ellis)

07 Februari, 2012

naik kereta ekonomi, seru juga!




Karena harganya yang murah dan merakyat, buat sebagian orang, kereta ekonomi jadi last option kalo emang nggak ada alternatif yang lebih baik. Panas, berisik, rawan copet, dan yang paling penting, lama. Ayo, ada yang mau nambahin?

Dari cerita beberapa temen yang rutin naik kereta ekonomi ke luar kota, naik kereta ekonomi itu (sepertinya) bikin sengsara. Terbukti dengan ketika saya sms begini.

Flora: Woi, lagi di Bekasi ya lo? Maen dong!
Dia: Besok aja ya Flo, gue pengen ngelurusin badan dulu…

Nah, apa hikmah dan intisari yang bisa kita petik dari fabel di atas? Iyak, betul, menempuh perjalanan naik kereta ekonomi sama saja dengan membiarkan tulang belulang serasa dilipet dalem map trus map nya diselipin di antara ketek. Ngepres dan lecek.

Okay. Lalu bagaimana ketika saya (akhirnya) merasakan naik kereta ekonomi?
Whoa.
Kayaknya bakal bombastis ya? Coba gitu siapkan mental anda agar kuat mendengar kenyataan bahwa… naik kereta ekonomi itu….
....
....

Seru juga.
Iya, I mean, gak jauh beda sama naik kereta bisnis.
Sekarang kereta api ekonomi sudah memberlakukan sistem nomor duduk seperti kereta bisnis dan executive. Jadi nggak ada lagi deh tuh yang namanya tiduran di koridor jalan atau di kolong bangku. Yaa boleh aja sih, kalo emang di dalem kereta api ada yang inisiatif main petak umpet dan gobak sodor.

Pengalaman naik kereta ekonomi saya yang pertama ini naik KA matarmaja, jurusan Pasar Senen – Malang dengan tarif Rp.51.000. Waktu tempuhnya pun mirip-mirip antara Jakarta – Timbuktu, 18 jam. Beneran mennn, 18 jam! Berangkat dari stasiun Pasar Senen jam 2 siang dengan cuaca ekstra hot (mirip sambel). Siap-siap kipas deh, dan kipanya mesti yang aduhai ya, bukan kipas souvenir kawinan yang anginnya malu-malu.

Terlalu banyak tukang dagang wara-wiri, mulai dari dagang kopi, nasi, baju batik, kupluk, pengamen dan lainnya. Nggak kuat iman, saya jadi malah belanja. Hehehe. Saya sengaja nggak banyak minum, biar nggak sering-sering kebelet. Tapi ujung-ujungnya, 2 jam sebelum sampai, saya malah cuci muka+sikat gigi di kamar mandi itu. Hehehe.

Saking banyaknya tukang dagang, saya jadi punya hobi baru, yaitu perhatiin intonasi dan cara si tukang dagang jualan. Dalam setengah jam, tukang dagang yang sama bisa mondar-mandir 3 kali. Lucunya, ada ibu-ibu yang jual banyak buah, mulai dari anggur, salak, manggis, pepaya, dan jeruk. Lalu dia mengucapkan jualannya dengan runut dan cepet, “anggur salak manggis pepaya jeruk manis seger”, gituuu terus ngomongnya. Sampe hapal banget, seperti akan keluar dalam soal ujian.

Urusan tidur juga lucu. Saya duduk sama temen-temen saya, Asmie, Kiki dan Septia. Berhubung Asmi dan Kiki perawakannya tinggi, mereka butuh space lebih buat meletakkan se-onggok kaki mereka. Karena emang temenan dan nggak canggung lagi, selama perjalanan kita heboh melakukan adegan tidur freestyle. Dari mulai kaki Kiki di kolong eh tau-tau kakinya ada di sebelah muka saya, sampe saya yang ngerasa bokong saya sudah membentuk lapisan alumunium saking pegelnya. Dan tidur dengan posisi jongkok dan nungging ternyata bisa dipraktekkan di atas kereta. Oh ya, pastikan yang di sebelah dan depan anda adalah temen sendiri. Nggak kebayang kan, kalo depan dan samping kita orang yang nggak dikenal. Tidur dengan cara demikian pasti memancing penumpang lain buat jorokin kita keluar lewat jendela sambil bilang “rasain lu!”.

Pas pulang, ketiga teman saya naik kereta Argo Bromo Anggrek. Saya pulang sendiri tanpa mereka naik ekonomi lagi sampai Semarang. Depan saya adalah dua orang ibu-ibu, dan owkai, saya harus lebih sopan dong. Dan perjalanan itu terasa membosankan dan menyebalkannnn, karena kaki saya harus tetap dibawah tanpa bisa nungging-jongkok-angkat kaki-kayang seperti waktu pergi.

Tapi… look at the bright side. Saya malah jadi kenalan sama orang yang duduk sebelah saya, seorang mahasiswa Paramadina asal Blitar. Yang akhirnya saya tawarin dia makan bakpau dan dia bilang “nggak ada racunnya kan mbak?”, “oh, enggak lah, tampangku alim gini masa ada racunnya. Enak kok itu, isi daging babi”. Lalu saya dihadiahi tatapan ilfil. hahaha.

Ada juga bapak-bapak yang -kalo gak salah- jualan rempeyek, keripik pisang dan keripik belut. Dia bilang “leli-ripik-enya-enak-lole-lole” dengan sangaaat cepat. Bengonglah saya. Sampe akhirnya saya nanya ke sebelah saya, si mahasiswa itu, “eh, bapak itu jualan apa sih?”. Dia bilang “lho, mbak nggak tau? Itu lho, beli keripik renyah enak buat oleh oleh!”. Hahaha. Kitapun ngakak. Pas pedagangnya lewat, kita mesem-mesem nahan ketawa, iya, ditahan, abis ibu-ibu depan saya ngeliat kita dengan pandangan aneh.

Jadi saudara, ternyata naik kereta ekonomi itu nggak se-merana itu kok. Bisa jadi alternatif transportasi buat liburan bareng temen-temen dengan budget ngepas. Paling asik kalo pergi rame-rame dengan nomor duduk berhadapan, jadi selama berjam-jam kita nggak perlu jaim atau rempong sama kelakuan orang yang duduk depan kita. jangan lupa pegang terus barang berharga ya, jangan lengah. Tapi tetep, naik kereta ekonomi (saat ini) sudah lumayan nyaman. Terasa wajar dan nggak “sebegitu parahnya”. So, markitnaketek, mari kita naik kereta ekonomi!


30 Januari, 2012

Bromo! (photos)












photos&texts: Flora Febrianindya


28 Januari, 2012

HelloBromo!





Boleh teriak? Boleh? Uwyeaaaaaa!!! Akhirnya kesampaian juga ke Bromo! 18 jam perjalanan dengan kereta ekonomi Matarmaja, Pasar Senen – Malang. Akhirnya saya nyampe Malaaang!!! Nyampeeee!!! Tiba di Stasiun Kota Baru Malang jam 8 pagi, langsung antri toilet stasiun buat sikat gigi-cuci muka. Perlu antri lumayan lama, hingga akhirnya bisa mencelupkan diri kedalam air. Ouchhh… lucunya mbah-mbah pemilik toilet. Ketika narikin bayaran, dia akan bertanya dengan suara pake toa: “TADI APA? BE*L??”. “iya bu”, jawab si pengguna wc dengan suara dipelan-pelanin seperti menutupi aib. “OOOOHHH BE*L…. BERARTI 2000 KALO BE*L…….!!!!!!”. Hancur sudah pencitraan si mas-mas necis yang masuk WC pake kacamata item.

Karena kita pergi menggunakan paket wisata, jadi soal penginapan dan transportasi, sudah ada yang atur. Saya pergi bareng Asmi, Kiki dan Septya, dengan total rombongan 60 orang. Dari stasiun Malang, kita jalan-jalan dulu ke pantai Balekambang, Malang, dan baru tiba di pemukiman Suku Tengger sekitar jam 11 malam.

Perjalanan menuju pemukiman suku Tengger ini agak bikin deg-degan. Malem, gelap, nggak bisa lihat apa-apa. Yang saya tahu, ada hutan dan jurang di kiri kanan jalan. Bapak driver Elf-nya bilang “hati-hati lihatnya, mbak.. kalau ada yang dilihat, santai aja ya…”. Beuh. Saya langsung meniduri mata saya, daripada lihat yang aneh-aneh. Ketika saya bangun lagi, ada banyak cahaya keemasan yang berkilat-kilat. Apa ya? Kok bagus banget? Saya penasaran, sambil lihat kanan-kiri (belagu… padahal aslinya serem juga), tapi itu pemandangan bagus banget. Perjalanannya, wow! Banyak banget tikungan tajam yang bikin otak berfikir… “ini dimana? Jangan-jangan gue diculik dan dilarikan ke kaki gunung!”. Bodoh sekali ya, kan memang sedang pergi ke gunung!


Setelah tidur 4 jam, kita dibangunin untuk siap-siap pergi ke Pananjakan. Saya tidur di homestay milik warga Suku Tengger. Rumahnya bagus, bersih, rapi dan lengkap. Seriusss, kamarnya enak, spring bed dengan bantal guling empuk, rumahnya ada tv, sofa, dapur, kamar mandi luas, nginep setaun juga nyaman lah! Udaranya dingin banget, dan saya baru sadar, jaket saya rusak resletingnya. Udah dingin seada-adanya, saya dobel celana, dobel kauskaki, dan memberdayakan semua jilbab buat jadi syal. Bodo lah kalo warna nggak matching, atau terlihat aneh.
Jam 4 pagi, tempat parkir di pemukiman suku Tengger sudah banyak orang. Dari sana, kita naik mobil Jeep menuju Pananjakan. Nggak sampai 30 menit kita sudah sampai. Sudah ada deretan mobil Jeep lain di parkirannya. Kurang beruntungnya, baru beberapa langkah jalan, sesak napas saya kambuh. Untungnyaaaa… jalannya nggak jauh dan saya bisa nutupin muka grogi saya. Eh, sesek napas kok grogi. 
 
Saya berdiri di pagar pembatas. Menghadap hamparan kabut yang menutupi gunung Bromo, gunung Batok dan gunung Semeru. Rasanya Subhanallah banget berdiri disitu, membayangkan saya akan melihat lukisan alam yang sebelumnya cuma bisa saya lihat di kalender gratisan. Pikiran saya:  “Get ready, Flo… you will see one of the greatest scenery on earth, in a minute!”. Tapi… setelah ditunggu… Sunrise nya nggak muncul. Hanya hamparan kabut di depan mata saya. Hmm… tapi nggak apa-apa. Bisa sampai disini aja, saya sudah bersyukur banget. Mungkin ini artinya, saya harus balik kesini lagi lain waktu!


Selesai di Pananjakan, kita balik lagi ke parkiran untuk ke gunung Bromo. Saya sempet curi waktu buat makan bakso malang. Ketika kuah bakso yang panas mengepul dituang ke mangkok, dalam hitungan menit, kuahnya udah anyep. Hahaha. Pas mau bayar. Saya: “Pak, piro? Pangsite papat, tahune telu, mine siji”. (sadeyyysssss bahasa gueeee). “ro ngewu mbak!”, kata masnya. Hah? Dua rebu? Ahhh inilah yang saya suka dari Jawa Timur…. Harga makanan ‘pinggir’nya ramah di kantong!



Dari situ, lanjut kita ke Bromo. Perjalanannya? Mantep! Banget! Pemandangannya pun super keren. Beberapa kali kita bilang ke mas Dharma, sang driver Jeep yang agak tampan (eh?) supaya hati-hati. Tapi dia santai banget bawa mobilnya, ibarat lagi lewatin tol JORR jam 12 malem, padahal, kita lagi ada di jalan menanjak menurun menikung dengan sisi  jurang dan tanah rawan longsor. Mas Dharma ini sangat terbuka ditanya apapun tentang Bromo dan Tengger. Saking sopannya, setiap kali kita tanya sesuatu, dia akan jawab sambil nengok menghadap wajah kita, tapi tetap sambil nyetir. Luar biasa. 


Jalanan menuju Bromo nggak semuanya mulus. Bahkan ada beberapa titik dimana ada bagian sisi jalan yang ‘mencelos’ alias longsor dan bolong. Mas Dharma sih santai, tapi jantung kita udah pada joget TNI. Ketika AKHIRNYA perjalanan roller coaster itu berakhir di hamparan pasir, perjalanan malah makin seru karena banyak bagian pasir yang ‘ambles’. Seru banget!

 Mas Dharma, itu tuh yang jaket merah


Dari parkiran, saya jalan kaki menuju kaki gunung. Saya jalan sendirian, dan nggak tahu temen-temen saya dimana. Di titik ini, saya menemukan the best part of this trip. Saya selalu suka bagian ketika saya jalan kaki sendirian…. Jalan… lurus…. Sendiri…. Entah kenapa, dimanapun saya jalan kaki sendirian dikelilingi tempat yang indah, saya seperti lagi ‘ngasih makan’, dan manjain hati saya sendiri. Nggak mikirin siapapun, apapun, berkata apapun…. Cuma jalan kaki, dan momen itu cukup untuk jujur-jujuran. I use my heart, that always give me a clearer view than the naked eyes and the logic can do :) Ahhh… susah dideskripsiinnya :)


Sampai di kaki gunung, eh ketemu Asmi, Kiki, Septhya dan Angga lagi. Hihi. Jalannya pasir menanjak, dengan banyak lubang dan banyak kuda berlalu lintas beserta kotorannya menghampar. Kalo itu di Jakarta, mungkin udah ada lampu merah khusus kuda kali yah. Di tengah jalan, saya ditawarin naik kuda sampai bawah tangga menuju kawah, harganya Rp.20.000. lucu banget, nanjak sambil enjot-enjotan di atas kuda. Akhirnya sampai juga di kawah gunung, dengan agak-agak dibantuin Angga yang standby di depan saya. Harus super hati-hati jalan di pinggir kawah, karena nggak ada pembatas apapun. Saya cuma sekitar 15 menit disitu, karena, ngeri cing! 

sarung tangan sebelah kanan tak tau dimana rimbanya...



Buat turunnya, banyak yang ngesot di pasir. Iya, ngesot, melorot turun. Ada juga yang ala-ala main ski di salju, dengan tumpuan tumit berdiri merosotin pasir. Itu keren banget kelihatannya. Saya sok mau coba. Udah duduk di atas pasir, siap berdiri buat merosot turun, ehhhh, saya malah ngeri. Tinggi banget! Akhirnya balik lagi ke tangga dan jalan turun seperti biasanya. Hehe…



Di perjalanan pulang, mas Dharma cerita soal totalitas warga Suku Tengger dalam menjaga alamnya. Hampir nggak ada warganya yang pindah ke kota lain atau malahan  jadi orang ‘Jakarte’, semuanya akan kembali lagi membangun kampung. Menurutnya, alam Bromo ini luar biasa kaya, nggak ada habisnya mencari makan disini. Kenapa harus cari uang di luar?


Jalanan menuju Bromo pun dibuat swadaya oleh masyarakatnya. Baru akhirnya, ada pihak pemerintah yang membantu perbaikan jalan. Di sana, hanya orang lokal Tengger yang bisa bangun homestay ataupun punya Jeep sewaan, itupun jumlahnya terbatas. Dari tarif sewa mobil/rumah yang didapat, selalu ada sekian persen yang harus diberikan pada Paguyuban.
Oh ya, mereka nggak mengizinkan investor/orang luar membangun asetnya di sana. Sungguh cara yang cerdas supaya warga asli nggak diinjak-injak di tanahnya sendiri! Mereka yang membangun dan menjaga. Kontras ya sama daerah lain, yang di tanah kelahirannya sendiri pun, akhirnya harus takluk dengan gila nya pembangunan dari kantong orang asing. Dimana orang harus jadi pengangguran, PRT, dan buruh dengan gaji prihatin, di tanahnya sendiri, yang sudah jadi milik “orang lain”. Edan.





By the way… perjalanan ini bikin saya senangsekalih… walaupun saya kecewa dengan pihak organizer, yang tidak total meng-organize. Yang seharusnya kita pergi ke 4 lokasi, mengerucut jadi Cuma 2 tempat aja. Alasannya, karena lokasi Coban Pelangi yang nggak bisa dilewati mobil elf (memangnya… nggak survey dulu?). Atau lokasi pasir berbisik yang dibilang kurang kondusif. Yang saya rasa sih, memang terlalu banyak waktu yang kebuang percuma buat hal-hal yang nggak perlu. Plus, ada kekacauan bahkan saat duduk di kereta. Oh Mannn!! They are not that ready and serious to handle their clients. Pergi sendiri tanpa “jasa” ini rasanya akan jauh lebih murah dan NAMPOL. Hehehe :). But as a friend, they are, the organizer team, such a great buddies for me :)

But I thank God; finally I have arrived at Bromo. Feel the ambiance, the magical scenery and creature, feed my eyes and also my heart and soul with an unexplainable things and feelings…. That was priceless. Alhamdulillah…
 :)
:)


*foto-foto diambil dari kamera sendiri, ponsel, punya Riefky, Dimas, dan dokumentasi Smartrip Community